My Name Is Emilia

My Name Is Emilia
83. Keputusan yang Terbaik



Emilia mendekat ke Darius. Saat ini Darius lah yang paling berhak menentukan siapa yang harus diselamatkan lebih dulu.


“Darius, kau suami Emelda, kau juga ayah dari bayi yang dikandungnya. Saat ini, kau yang paling berhak mengambil keputusan,” kata Emilia pada Darius.


“Apa aku bisa memilih untuk mengorbankan nyawaku saja? Bagaimana bisa aku memilih untuk kehilangan salah satu di antara mereka?” tanya Darius sambil terisak.


“Aku tau ini berat bagimu. Tapi kau harus segera membuat pilihan. Emelda harus segera dioperasi. Siapapun tidak mau kehilangan orang yang kita sayangi, tapi kali ini kita memang harus memilih, Darius,” desak  Emilia.


Darius bukannya menjawab malah terus menangis dan menggelengkan kepalanya. Ini memang suatu pilihan yang sangat berat dan sulit untuk dipilih.


“Jadi bagaimana? Kami dari tim dokter hanya tinggal menunggu persetujuan keluarga saja,” tanya dokter lagi.


“Dokter, bagaimana menurut pandangan dokter sendiri? Siapa yang menurut dokter paling memungkinkan untuk diselamatkan di antara keduanya?” tanya Adam.


“Ibunya. Kalaupun bayinya yang akan diselamatkan, kemungkinan untuk bertahan hidup sangat kecil. Tapi itu semua kembali lagi kepada keluarga pasien,” jawab dokter dengan tegas.


“Baiklah, kalau begitu selamatkan ibunya,” ucap Emilia dengan lirih tapi airmatanya terus saja mengalir.


“Kau yakin, Sayang?” tanya Adam memastikan.


Emilia mengangguk. “Ya, aku yakin. Tolong secepatnya lakukan operasi ini, dokter. Selamatkan ibunya...dan tentang bayinya....biar kuasa Tuhan yang membantu menyelamatkannya. Dia bayi yang tidak berdosa, aku yakin Tuhan akan memberikan yang terbaik untuknya.”


Makin pecahlah tangisan Darius mendengar jawaban Emilia. Ia hanya bisa menyetujui perkataan Emilia saja. Dalam hatinya tak henti berdo'a agar diberi kesempatan untuk berkumpul dengan istri dan anaknya.


Mata Adam pun terlihat memerah. Ia tak menyangka Emilia akan mengeluarkan jawaban yang sangat bijaksana. Adam kembali meraih Emilia ke dalam pelukannya. Ia tau Emilia berat memutuskan ini.


“Baiklah, tolong ikut kami untuk tanda tangan persetujuannya.”


“Dokter, boleh saya melihat istri saya sebentar sebelum operasi?” tanya Darius.


“Silahkan, Tuan. Ayo ikut saya ke dalam.”


Darius pun masuk ke dalam ruangan diikuti oleh Emilia dan Adam. Disana nampak Emelda terbaring lemah dengan selang infus menancap di tangannya.


“Emelda.” Darius meraih tangan Emelda dan menciumnya.


“Darius, bagaimana anak kita? Dia baik-baik saja kan?” tanya Emelda dengan lirih.


Darius mengangguk. Ia kembali mencium tangan Emelda. “Semua akan baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir. Sebentar lagi kau akan dioperasi. Jadi kau harus tenang, ya. Aku akan selalu ada untukmu.”


Emelda mengangguk. Nampak setetes airmata mengalir dari sudut matanya. Pandangannya lalu beralih ke Emilia dan Adam.


“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Emelda. Aku sudah melupakan semuanya. Sekarang kau harus fokus pada operasimu. Aku yakin semua akan baik-baik saja,” ucap Emilia.


Emelda kembali mengangguk. Dia melihat Adam, tapi tak bicara apa-apa. Ia merasa berat untuk bicara lagi dengan Adam.


Tiba-tiba dokter datang dan memberi surat yang harus ditandatangani Darius. Tapi Emelda tidak diberitahu apa isi surat itu. Setelah itu mereka diminta untuk meninggalkan ruangan karena operasi akan segera dilakukan.


“Dokter, tolong selamatkan anak saya. Saya akan merasa sangat bersalah kalau sampai terjadi apa-apa padanya,” ucap Emelda yang didengar oleh Darius dan yang lain.


Deg. Hati Darius menjadi terenyuh mendengarnya. Mereka saling pandang. Dokter merasa tidak enak hati dengan perkataan Emelda.


“Kami akan berusaha memberikan yang terbaik, Nyonya,” jawab dokter itu.


Mereka pun segera keluar dari ruangan. Dengan segala perlengkapan yang sudah dipersiapkan, operasi Emelda mulai dilaksanakan.


Darius duduk di kursi yang ada di lorong dekat ruang operasi. Sementara Emilia memilih berdiri sambil bersandar di tiang rumah sakit, dengan Adam yang selalu setia di sampingnya. Ian juga nampak berdiri tak jauh dari mereka.


“Tenanglah, Sayang. Percayakan semua pada Tuhan,” kata Adam sambil menyeka airmata Emilia yang tertinggal membasahi pipinya.


Emilia hanya mengangguk saja.


Semoga keputusan ini adalah keputusan yang terbaik. Semoga keduanya bisa selamat. Kalaupun memang hanya Emelda yang selamat, aku sangat berharap dia akan rela melepaskan Adam sepenuhnya dan kembali dengan Darius. Bukan aku egois, tapi saat ini aku sangat mencintai Adam dan aku tidak mau kehilangannya.


Tuhan, aku harap kau dapat mengabulkan permintaanku ini. Selamatkanlah keduanya, Tuhan. Batin Emilia.


Keadaan kembali hening tak ada yang bersuara. Suasana malam terasa lebih dingin dan menegangkan saat mereka harus menunggu operasi selesai. Waktupun seolah enggan bergerak maju. Setiap detik yang berlalu terasa begitu mendebarkan.


Ceklek.


Pintu ruang operasi terbuka dari dalam. Terdengar sayup-sayup suara tangisan bayi yang masih samar di telinga. Mereka sontak melihat ke arah pintu itu.


Nampak seorang perawat keluar sambil menggendong bayi dalam dekapannya. Barulah terdengar jelas suara tangisan yang menggema dari bayi itu. Mereka semua segera mendekat ke arah si perawat.


“Selamat, Tuan. Anda sudah menjadi seorang ayah. Anak anda perempuan. Operasinya berhasil dan keduanya selamat.”


Mereka begitu lega mendengar perkataan perawat itu. Darius mendekat dan mencium putrinya sekilas. Ia begitu terharu atas apa yang terjadi. Sekarang dia telah menjadi seorang ayah. Dan ia tidak jadi kehilangan salah satu di antara mereka.


Bersambung...