
Hari yang paling dinanti oleh dua insan yang sedang jatuh cinta ini pun tiba. Hari dimana mereka akan saling mengikrarkan janji setia untuk terus bersama mengarungi bahtera rumah tangga.
Ian dan Alyssa telah sepakat memilih hotel berbintang lima milik keluarga Adam sebagai tempat untuk melangsungkan pernikahan. Ballroom hotel yang luas itu sudah disulap seperti taman bunga dengan warna biru muda sebagai warna yang mendominasi. Dekorasi pelaminan terlihat sangat mewah dengan hiasan bunga-bunga dan lampu-lampu yang gemerlapan.
Hidangan tampak tersusun rapi dengan berbagai macam menu makanan. Para pelayan terlihat memakai seragam yang sama, siap menjalankan perintah dengan sebaik mungkin.
Para tamu mulai berdatangan memenuhi ruangan. Terlihat Emelda dan suaminya, Darius, serta Valencia juga ada disana. Bahkan Serra dan Doni juga ikut dia undang. Tamu-tamu lain yang berasal dari rekan bisnis Adam dan Ian juga banyak yang berdatangan. Tamu-tamu dari kalangan dokter yang merupakan rekan sejawat Alyssa dan ayahnya juga sudah memenuhi tempat dimana mereka akan melangsungkan pernikahan.
Di salah satu kamar hotel, Ian sedang berdiri menghadap cermin melihat dirinya yang sudah terlihat sangat gagah dan tampan dengan balutan jas pengantinnya. Ia baru saja selesai dihiasi oleh seorang makeup artist.
Sebentar lagi aku akan menjadi seorang suami untuk Alyssa. Dia pasti terlihat sangat cantik hari ini.
Ian membayangkan Alyssa dengan balutan gaun pengantin hingga membuat senyum melengkung di bibirnya.
Tok tok tok.
Suara pintu diketuk. Saat Ian membukanya, ia mendapati Adam berdiri disana. Ia pun mempersilahkan Adam masuk ke dalam.
“Kau sudah siap? Sebentar lagi acaranya akan dimulai,” tanya Adam.
“Siap, Tuan,” jawab Ian singkat, padat, jelas dan penuh keyakinan.
Adam terkekeh. “Kau pasti grogi, ya? Kau terlihat tegang sekali. Santai sedikit. Setelah selesai mengucapkan janji pernikahan, pasti kau akan bisa bernafas lega,” kata Adam menasihati.
“Sedikit, Tuan. Hanya sedikit grogi, tapi bisa saya atasi,” sahut Ian. Lalu Adam hanya manggut-manggut.
“Tuan, sebelumnya saya ingin mengucapkan terimakasih banyak karena sudah banyak berkontribusi dalam acara pernikahan saya dan Alyssa. Terimakasih juga atas kebaikan Tuan dan keluarga selama ini. Saya tidak bisa membalas apa-apa selain bekerja dengan baik dan giat di perusahaan Tuan,” ucap Ian dengan tulus.
“Sudahlah, tidak perlu begitu. Kau sudah ku anggap seperti adikku sendiri. Aku hanya minta kau jaga nama baik keluarga Smith dengan baik. Setelah ini, jadilah suami yang baik dan bertanggung jawab. Kau harus pintar membagi waktu antara urusan perusahaan dan rumah tangga nanti.” Lagi-lagi Adam kembali menasihati Ian.
“Baik, Tuan. Semua nasihat Tuan akan selalu saya ingat. Hmmm...Tuan, apa boleh saya memeluk, Tuan?” tanya Ian dengan ragu.
“Tidak. Hanya Emilia dan ibu yang boleh memelukku,” tolak Adam.
Hah? Ian terkejut.
Tapi kemudian Adam tergelak lalu memeluk Ian lebih dulu. Ditepuk-tepuknya punggung Ian beberapa kali lalu ia pun melerai pelukan itu.
“Sudah, jangan kelamaan. Kau sudah ditunggu di bawah. Ayo kita turun sekarang!” ajak Adam.
Ian pun mengangguk. Matanya sudah mulai berkaca-kaca. Ia merasa sangat bahagia diperlakukan seperti seorang adik oleh Adam.
***
Adam dan keluarganya sudah duduk di kursi paling depan khusus keluarga. Begitu juga dengan keluarga Ian. Sementara di atas pelamin sudah ada Ian dan Alyssa yang sebentar lagi akan mengucapkan janji pernikahan.
