My Name Is Emilia

My Name Is Emilia
64. Kesukaan Adam



Besok paginya Emilia bangun lebih dulu, ia berniat ingin membuatkan sarapan untuk Adam. Hari ini Bi Ratna masih tidak bisa masuk kerja. Jadi Emilia harus bangun lebih awal dan menyiapkan sarapan untuk Adam meskipun Adam tidak pernah memintanya.


Emilia membuka kulkas dan melihat stock makanan disana. Ia bingung harus masak apa. Lagipula Adam tidak suka makan berat di pagi hari. Ia pun menutup kembali kulkas itu dan membuka lemari makanan untuk mengambil roti dan selai coklat. Ya, ia berencana membuat roti bakar saja.


Emilia pun mulai mengambil beberapa lembar roti untuk dipanggang. Tak lupa ia mengoleskan mentega di setiap sisi roti. Sedang asik memanggang roti tiba-tiba Emelda datang ke dapur.


“Kau sedang apa? Menyiapkan sarapan, ya?” tanya Emelda.


“Iya. Aku sedang membuat sarapan untuk kita bertiga. Aku tidak tau harus masak apa. Jadi aku buat roti bakar saja,” jawab Emilia yang masih berkutat dengan rotinya.


“Aku rasa Adam tidak suka makan roti dengan selai manis di pagi hari,” kata Emelda yang membuat Emilia menghentikan kegiatannya.


“Kenapa?”


“Iya, Adam tidak suka makan itu pagi-pagi. Dia lebih suka makan oatmeal untuk sarapan.”


Emilia hanya mengangguk-angguk saja. Dia baru tau hal itu hari ini. Dia memang tidak pernah menanyakan apa yang Adam suka dan tidak. Sementara Emelda yang sudah lebih dulu mengenal Adam jelas lebih paham apa kesukaan Adam.


“Tadi aku lihat ada oatmeal di lemari makanan. Tapi aku tidak tau bagaimana cara memasaknya,” kata Emilia.


“Apa kau keberatan jika aku menyiapkannya untuk Adam? Aku bisa membuatnya,” tanya Emelda dengan semangat.


“Tentu saja tidak. Silahkan saja kalau mau buat. Biar aku menyelesaikan roti ini dulu untuk sarapan kita berdua,” jawab Emilia tanpa berpikir macam-macam.


“Baiklah,” sahut Emelda.


Mendapat kesempatan untuk menyiapkan sarapan Adam adalah sesuatu yang dinantikan oleh Emelda. Tanpa membuang waktu, ia segera mengambil oatmeal dan mangkuk lalu mulai membuat sarapan Adam.


Ternyata aku yang lebih tau apa kesukaan Adam. Ini awal yang bagus untukku. Aku tidak akan menyerah. Aku belum rela melepaskan Adam untukmu, Emilia.


Beberapa menit kemudian sarapan sudah tersaji di atas meja. Ada roti bakar buatan Emilia dan semangkuk oatmeal dengan topping buah segar buatan Emelda.


Tak lama Adam pun keluar dari kamar dan menuju ke meja makan dengan setelan jasnya yang sudah rapi. Disana ada Emilia dan Emelda yang sudah menunggunya. Adam duduk berhadapan dengan Emilia sementara Emelda duduk di samping Emilia. Secara otomatis saat melihat Emilia, dia juga ikut melihat Emelda. Tapi pandangannya tetap fokus ke depan, ia tidak melirik Emelda sedikitpun.


“Sarapanlah dulu sebelum berangkat ke kantor,” ucap Emilia.


“Tentu saja. Apa kau yang menyiapkannya?” tanya Adam.


“Wah, ada oatmeal juga. Aku sangat suka ini,” sela Adam.


Adam mengambil semangkuk oatmeal dan mulai memakannya. Itu memang sarapan kesukaannya, tapi ia kira Emilia lah yang membuatnya. Sesendok demi sesendok oatmeal itu masuk ke mulut Adam begitu saja.


Deg. Ada yang berdenyut di hati Emilia. Kenapa dia tiba-tiba merasa aneh dengan perasaannya sekarang? Tadi dia tidak keberatan Emelda membuat sarapan untuk Adam, tapi sekarang setelah melihat Adam sangat senang makan makanan buatan Emelda, ia malah merasa ada yang ngilu di hatinya.


Sementara Emelda sendiri, jangan ditanya lagi seberapa senang ia saat ini. Kalau boleh sekarang rasanya ia mau loncat-loncat saking senangnya. Tapi ia berpura-pura biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa. Ini adalah awal yang baik baginya.


Tak lama semangkuk oatmeal pun habis dimakan Adam. Tidak ada sedikitpun yang tersisa di mangkuknya.


“Terimakasih Emilia, oatmeal buatanmu enak sekali. Kalau tiap hari sarapan seperti ini, aku jadi semangat bekerja di kantor,” ucap Adam pada Emilia.


Emilia tertegun sejenak. Dirinya bingung harus menanggapi seperti apa.


“Hmmm itu bukan aku yang membuatnya, tapi Emelda,” ucap Emilia dengan senyum yang dipaksakan.


Adam terkejut mendengar ucapan Emilia. Ia sama sekali tidak menyangka Emelda lah yang membuatnya . Setaunya Emelda tidak suka memasak di dapur. Kalau tau itu buatan Emelda, dia pasti tidak akan memakannya tadi. Sekarang oatmeal itu sudah masuk ke perutnya semua. Tidak mungkin dia memuntahkannya kembali.


“Aku kira kau yang membuatnya. Kenapa bukan kau yang membuatnya?” tanya Adam dengan wajah tidak senang.


“Maaf, aku sudah buat roti bakar. Tapi kau pasti tidak suka sarapan ini kan? Makanya Emelda membantuku membuat oatmeal itu untukmu. Lain kali aku akan membuatnya untukmu,” jawab Emilia dengan jujur.


“Maafkan aku kalau lancang membuatkan makanan untukmu,” ucap Emelda yang berpura-pura merasa bersalah.


“Lain kali aku ingin kau saja yang membuat makanan untukku. Atau kau kan masih belum sembuh total, sebaiknya beli makanan di luar saja,” kata Adam pada Emilia tanpa melihat ke arah Emelda.


“Baiklah,” sahut Emilia dengan pelan.


Lalu Adam beranjak dari kursi untuk berangkat ke kantornya. Seperti biasa Emilia akan mengantarnya sampai depan pintu. Sebelum pergi Adam sempat mengusap kepala Emilia dengan penuh kasih sayang dan tidak lupa berpesan agar Emilia banyak istirahat dan tidak boleh keluar dari apartemennya tanpa seijinnya.


Lagi-lagi Emelda mengintip kemesraan mereka dari balik dinding. Rasa iri itu timbul lagi di hatinya. Ia iri Adam bersikap begitu manis pada Emilia. Ia juga ingin diperlakukan yang sama oleh Adam.


Kenapa aku harus melihat pemandangan seperti ini setiap hari? Adam, apa kau tidak menganggap keberadaanku disini? Aku tidak akan mudah menyerah, tidak akan! Hari ini kau tertarik dengan makanan yang aku buat. Besok-besok kau akan tertarik kepada si pembuatnya, yaitu aku. Gumam Emelda dalam hati.