
Adam menatap Ian dengan seksama. Ia melihat ada kekhawatiran di wajah Ian. Ia teringat perkataan Emilia di mall kemarin. Sepertinya mereka memang menjalin sebuah hubungan. Sementara itu Ian masih menunggu tanggapan dari Adam.
“Apa kau sedang pamer padaku bahwa kau mengkhawatirkan Emilia?” tanya Adam tiba-tiba.
Hah? Apa maksud anda, Tuan? Jangan bilang anda masih cemburu dengan saya.
“Maaf Tuan, saya tidak bermaksud begitu. Tadi sahabat Nona Emilia datang kesini ingin bertemu Tuan. Dia mengatakan bahwa Nona Emilia tidak pulang ke kontrakan tadi malam dan tidak datang bekerja hari ini. Dia pikir Nona Emilia ada bersama Tuan mengingat dulu dia pernah menginap di apartemen Tuan,” kata Ian berusaha menjelaskan agar Adam tidak salah paham.
“Sudah ku katakan, aku tidak mau lagi berhubungan dengan apapun yang menyangkut Emelda. Termasuk Emilia.”
Perkataan Adam berhasil membuat Ian terkejut. Apa benar Tuannya ini sudah tidak mempedulikan Emilia lagi?
“Dan kau, fokuslah pada pekerjaanmu. Aku disini membayarmu untuk bekerja padaku membangun perusahaan ini, bukan untuk mengurusi hal-hal yang tidak penting seperti itu,” tambah Adam lagi.
“Baik, Tuan. Maaf sudah mengganggu waktu anda, Tuan. Saya permisi dulu.”
Ian tak ingin berdebat lagi dengan Adam. Ia membungkukkan badannya sedikit lalu keluar dari ruangan Adam. Setelah dari sana Ian pun masuk ke ruangannya sendiri dan duduk di kursinya. Ia sebenarnya kecewa dengan sikap Adam. Ia tak menyangka Adam akan secuek itu saat mendengar Emilia hilang.
Kemana perginya Emilia,ya? Apa mungkin dia menemui Emelda? Atau jangan-jangan dia kembali ke kotanya? Setahuku dia tidak punya siapa-siapa disini selain Emelda. Aku harus selidiki ini. Maaf Tuan Adam, kali ini aku rasa aku harus menyelidiknya karena Emilia perempuan yang baik. Aku melakukan ini juga karena tidak ingin anda menyesal nantinya sebab terlambat menolong Emilia seperti waktu dia masuk rumah sakit dulu.
Ian meraih handphone di saku jasnya. Ia tampak menelepon seseorang.
“Hallo. Ini aku. Aku ingin kau mencari tau keberadaan seorang wanita. Aku akan mengirimkan foto dan biodata lengkapnya. Cari dia sampai ketemu!”
***
Sementara itu di kamar belakang apartemen Darius, Emilia terlihat mulai sadarkan diri. Ia membuka matanya perlahan. Kepalanya masih sedikit pusing. Ia mencoba mengingat apa yang sudah terjadi padanya. Ketika berhasil mengingatnya ia dengan cepat bangun dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
“Tempat apa ini? Aku dimana? Darius. Pasti Darius yang membawaku kesini.”
Kemudian ia melihat tas selempangnya masih ada di atas ranjang. Ia berniat untuk mengambil handphone-nya dan menelepon seseorang. Sayangnya handphone-nya mati karena sudah lama tidak di-charge.
“Bagaimana ini? Sebenarnya aku ada dimana? Aku harus cari cara keluar dari sini.”
Emilia baru saja bangkit dari ranjang dan hendak berjalan mendekati pintu. Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka dari luar. Ternyata Darius yang datang. Dia datang membawa nampan berisi makanan dan sebotol air mineral kemasan.
“Kau sudah bangun rupanya? Baru saja aku ingin membangunkanmu untuk makan,” kata Darius tanpa rasa bersalah.
“Kenapa aku bisa ada disini? Dimana ini sebenarnya? Aku mau pulang,” kata Emilia dengan ketus.
Darius tidak mempedulikan Emilia. Ia berjalan melewati Emilia dan meletakkan nampan itu di atas meja kayu kecil disana.
“Makanlah dulu. Kau bahkan melewatkan sarapanmu,” kata Darius dengan lembut.
“Aku tidak butuh makanan. Aku mau keluar dari sini.”
