My Name Is Emilia

My Name Is Emilia
36. Risau



Adam masuk ke ruangannya setelah selesai menghadiri meeting dengan beberapa client. Ia duduk di kursinya lalu meregangkan ototnya dengan menarik tangannya beberapa kali ke atas. Tiap hari berkutat dengan pekerjaan rasanya cukup melelahkan juga.


Tangannya terlihat mulai membuka laptop yang ada di atas meja kerjanya. Masih ada beberapa email yang harus ia periksa.


Dilihatnya handphone miliknya tergeletak di atas meja. Ah, jadi kangen Emilia. Apa yang dia lakukan sekarang, ya? Bukannya melanjutkan pekerjaan ia malah sibuk membuka handphone-nya. Dibukanya file gallery, ada beberapa foto Emilia saat sedang berjualan roti dengan sepeda motornya dulu. Adam nampak tersenyum mengingat kekonyolan Emilia saat itu.


Tak tahan menahan rindu, ia mulai melakukan panggilan ke nomor handphone Emilia yang ia dapat dari asistennya, Ian. Sayangnya beberapa kali melakukan panggilan tapi tak kunjung ada jawaban. Adam jadi risau memikirkan Emilia.


Drrrt. Drrrt. Drrrt.


Ada getaran dari dalam tas milik Emilia. Emilia yang posisinya masih di rumah sakit segera mengeluarkan handphone nya dari tas. Dilihatnya ada nomor tak dikenal melakukan panggilan. Emilia mengabaikan panggilan itu dan kembali menyimpan handphone miliknya ke dalam tas.


Emilia berencana akan menghampiri Emelda dan Darius. Ia ingin mengetahui semuanya. Emelda adalah saudara kembarnya. Ia berhak tau apa yang telah terjadi kepada saudara kembarnya itu.


Darius dan Emelda beranjak meninggalkan rumah sakit. Emilia langsung terburu-buru mengejarnya sampai menabrak seorang perawat yang sedang mendorong obat-obatan dengan trolinya.


“Nona apa yang anda lakukan? Anda harus berhati-hati kalau jalan. Ini rumah sakit, perhatikan langkah anda, Nona,” kata perawat yang trolinya ditabrak oleh Emilia.


Perawat itu terlihat kesal karena beberapa obat jadi tumpah ke lantai dan ia harus memungutinya. Emilia panik dan segera ikut membantu membereskan kekacauan itu.


“Maaf, Suster. Saya tidak sengaja. Saya sedang terburu-buru. Sekali lagi maafkan saya,” ucap Emilia. Ia tau ia yang salah saat itu.


“Tidak apa-apa, Nona. Tapi lain kali berhati-hatilah meski sedang buru-buru,” kata perawat mengingatkan.


Parkiran. Itu adalah tempat yang akan dituju Emilia sekarang. Dengan tergesa-gesa ia segera menuju ke parkiran dan mencari mereka disana. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru. Ada beberapa mobil yang keluar dari parkiran tersebut pada saat yang bersamaan. Tapi mobil mana yang berisi Darius dan Emelda? Huft, kali ini dia gagal mengejar mereka.


Dengan penuh tanda tanya Emilia meninggalkan rumah sakit dan pulang ke kontrakannya. Setelah kejadian tadi ada banyak hal yang sekarang mengganggu pikirannya.


Drrrt drrttt.


Handphone miliknya kembali bergetar. Ia duduk bersandar di atas ranjangnya lalu mengecek handphone-nya. Selain ada beberapa panggilan tak terjawab, ada juga beberapa pesan yang masuk disana.


✉ Emilia, ini aku Adam. Angkat telfon ku ya.


✉ Emilia, kenapa kau tidak mengangkat telfonku? Apa kau sedang sibuk?


✉ Sepertinya kau sibuk sekali sampai tidak membalas pesanku juga.


✉ Baiklah, nanti aku telfon lagi dan kau harus mengangkatnya ya.


Begitulah kira-kira isi pesan dari Adam yang membuat Emilia malah risau. Dia sangat tau Emelda adalah tunangan dari Adam. Dan Adam selama ini mengira ia sudah meninggal. Tapi bagaimana jika nanti Adam tau kalau Emelda ternyata masih hidup? Apa Adam akan kembali kepada Emelda dan melupakan Emilia? Tiba-tiba saja matanya mengembun. Ada rasa sesak di dadanya saat itu. Entah kenapa ia tidak rela kehilangan Adam yang sudah berhasil menduduki singgasana di hatinya.


Emilia tidak membalas satu pun pesan dari Adam. Ia malah menangis sejadi-jadinya. Haruskah ia senang Emelda masih hidup? Tapi kenapa ia justru menginginkan Emelda tidak muncul lagi di dunia ini? Jahatkah ia berpikir seperti itu? Emelda adalah saudara kandungnya, satu-satunya keluarga yang tersisa yang ia punya. Tidak, ia tidak boleh seperti itu. Entahlah saat ini ia merasa takdir begitu rumit.


Dan yang paling ia sesali, kenapa Emelda harus muncul lagi di saat dia sudah membuka hatinya untuk Adam? Bahkan Adam sudah memiliki tempat khusus di hatinya yang selama ini ia kunci. Ia bingung harus bagaimana. Apakah ia akan mengatakan pada Adam tentang kenyataan yang ia lihat di rumah sakit tadi?