
Emilia keluar dari apartemen Adam dengan perasaannya yang hancur. Hatinya juga sakit menerima keputusan Adam. Kemana Adam yang selama ini selalu ada untuknya? Bukankah dia sudah berjanji selalu bersedia menjadi tempat bagi Emilia untuk bersandar? Tapi kini, dia yang memintanya untuk pergi.
Emilia sudah berada di depan pintu lift. Ia menoleh lagi ke belakang. Ia masih berharap Adam akan mengejarnya. Tapi setelah beberapa detik berlalu, rasanya itu harapan bodohnya saja. Lalu ia memencet tombol lift. Lift pun terbuka dan Emilia masuk ke dalamnya. Detik-detik saat pintu lift akan tertutup, disitu Emilia masih lagi berharap Adam akan menyusulnya dan memintanya kembali.
Please, Adam. Aku mohon kali ini saja. Datanglah kesini dan cegah aku untuk pergi. Jika kau melakukannya, aku akan kembali padamu tanpa berpikir dua kali. Aku masih berharap agar kau mau kembali padaku, Adam. Tolong jangan hancurkan harapanku.
Batasku hanya sampai pintu lift ini tertutup. Jika kau tak juga menyusulku, berarti kau benar-benar ingin aku pergi darimu.
Tring!
Pintu lift pun tertutup. Emilia sudah tidak tahan lagi menahan kesedihannya. Ia sampai bersandar di dinding lift sambil terus menangis sejadi-jadinya. Ia merasa patah hati saat itu. Harapannya agar Adam mau menyusulnya pun sirna. Hatinya begitu sakit menerima kenyataan di depannya. Ia harus ikut menanggung akibat dari perbuatan saudaranya. Ia kini kehilangan sosok pria yang sudah berhasil mencuri hatinya.
***
Emilia kini sudah berada di dalam kamar di kontrakannya. Ia duduk bersandar di atas tempat tidurnya dengan posisi menekuk kakinya yang dipeluk oleh kedua tangannya. Matanya masih terlihat basah, ia masih menangis.
Perkataan Adam beberapa hari lalu masih terngiang di telinganya. “Emilia, dengarkan aku baik-baik. Sekarang kau punya aku. Aku akan selalu ada di sisimu. Aku tidak akan pernah jauh darimu. Aku tidak akan membiarkanmu kesepian, Emilia. Jangan pernah berpikir kau tidak punya siapa-siapa di dunia ini. Kau satu-satunya wanita yang aku sayangi. Aku tidak akan pernah pergi darimu, aku berjanji akan selalu ada di sampingmu kapanpun kau membutuhkanku. Jika kau butuh tempat untuk bersandar, bahuku selalu siap untukmu, bahkan kau akan kudekap dengan erat seperti sekarang sampai sedihmu hilang.”
Dan saat ini aku membutuhkanmu, Adam. Tapi kau tidak ada disini untukku. Kau bilang tidak akan pernah jauh dariku, tapi sekarang kau yang minta aku menjauh darimu. Aku membutuhkanmu. Aku butuh didekapmu dengan erat sampai sedihku hilang. Batin Emilia.
Ia pun kembali terisak. Airmatanya tumpah begitu saja. Tak pernah ia merasakan hal sesakit ini sebelumnya. Sorotan matanya tampak lelah dan pasrah. Ia tak mampu berbuat apa-apa agar Adam mau menerimanya kembali.
Kenapa aku harus menanggung derita dari sesuatu yang tak pernah aku buat? Apa yang salah dengan wajahku sampai kau juga membenciku? Aku Emilia, My Name is Emilia, aku bukan Emelda. Ini tidak adil bagiku. Dari awal aku sudah menghindar darimu, tapi kau yang datang dan membawaku ke kehidupanmu. Tapi setelah itu, kau mengusirku?
Begitulah Emilia yang sedang patah hati. Tidak ada tempat untuknya mengadu selain berdialog dengan dirinya sendiri. Dan kamar itu jadi saksi bagaimana pilunya dia harus berpisah dengan orang yang sudah ia cintai.
Ingatannya saat bersama Emilia di balkon kamarnya muncul kembali.
“Haaccciihhh! Maaf disini agak dingin.”
Ia ingat betul saat itu ia mendekatkan wajahnya ke wajah Emilia. Niat hati ingin menciumnya, tapi usahanya gagal karna Emilia bersin mendadak. Ia juga ingat bagaimana lucunya wajah Emilia saat menggosok hidungnya. Tiba-tiba ia senyum sendiri mengingat kenangan itu.
Ia juga ingat saat itu ia bertekad akan membuat kenangan indah lainnya bersama Emilia. Tapi sekarang, ia malah menorehkan kenangan pahit pada Emilia sampai membuat Emilia menangis.
Ia membuka genggaman tangannya. Ada kalung Emilia disana. Ia pun kembali mengingat Emilia.
“Apa ini tidak berlebihan? Aku tidak biasa memakai benda semahal ini, Dam.”
“Yang mahal itu dirimu, bukan kalung itu. Bagiku kau lebih mahal dan berharga dari perhiasan apapun, Emilia. Kau pantas memakainya.”
“Hmmm....tapi....”
“Ssstttt sudah, tidak perlu ada tapi. Berjanjilah padaku. Kau tidak akan melepas kalung ini dan akan terus memakainya. Kau lihat, ini liontin nya berbentuk hati. Ini mewakili hatiku yang selalu dekat dengan hatimu. Jadi kalau suatu saat kau melepasnya, berarti kau menjauhkan hatiku dari hatimu.”
Adam kembali menggenggam kalung itu dengan erat. Ia memejamkan matanya sejenak untuk menahan kesedihannya. Salahkah ia meminta Emilia pergi dari kehidupannya?
Ia sangat bingung dengan perasaannya. Wajah mereka yang sama membuatnya galau. Ia takut tambah terluka dan sakit hati jika mengingat apa yang Emelda perbuat padanya. Dan sayangnya Emilia memiliki wajah yang mirip dengan Emelda. Tiap kali melihat Emilia, bohong jika ia tak langsung teringat akan Emelda.
Emilia, apa yang sedang kau lakukan sekarang? Apa kau sedang menangis seperti waktu itu? Maafkan aku telah menyakitimu. Maafkan aku yang tidak bisa menepati janjiku untuk selalu mendekapmu saat kau sedih. Maafkan aku, Emilia. Tolong maafkan aku. Aku masih bingung saat ini. Kalian memiliki wajah yang sama hingga aku sulit membedakannya. Semoga ini keputusan yang tepat untuk kita berdua. Mari kita kembali ke kehidupan seperti dulu, dimana kita berdua belum bertemu dan saling mengenal.