Kemudian dengan penuh khidmat mereka berdua saling bersumpah setia untuk selalu bersama dalam suka dan duka selama mengarungi bahtera rumah tangga. Setelah itu mereka saling bertukar cincin sebagai tanda mereka telah resmi menjadi sepasang suami istri.
“Sekarang Tuan boleh mencium istri Tuan,” kata pria paruh baya yang menikahkan mereka.
Ian terkejut. Eh, cium? Di depan orang banyak begini?
Tiba-tiba Ian jadi panas dingin sendiri. Ia kembali mengingat saat pernikahan Adam dulu, Adam mencium bibir Emilia sekilas. Kemudian Ian melihat Alyssa yang tampak malu-malu di depannya.
Apa harus cium disitu? Di kening boleh tidak, ya? Tanya Ian dalam hati.
“Sayang, kenapa Ian diam saja? Apa dia gugup?” bisik Emilia pada Adam yang melihat Ian hanya diam memperhatikan pengantin wanita di depannya.
“Entahlah. Tapi pas acara lamaran, aku melihat mereka hampir berciuman,” jawab Adam.
“Hmmm...sepertinya sih dokter itu yang maju duluan,” jawab Adam dengan santai.
Sementara Emilia sampai menutup mulutnya dengan sebelah tangannya karena tak menyangka Alyssa ternyata seagresif itu.
Di atas pelamin, Ian masih bingung harus bagaimana. Yang jelas saat ini ia sangat gugup sekali jika harus mencium Alyssa di depan orang ramai. Sementara Alyssa sudah memberi kode dengan mengangguk agar Ian segera melaksanakannya.
Melihat Ian sama sekali belum ada tanda-tanda akan melakukannya, akhirnya Alyssa berinisiatif sendiri menempelkan bibirnya pada bibir Ian dengan cepat.
Cup.
Para tamu undangan pun bertepuk tangan menyaksikan kedua pengantin.
“Lihat kan, aku tidak bohong,” kata Adam pada Emilia.
“Iya, Sayang. Kau benar. Dokter Alyssa yang maju duluan,” sahut Emilia dengan ekspresi terkejutnya.
***
“Kenapa kau menekuk wajahmu begitu?” tanya Ian yang duduk di pelaminan di sebelah Alyssa.
“Masih kesal sama Kakak. Masa harus aku duluan yang cium Kakak?” jawab Alyssa dengan bibir yang sudah merengut kesal.
“Kan aku tidak suruh cium. Kau saja yang selalu inisiatif duluan,” kata Ian sambil terkekeh.
“Kak Ian ihhhhh.....”
Bisa-bisanya dia bilang begitu. Bikin aku tambah malu saja. Gerutu Alyssa dalam hati.
“Maaf, maaf. Tadi aku benar-benar gugup kalau di depan orang banyak. Tapi kalau sudah di kamar, aku tidak akan gugup lagi.”
Alyssa sontak menoleh ke arah suaminya itu dengan wajah memerah, lalu Ian mengedipkan sebelah matanya seolahbsedang menggoda istrinya.
Apa dia sedang merayuku? Batin Alyssa.
“Kakak serius?” tanya Alyssa malu-malu.
“Mungkin,” jawab Ian sambil terkekeh.
Alyssa berdecak lalu kembali cemberut. Ian suka sekali melihat ekspresi Alyssa seperti itu. Tanpa sadar ia mengelus-elus rambut Alyssa dengan perlahan lalu mengecup puncak kepalanya dengan lembut.
Alyssa yang tadinya kesal, jadi luluh dengan perlakuan Ian yang manis seperti itu. Seulas senyum pun kembali menghiasi wajah cantiknya.
Emilia yang sedang menikmati hidangan di atas meja sempat melihat tingkah menggemaskan dari Ian dan Alyssa. Ia pun mendekat ke arah Adam yang duduk di sebelahnya.
"Sayang, lihatlah mereka. Mereka lucu sekali," bisik Emilia.
"Kau yang lebih lucu di mataku, Sayang," ucap Adam sambil menyelipkan anak rambut Emilia ke telinganya.
"Aku kan sedang membahas mereka, kenapa jadi aku yang lucu?"
"Aku malas membahas orang lain. Aku maunya membahas dirimu saja."
"Ih....kau ini. Sempat-sempatnya merayuku."
Adam hanya tersenyum menanggapi istrinya lalu meraih tangan Emilia dan mengecupnya dengan lembut.