My Name Is Emilia

My Name Is Emilia
71. Firasat Emilia



Saking asik mengobrol Emilia lupa kalau dia harus pulang lebih awal dari Adam. Syukurnya Anita mau mengantarkan Emilia pulang sampai ke  apartemennya.


Sementara itu Adam sudah lebih dulu masuk ke apartemen. Saat masuk, ia tidak mendapati Emilia yang menyambutnya pulang seperti biasa. Malah yang ada Emelda sedang duduk di ruang tengah.


“Adam, kau sudah pulang?” tanya Emelda lalu ia berdiri menghampiri Adam.


“Hmm,” Adam hanya menjawab dengan berdehem.


“Apa kau mau aku buatan kopi?”


“Tidak usah. Mana Emilia?”


“Dia belum pulang. Mungkin masih asik berbelanja dengan temannya jadi lupa waktu.”


Adam tak membalas lagi. Ia ingin segera masuk ke kamarnya saja. Sementara Emelda geram melihat Adam mengabaikannya dan hanya menanyakan tentang Emilia saja. Padahal jelas-jelas dia yang ada disana tapi Adam tidak sedikitpun menanyakan tentangnya.


Lalu sebuah ide licik muncul di kepalanya.


“Awh...aduh...betisku....” Emelda meringis kesakitan, berusaha memegang betisnya yang tak tercapai tangan.


Adam yang sudah melangkah meninggalkannya jadi berbalik dan menghampirinya.


Yes, berhasil! Seru Emelda dalam hati.


“Kau kenapa? Apa yang bisa ku bantu?”


“Betisku sakit. Keram sepertinya. Tolong bantu aku duduk.”


Adam yang tidak tau itu hanya ide licik Emelda, berusaha untuk membantunya duduk. Adam ingin memapah Emelda, jadi ia mengalungkan salah satu tangan Emelda ke lehernya.


Ceklek.


Emilia masuk dengan beberapa paper bag di tangannya. Pemandangan yang pertama kali terlihat di matanya adalah posisi Emelda yang sedang memeluk Adam.


Deg.


Ada yang berdenyut di hatinya. Rasa cemburu dengan serta merta menjalar ke hatinya.


Mengapa posisi mereka sedekat itu? Bahkan Adam tidak berusaha menghindar dari Emelda saat tangan Emelda bergelayut di lehernya.


Emelda mengulum senyum dengan samar saat tau Emilia tengah memergoki mereka sedekat itu. Sementara Adam hanya fokus membantu Emelda karena ia sama sekali tidak berpikir bahwa itu adalah kesengajaan yang dibuat oleh Emelda.


“Emilia, kau baru pulang? Emelda kakinya sakit,” kata Adam yang terlihat khawatir.


Lalu Adam seolah tidak mempedulikan Emilia. Ia kembali memapah Emelda dan membantunya duduk di sofa.


“Masih sakit? Apa perlu aku panggilkan dokter?” tanya Adam pada Emelda.


“Tidak perlu. Kalau terlalu banyak berjalan memang sering begini. Bisa bantu aku menaikkan kakiku di atas sofa? Sepertinya itu akan lebih nyaman.”


Lagi-lagi Emelda berusaha mencari kesempatan untuk merebut perhatian Adam. Adam pun hanya menuruti permintaan Emelda saja. Ia membantu memegang kaki Emelda lalu menaikkannya ke atas sofa dengan perlahan. Adam juga mengambil bantal sofa lalu meletakkan di punggung Emelda agar ia bisa bersandar dengan nyaman.


Emilia malah mematung melihat perlakuan manis Adam pada Emelda. Entahlah, yang jelas hatinya sudah digerogoti rasa cemburu yang menusuk kalbu. Semakin lama ia berada disana, semakin sakit rasa hatinya.


Tanpa bersuara Emilia pergi meninggalkan mereka dan masuk ke kamarnya. Tidak ada sedikitpun rasa ingin menanyakan keadaan Emelda saat itu. Hatinya sudah sangat cemburu. Sesampainya di kamar, ia meletakkan belanjaannya di atas lantai kamar lalu duduk di depan cermin meja riasnya.


“Ada apa dengan hatiku? Kenapa sekarang aku begitu cemburu dengan kedekatan mereka? Bukankah aku sendiri yang meminta Emelda tinggal bersama? Kenapa sekarang aku seperti menyesalinya? Tapi firasatku mengatakan Emelda dari kemarin memang sengaja mencari perhatian Adam. Apa itu hanya perasaanku saja?”