
Saat ini Adam dan ibunya sudah duduk di salah satu restoran yang ada di dalam mall. Dari tadi Bu Anita perhatikan ada yang aneh dari wajah anaknya itu. Adam terlihat muram. Sepertinya ada yang membuat suasana hatinya buruk.
“Apa ada masalah?” tanya Bu Anita.
“Masalah? Maksud ibu?” tanya Adam tidak mengerti.
“Kenapa wajahmu tiba-tiba muram? Apa ada yang mengganggu pikiranmu saat ini?” tanya Bu Anita lagi.
“Oh ini, tidak. Tidak ada. Aku baik-baik saja. Itu makanan kita sepertinya sudah datang,” jawab Adam mengalihkan pembicaraan. Ia berusaha menutupi perasaannya. Padahal memang benar, saat ini ia tengah mengingat kejadian yang baru saja dia lihat di supermarket tadi.
Bu Anita pun tak melanjutkan pertanyaannya. Beliau fokus saja pada makanan yang telah terhidang di atas meja. Adam juga mulai ikut makan dan berusaha menyingkirkan Emilia dari pikirannya.
Baru saja ia hendak melupakan kejadian di supermarket tadi. Sekarang ia malah disuguhkan oleh pemandangan baru lagi. Ia melihat ada 4 orang masuk ke dalam restoran yang sama dengannya. Ada Serra dan kekasihnya berjalan beriringan, disusul Emilia dan Ian di belakang mereka. Mereka nampak seperti double date.
Adam menghentikan aktivitas makannya. Dia merasa jengah melihat mereka yang kini duduk agak jauh di seberangnya. Apalagi ia lihat Emilia duduk berhadapan dengan Ian. Hatinya makin terbakar api cemburu. Ingin rasanya ia menghampiri dan membubarkan mereka. Tapi dia sadar, siapa dia tiba-tiba melakukan itu? Salah sendiri kenapa dulu meminta Emimia menjauhinya.
“Aku ke toilet sebentar, Bu,” kata Adam yang diangguki oleh Bu Anita.
Adam segera pergi ke toilet. Ia merasa gerah terus menerus melihat Emilia bersama Ian. Ia ingin mencuci wajahnya agar hatinya terasa agak dingin. Yang panas hati kenapa yang dicuci wajah? Entahlah. Itulah anehnya Adam.
Sementara itu Emilia dan yang lain sedang sibuk memilih makanan yang ada di daftar menu. Mereka belum menyadari keberadaan Adam dan ibunya disitu.
“Pesananku samakan saja dengan Kak Serra, ya,” ucap Emilia seraya berdiri dari duduknya.
“Baiklah. Kau mau kemana?” tanya Serra yang melihat Emilia tengah berdiri.
“Aku ke toilet sebentar. Titip tas ku ya, kak.”
“Oke,” sahut Serra seraya mengacungkan jempolnya.
“Kau tidak ikut? Biasa wanita suka ke toilet beramai-ramai,” tanya kekasih Serra.
“Tidak. Aku sedang tidak ingin ke toilet. Lagipula buat apa ke toilet ramai-ramai? Memangnya mau demo disana,” jawab Serra dengan ketus. Sementara kekasihnya dan Ian hanya terbahak mendengar jawaban Serra.
Emilia yang sedang menuju ke toilet tak pernah menyangka bahwa ia akan bertemu lagi dengan Adam. Ia pun merasa bingung kenapa ketika mereka semakin ingin menjauh tapi jadinya malah selalu bertemu. Emilia sudah berada di depan pintu toilet wanita. Ia menatap Adam lalu dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Aku tidak menyangka secepat itu kau menerima pria lain,” sindir Adam pada Emilia.
“Apa maksudmu bicara seperti itu?” tanya Emilia dengan ketus.
“Cih, masih pura-pura rupanya. Kalian kakak adik sama saja ternyata. Sama-sama suka berpura-pura,” jawab Adam yang membuat kening Emilia berkerut. Ia benar-benar tak mengerti maksud Adam.
“Sudah aku katakan berkali-kali, jangan bandingkan aku dengan siapapun!”
“Oh ya? Tapi kelakuan kalian sama saja. Dulu kembaranmu selingkuh dengan mantan sahabatku, sekarang kau malah dekat dengan asistenku.”
Mendengar jawaban Adam barulah Emilia mengerti. Adam pasti sudah melihatnya dengan Ian tadi. Ini pasti salah paham. Ia tau betul bagaimana sifat Adam.
“Jadi ternyata ini soal Ian? Kau cemburu aku jalan dengannya? Apa hakmu untuk cemburu? Kau yang memintaku menjauh darimu kan? Aku turuti maumu. Kalau kau bisa memeluk wanita lain sesuka hatimu, kenapa aku tidak?”
“Aku sudah tidak ada urusan denganmu. Aku rasa tidak ada salahnya aku menjalin hubungan dengan asistenmu,” lanjut Emilia.
Emilia sengaja memanas-manasi Adam. Ini kesempatannya untuk membalas perbuatan Adam kemarin. Dia tidak tau saja dari tadi Adam sudah terbakar api cemburu. Saat Emilia hendak pergi masuk ke dalam toilet, Adam dengan cepat mengikutinya dari belakang. Tak hanya sampai disitu, Adam bahkan mengunci pintu toilet dari dalam.
