My Name Is Emilia

My Name Is Emilia
52. Rencana Jahat



Pagi itu sekitar jam 10 Adam sedang duduk di kursi kerjanya. Wajahnya tampak bahagia kali ini setelah berhasil memikirkan cara mengerjai asistennya. Dia masih kesal pada Ian karena kejadian di mall kemarin. Karena itu dia berniat membalasnya  dengan cara memberikan pekerjaan yang sangat banyak pada Ian.


Mulai dari jam 6 pagi tadi dia sudah menghubungi Ian dan memintanya mengirimkan laporan yang akan dibahas pada saat meeting hari ini. Padahal Ian sudah mengirimkannya beberapa hari yang lalu. Tapi Adam berkilah belum menerimanya. Tak hanya sampai disitu. Adam juga memajukan jadwal rapat pagi ini di salah satu cabang perusahaannya, tapi dia sendiri tidak hadir rapat dan meminta Ian mewakilinya. Belum lagi ada beberapa proposal yang harus Ian selesaikan hari itu juga. Adam berhasil membalaskan rasa cemburunya pada Ian.


Tok tok tok.


Pintu ruangan Adam diketuk. Ternyata orang yang sedang ia kerjai yang datang ke ruangannya.


“Masuk!” titah Adam.


Pintu dibuka. Ian masuk ke dalam ruangan dengan membawa beberapa map di tangannya. Kemudian ia berjalan ke meja Adam.


“Duduklah. Ada apa kau kemari? Sudah selesai rapat?” tanya Adam pura-pura tidak tahu.


“Sudah, Tuan. Baru saja selesai,” jawab Ian sembari duduk berhadapan dengan Adam.


“Baguslah. Apa ada kendala?” tanya Adam kemudian.


“ Tidak ada, Tuan. Semua berjalan lancar. Saya kesini ingin menanyakan tentang proposal ini, Tuan.”


Ian menaruh beberapa map dan menyodorkannya ke Adam. Adam hanya melirik sekilas. Ia tau, Ian pasti mau protes dengan pekerjaan yang Adam berikan padanya.


“Kenapa dengan proposal ini?” tanya Adam cuek.


“Benarkah semua ini membutuhkan revisi, Tuan? Bukannya minggu kemarin Tuan sudah menyetujuinya? Jadi saya rasa semua sudah clear.”


“Apa kau tidak membaca email dariku pagi ini? Aku sudah mengirimkan beberapa hal yang harus direvisi. Dan selesaikan itu hari ini juga.”


Glek. Ian menelan salivanya dengan susah. Apa itu artinya dia diminta lembur malam ini?


“Tapi Tuan....”


“Kau kerjakan saja dulu. Aku masih banyak urusan lain. Kembalilah ke ruanganmu. Ingat, aku mau semua selesai hari ini juga. Aku tidak peduli jika kau harus lembur malam ini.”


Tuh kan, tebakanku benar. Batin Ian.


“Baik, Tuan. Kalau begitu saya....”


Tok tok tok.


Belum selesai Ian menuntaskan kalimatnya, pintu ruangan kembali diketuk. Rupanya itu adalah Sekertaris Clara. Clara masuk ke ruangan Adam dengan wajah yang cemas.


“Maaf, Tuan. Saya tidak bermaksud mengganggu. Tapi di bawah ada Tuan Darius yang memaksa masuk. Beliau mau bertemu langsung dengan Tuan Adam. Katanya penting,” kata Clara dengan panik. Clara panik pasalnya Darius memaksa masuk padahal dia belum buat janji apapun dengan Adam.


“Aku rasa aku tidak ada janji dengannya. Suruh dia pulang. Aku tidak mau bertemu dengannya. Kalau dia memaksa, panggil saja security,” titah Adam. Saat ini raut wajah Adam sudah sangat kesal mendengar Darius nekat datang ke kantornya.


“Baik, Tuan. Saya akan coba,” jawab Clara.


“Apa boleh saya bertemu dengannya, Tuan? Saya akan memintanya untuk tidak mengganggu Tuan lagi. Saya yakin dia kesini karena perusahaan Tuan telah menarik saham dari perusahaannya dan membatalkan kerjasama,” kata Ian.