Emilia tidak ingin melewatkan kesempatan emasnya. Ia melirik pintu yang masih terbuka. Ia pun dengan cepat ingin berlari keluar. Sayangnya Darius dapat membaca gerak-geriknya. Dengan cepat Darius menangkap satu tangan Emilia. Lalu ia mengeluarkan borgol dari dalam saku celananya dan memborgol satu tangan Emilia. Borgol itu ia kaitkan pada ranjang yang dipannya terbuat dari besi. Dengan begitu Emilia tidak bisa lari kemana-mana.
“Lepaskan aku!” teriak Emilia.
“Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Adam. Urusi urusanmu sendiri kalau kau bermasalah dengannya. Jangan jadi pengecut seperti ini!”
“Diam! Jangan menghinaku atau aku akan berbuat kasar padamu! Kau diam saja disini dan ikuti rencanaku.”
“Aku bukan Emelda. Aku Emilia. Aku tidak mau kau atur sesuka hatimu. Aku tidak mau mengikuti rencana jahatmu. Jadi lepaskan aku sekarang!”
“Kalau kau mau lepas, bujuk Adam agar mengembalikan semua saham yang dia tarik. Maka aku akan langsung melepaskanmu.”
“Sudah kubilang aku tidak ada hubungan apapun dengan Adam.”
“Kalau kau masih keras kepala berarti kau harus tetap berada disini sampai Adam menuruti keinginanku.”
“Cih, dasar pengecut! Kau licik! Pantas saja Emelda lebih memilih Adam dan meninggalkanmu.”
Plaaakkkk.
Sebuah tamparan dari Darius mendarat di pipi Emilia. Tampaknya itu sangat sakit. Terasa panas di pipinya. Pipinya nampak memerah. Matanya tiba-tiba memanas karena menahan airmatanya. Dari sudut bibirnya pun mengalir darah. Seumur hidup baru kali ini dia ditampar oleh seorang pria.
Darius tidak berniat sekasar itu pada Emilia. Dia terlalu terbawa emosi. Perkataan Emilia berhasil membuatnya tersinggung.
“Jangan paksa aku berbuat kasar padamu, Emilia. Cukup turuti perintahku saja. Tidak akan ada yang bisa menolongmu kecuali keputusan Adam.”
Setelah mengatakan itu Darius berniat pergi meninggalkan Emilia. Langkahnya tertahan sekejap lalu ia menyampaikan sesuatu pada Emilia tanpa membalikkan badannya.
“Dan kalau kau penasaran dengan Emelda, dia sudah tau aku menyekapmu disini. Dia bahkan mendukungku. Jadi aku harap kau juga bersikap seperti Emelda. Kau harus mendukung rencanaku.”
Darius pun keluar dan kembali mengunci pintu. Ia meninggalkan Emilia dengan rasa sakitnya. Bukan hanya rasa sakit di pipi, tapi juga luka di hati. Ia merasa sangat malang. Dirinya hanya dijadikan tawanan oleh Darius. Yang lebih miris lagi, saudara kandung yang memiliki ikatan darah dengannya justru tidak berpihak padanya.
Kalau aku bisa memutar balik waktu, aku akan memilih menetap di tempat kelahiranku agar aku tidak pernah bertemu denganmu, Adam. Dengan begitu aku juga tidak akan pernah tau hubunganmu dengan Emelda dan tidak pernah berurusan dengan Darius dalam keadaan seperti ini. Dan aku juga tidak perlu mencintaimu jika itu hanya membuatku menderita. Aku benci mengenalmu, Adam.
Emilia tak kuasa membendung rasa sakitnya. Ia menangis sendiri di kamar itu sampai sesenggukan. Seberat inikah cobaan hidupnya?
Di sisi lain Adam yang berada di ruang kerjanya tanpa sengaja menyenggol cangkir berisi kopi yang ada di mejanya hingga cangkir itu jatuh ke lantai dan pecah berderai.
Praaanngggg.
Adam terkejut lalu melihat cangkir itu sudah pecah terbelah. Entah kenapa tiba-tiba muncul kekhawatiran dari dalam dirinya tentang Emilia. Ia memegang dadanya yang sedang berdenyut hebat itu.
Emilia. Kenapa aku tiba-tiba teringat padanya? Apa terjadi sesuatu yang buruk padanya? Atau saat ini dia sedang mengingatku? Tadi Ian bilang dia menghilang tanpa kabar. Apa yang terjadi padanya?
Oh, ****! Kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkannya? Ada apa dengan perasaanku? Dimana kau sekarang Emilia? Apa kau sedang baik-baik saja? Aku tidak mengerti kenapa aku sangat mengkhawatirkanmu saat ini.
***
Hai 🤗 Jangan lupa like, vote dan jadikan favorit ya, terimakasih 🙏😊 Happy reading 🤗