“Ap-apa yang kau lakukan? Kenapa kau ikut masuk? Ini toilet wanita,” tanya Emilia dengan terbata. Ia melihat wajah Adam yang merah karena menahan marah.
Adam tak menjawab. Ia menarik tangan Emilia lalu menghimpit badannya ke dinding. Emilia sangat terkejut dengan perlakuan Adam. Sekarang posisinya sudah berada dalam kungkungan Adam.
“Adam, apa yang kau lakukan? Jangan macam-macam, ya! Aku bisa teriak sekarang,” ancam Emilia dengan gugup sambil membuang wajahnya ke samping. Ia tidak sanggup melihat wajah Adam yang sudah berada sedekat itu dengannya.
“Dengarkan aku!” kata Adam tepat di telinga Emilia. Jarak mereka terlalu dekat hingga hembusan nafas Adam yang hangat terasa di telinganya.
“Jangan sekali-sekali kau berani menggertakku! Aku tidak suka kau perlakukan seperti tadi. Apa kau sedang berusaha memanas-manasiku? Hmmm?” kata Adam dengan pelan namun penuh penekanan.
Adam dapat merasakan aroma harum dari tubuh Emilia yang tercium di hidungnya. Itu membuatnya menggila. Secara tiba-tiba ia menggigit daun telinga Emilia sehingga membuat Emilia merinding.
“Adam, hentikan! Aku benar-benar akan berteriak kalau kau tidak mau melepaskanku!”
Emilia berusaha mendorong Adam tapi kedua tangannya malah dihimpit kedua tangan Adam di dinding. Emilia tau dia tidak akan kuat melawan Adam. Jalan satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah berteriak minta tolong.
“Tolong.....hmmmmpppptttt....”
Belum sempat Emilia berteriak dengan keras, Adam sudah lebih dulu membungkam Emilia dengan bibirnya. Sudah dari lama ia menginginkan ini. Sekarang dia tidak bisa mengontrol keinginannya lagi. Apalagi saat ini emosinya sedang tidak stabil. Karena itu ia melampiaskan emosinya pada Emilia.
Emilia berusaha keras mendorong Adam. Tapi usahanya gagal. Adam terus memperdalam ciumannya hingga ia sadar Emilia sudah mulai kehabisan nafas. Adam memundurkan wajahnya. Ia melihat wajah Emilia sudah sangat merah seperti tomat waktu itu. Entah karena sedang marah atau sedang malu.
Emilia pikir Adam akan menyudahinya, tapi ternyata Adam kembali mendekatkan bibirnya. Kali ini ia mengecup bibir Emilia dengan sangat lembut selama beberapa detik. Kemudian ia menempelkan keningnya ke kening Emilia.
“Itu hukuman dariku karna kau berani memanas-manasiku seperti tadi. Jika kau ulang lagi, aku pastikan kau akan mendapat yang lebih dari ini. Kau mengerti, hmmm?” kata Adam dengan nafas yang menderu.
Bagai terhipnotis, Emilia malah mengangguki perkataan Adam. Padahal tadi ia ingin sekali marah pada Adam karna menciumnya tiba-tiba. Tapi tubuhnya bereaksi lain. Ia pun bingung dengan kepalanya yang tidak bisa dikontrol dan mengangguk begitu saja.
Adam menatap kedua bola mata Emilia. Tatapan itu masih sama seperti saat pertama kali mereka bertemu. Kenapa rasanya ia tak ingin jauh dari Emilia? Apa masih ada rasa sayang ini untuknya?
Suara dari luar menyadarkan mereka yang terhanyut dengan pemikiran masing-masing. Adam melepaskan Emilia lalu segera membuka pintu toilet yang dikuncinya, kemudian ia keluar tanpa bicara apa-apa lagi dengan Emilia.
Emilia masih mematung di tempatnya. Beberapa detik kemudian ia baru sadar kalau Adam sudah menciumnya. Ia pun memegang bibirnya.
“Bodoh! Kau bodoh, Emilia! Kenapa kau membiarkannya mengambil ciuman ketigamu lagi?” teriak Emilia pada dirinya sendiri.
Adam ternyata masih berdiri di luar pintu. Ia dapat mendengar teriakan Emilia. Bibirnya terlihat melengkung membuat senyum segaris.
Bukan yang ketiga, Emilia. Tapi keenam. Aku sudah mencuri yang ketiga, keempat dan kelima saat di rumah sakit. Dan aku ingin aku satu-satunya pria yang merasakan bibirmu.
Adam bersandar pada pintu toilet yang tertutup. Terlihat beberapa kali ia menghentakkan kepala belakangnya ke pintu.
Ada apa sebenarnya dengan perasaanku? Kenapa aku tidak bisa menahan perasaanku padamu, Emilia? Apakah benar masih ada rasa sayang ini padamu? Entahlah, aku sendiri tidak yakin dengan perasaanku. Setelah pengkhianatan yang Emelda lakukan padaku, aku takut terluka lagi jika nantinya aku terlalu mencintaimu. Aku belum siap dikhianati lagi.