Adam nampak berpikir sejenak, lalu dia menyetujui perkataan Ian.


“Baiklah. Kau temui dia. Pastikan dia tidak datang kesini lagi.”


“Baik, Tuan.”


Lalu Ian dan Clara keluar dari ruangan Adam. Adam berdiri dari duduknya. Ia berbalik menatap pemandangan yang luas dari balik dinding  kaca ruangannya. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam kantong celana sisi kanan dan kirinya.


“Terimalah pembalasanku, Darius. Kau berani mengkhianatiku, berarti kau harus berani menerima segala risikonya,” kata Adam seorang diri dengan senyum mengejek di bibirnya.


Sementara itu Ian saat ini sudah berada di lantai dasar di lobby perusahaan. Disana sudah ada Darius yang duduk menunggu Adam turun. Darius sempat kecewa saat melihat yang menemuinya adalah Ian, bukan Adam. Tanpa banyak basa-basi Darius yang tadinya duduk sekarang malah berdiri menghampiri Ian.


“Dimana Adam? Aku mau bertemu dengannya langsung,” tanya Darius dengan ketus dan tatapan yang tajam. Ia pikir Ian akan takut dengannya, tapi dia salah. Ian bukan orang yang gampang ditakuti.


“Tuan Adam sedang sibuk. Dia tidak bisa bertemu anda sekarang atau kapanpun,” jawab Ian tak kalah ketus.


“Jangan beri aku alasan basi! Aku mau bertemu dengannya sekarang.”


“Apa anda amnesia? Anda lupa kejadian di apartemen anda, Tuan Darius? Tuan Adam tidak mau lagi melihat wajah anda. Jadi tidak mungkin dia akan menemui anda. Jadi sebaiknya jangan buang waktu anda, silahkan angkat kaki dari sini sekarang juga.”


Ian sengaja menyindir Darius. Dan yang disindir merasa sangat geram sekali.


“Jangan bawa masalah pribadi ke dalam urusan bisnis! Apa maksudnya dia menarik saham begitu saja dari perusahaanku dan membatalkan semua kerjasama? Dan kalian juga menghasut investor lain supaya menarik saham dari perusahaanku juga kan? Iya kan? Dasar licik!”


“Maaf, Tuan. Anda salah paham. Kami tidak pernah menghasut investor lain untuk melakukan itu. Jika mereka melakukannya, itu bukan urusan kami. Yang pasti keputusan Tuan Adam sudah tidak dapat diganggu gugat. Apa yang Tuan Adam perintahkan, itu yang akan kami lakukan.”


“Cih, kalian merasa di atas angin sekarang rupanya. Baiklah, aku terima perbuatan kalian. Tapi aku tidak akan tinggal diam. Tunggu pembalasanku nanti,” ancam Darius.


Meski diancam begitu Ian tetap menunjukkan ekspresi datar seolah tidak takut dengan apa yang Darius katakan. Itu membuat Darius semakin marah. Rasanya percuma meminta baik-baik pada Adam. Darius pun segera angkat kaki dari perusahaan Adam.


Saat ini Darius sudah keluar dari perusahaan Adam dan sedang menyetir mobilnya sendiri. Ia teringat akan Emelda yang sedang hamil di apartemennya dan kandungannya sudah semakin besar. Ia tak mau jatuh bangkrut dan keluarganya terlantar. Lalu ia teringat lagi kejadian di kantor Adam dimana ia ditolak mentah-mentah, bahkan bertemu saja Adam tidak mau. Ia begitu pusing memikirkan semua masalahnya.


Ia memijit keningnya yang terasa pusing. Ia terus berpikir bagaimana cara agar Adam mau mengembalikan sahamnya dan bekerjasama lagi dengannya.


“Emilia. Ya, benar. Dia kelemahan Adam. Aku harus bertemu Emilia hari ini juga. Kalau dia juga tidak mau menolongku, aku terpaksa melakukan rencana jahatku. Maafkan aku Adam, kau yang memaksaku jadi seperti ini," kata Darius dengan senyum menyeringai di wajahnya.