
Adam kini tengah menatap Emilia. Ia menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulut Emilia. Kenapa nama Emelda harus dibawa-bawa dalam urusan ini? Apa yang sebenarnya tengah mereka sembunyikan?
Adam memegang kedua lengan Emilia dengan lembut. Ia tak mau membuat Emilia takut. Tapi ia juga butuh kejelasan atas apa yang telah terjadi di antara mereka.
“Tolong jelaskan padaku Emilia! Jelaskan apa maksudmu ini semua tentang Emelda? Kenapa kau bawa-bawa nama saudara kembarmu yang sudah meninggal itu?”
“Tidak, Adam. Dia belum meninggal,” ucap Emilia dengan airmata yang tertahan di pelupuk matanya. Ia harus terima apapun keputusan Adam nantinya jika tau Emelda masih hidup.
Deg. Adam terkejut mendengar jawaban Emilia. Omong kosong apa ini, pikirnya. Dia yakin betul Emelda sudah meninggal karena dia sendiri yang menjemput mayat Emelda di rumah sakit dan ikut memakamkannya waktu itu. Lalu kenapa Emilia mengatakan Emelda masih hidup? Bukan Adam namanya kalau semudah itu percaya tanpa melihat bukti dengan mata kepalanya sendiri.
“Emilia, aku tau kau tidak datang ke pemakamannya waktu itu. Tapi aku sendiri yang datang mengurus mayatnya ke rumah sakit dan memakamkannya. Mana mungkin dia masih hidup. Itu tidak mungkin,” sanggah Adam.
“Tapi kita tidak melihat langsung wajah mayat waktu itu kan, Tuan?” kata Ian menyela. Ian mencoba mengingatkan kembali kejadian beberapa bulan yang lalu dimana mereka memang tidak melihat langsung wajah mayat yang sudah rusak itu.
Adam terdiam sejenak. Ia kembali mengingat kejadian beberapa bulan lalu. Saat tangan nya bergerak ingin menyentuh kain penutup wajah itu, dokter berkata, “Tuan, tolong siapkan mental Anda, Tuan. Karena wajah korban rusak parah akibat kecelakaan ini sehingga sangat sulit dikenali.”
“Kau benar. Kita tidak melihat wajahnya,” ucap Adam dengan pelan. Hatinya langsung terasa sakit saat menyadari hal itu. Mungkinkah Emelda telah membohonginya selama ini? Sebegitu tegakah Emelda berbohong pada dirinya? Padahal waktu itu mereka telah bertunangan bukan?
“Kau sudah percaya kalau aku dan Ian tidak mengkhianatimu? Bukan kami yang mengkhianatimu, Adam,” ucap Emilia.
“Apa kau sudah bertemu langsung dengan Emelda? Bagaimana kau bisa menemuinya? Apa dia menghubungimu? Lalu kenapa kau sembunyikan semua ini dariku, Emilia? Kenapa? Kenapa kalian tega menyembunyikan semua ini dariku? Apa kalian suka melihatku seperti orang bodoh yang selalu kalian bodohi?” tanya Adam bertubi-tubi. Ia kesal. Sangat-sangat kesal. Kenapa semua bisa terjadi tanpa sepengetahuannya.
Kali ini Emilia yang meraih kedua tangan Adam. Emilia menggenggamnya dengan sangat erat seolah ingin membuat Adam nyaman dan tenang saat itu.
“Adam, percayalah padaku. Aku merahasiakan ini semua darimu hanya karna aku tidak ingin kau terluka. Aku tau kau pasti terpukul saat tau Emelda masih hidup, karna itu aku dan Ian ingin memastikan lebih dulu semuanya, setelah itu baru kami akan memberitahumu,” kata Emilia.
“Bukankah kau bilang Emelda masih hidup? Apa lagi yang mau kau pastikan?” tanya Adam.
“Aku memang sudah bertemu dengannya dua kali, Adam. Aku bertemu dengannya kemarin dan hari ini. Tapi aku hanya melihatnya dari jauh. Aku belum menyapanya langsung. Aku juga belum bertanya padanya kenapa dia memalsukan kematiannya. Barusan aku dan Ian berusaha mengejarnya disini tapi kami kehilangan jejak,” jawab Emilia.
Emilia menggeleng. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menjawab,”Dia tidak sakit, Adam. Dia hamil. Dan aku dua kali bertemu dia disini bersama Darius, sahabatmu.”
Duarrrr. Sungguh rasanya seperti disambar petir di siang bolong. Bertubi-tubi Adam diberi berita pahit yang membuat dadanya terasa sesak. Kenyataan seperti apa ini! Orang-orang yang dia percaya malah berkhianat di belakangnya tanpa sepengetahuan dirinya.
Adam melepaskan genggaman Emilia. Kepalanya mendadak pusing mendengar berita mengejutkan itu. Matanya mulai memanas, hidungnya terasa tersumbat. Sepertinya ada air mata yang ia tahan sekuat tenaga agar tidak mengalir begitu saja. Ia tak mau menangisi sebuah pengkhianatan.
Emilia yang dari tadi sudah menangis, kini makin sedih melihat raut wajah Adam. Ia tau pria yang disayanginya itu pasti sangat sedih dan kecewa. Ian pun juga ikut sedih melihat keadaan Adam. Ini kali kedua ia melihat raut wajah Tuannya seperti itu. Tuannya pasti belum bisa begitu saja menerima kenyataan pahit ini.
Emilia menyeka airmatanya lalu mendekati Adam. “Adam, apa kau baik-baik saja?”
Adam mengangguk. Ia berdehem untuk menghilangkan sesak yang memenuhi kerongkongannya.
“Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir,” jawab Adam.
“Maafkan aku, Adam. Aku tidak bermaksud untuk melukai perasaanmu. Aku mencari Emelda karna aku saudara kembarnya. Aku berhak tau apa yang terjadi sebenarnya padanya. Tapi sekarang aku tidak tau harus mencarinya kemana lagi,” kata Emilia.
“Aku tau,” ucap Adam yang membuat Emilia dan Ian terkejut.
“Kita akan mencarinya di apartemen Darius. Aku tau tempatnya. Kita kesana sekarang. Aku juga berhak tau apa maksudnya memalsukan kematiannya selama ini. Karna aku.... aku tunangannya.”
Deg. Hati Emilia mendadak pilu saat Adam bilang “aku tunangannya.” Sekilas ingatannya saat pertama kali bertemu Adam muncul di kepalanya. “Aku tau kau tidak akan meninggalkanku, Emelda.” Kata-kata Adam waktu itu terngiang kembali di telinganya. Saat itu Adam memeluknya dengan erat karena mengira dirinya adalah Emelda.
Ayolah Emilia, kau harus sadar bahwa Adam tidak pernah mencintaimu. Dia mencintai Emelda. Dia mendekatimu hanya karna wajah kalian yang mirip, bukan karna cinta. Kau harus sadar itu! Adam tetap tunangan Emelda dan mereka bisa bersama kembali kapan saja. Dan kau harus mengucapkan selamat tinggal kepada pria yang kau cintai itu. Begitulah Emilia berperang dengan hatinya saat ini.
Adam langsung mengajak Emilia dan Ian segera menyusul ke apartemen Darius. Dia yakin mereka pasti ada disana. Emilia ikut bersama Adam dengan mobilnya. Sementara Ian pergi sendiri dengan mobil yang dibawanya tadi.
Sepanjang perjalanan, kedua manusia itu tidak satupun mengeluarkan kata-kata. Adam sibuk dengan pikirannya sendiri begitupun Emilia. Adam harus menyiapkan mentalnya untuk bertemu kembali dengan tunangannya yang dia pikir telah meninggal, serta pengkhianatan yang dilakukan oleh sahabatnya, Darius. Emilia pun harus menyiapkan mental kalau nanti Adam akan kembali lagi bersama Emelda. Ia menguatkan dirinya agar tidak menangis dan harus siap menghadapi apapun kenyataan yang terjadi nanti.