
Siang itu tak seperti biasanya Darius sudah kembali ke apartemennya. Wajahnya terlihat kusut. Sepertinya ia baru mengalami hari yang melelahkan. Ia meletakkan tas nya di atas sofa di ruang tamu. Melepaskan jas dan dasinya dengan kasar lalu melemparkannya ke atas sofa di sampingnya.
“Darius, kau sudah pulang? Tumben sekali pulang sesiang ini,” tanya Emelda lalu ikut duduk di sofa depan Darius.
“Aku pusing. Perusahaanku sedang bermasalah. Ini semua karena Adam benar-benar menarik semua sahamnya dan membatalkan kerjasama. Sialnya banyak investor yang ikut menarik sahamnya juga dari perusahaanku,” jelas Darius panjang lebar.
“Lalu kenapa kau malah pulang? Seharusnya kau urus dulu pekerjaanmu sampai selesai, Darius. Jangan lupa, kau harus segera menyelesaikan urusanmu disini agar kita bisa cepat pindah ke luar negeri seperti janjimu.”
“Iya, iya, aku tau. Aku butuh menenangkan diri dulu, Emelda. Aku sedang banyak masalah.”
“Makanya dari dulu kenapa kau tidak ikut saranku? Kalau kita langsung pindah ke luar negeri waktu itu, semua tidak akan serumit ini. Adam tidak akan tau kalau aku masih hidup.”
“Sudahlah, Emelda. Semua sudah terjadi. Jangan menyalahkanku! Kau juga salah. Dari awal tidak mau jujur pada Adam.”
“Kalau aku jujur sama saja Adam akan menghancurkan perusahaanmu juga. Kenapa kau malah menyalahkanku? Kau yang susah sekali diajak pindah ke luar negeri. Selalu bisnis kau jadikan alasan.”
“Emelda, aku punya tanggung jawab disini. Kalau aku tiba-tiba pulang ke luar negeri dan membawamu, apa kata orang tuaku nanti? Mereka memintaku mengurus urusan disini dulu. Apa kau tidak bisa bersabar sedikit?”
“Sabar terus, sabar terus dan lihat sekarang hasilnya. Semua sudah terbongkar dan kau bisa bangkrut.”
“Cukup, Emelda! Aku tidak mau berdebat denganmu. Aku suamimu. Seharusnya kau mendukungku di saat seperti ini,” bentak Darius.
Emelda berdiri dengan penuh emosi. Dia tak terima dibentuk oleh Darius.
“Kalau kau suamiku, seharusnya kau pikir bagaimana masa depan istrimu dan calon anakmu ini, bukannya malah awww...... aduh...perutku....”
Belum sempat menuntaskan kalimatnya, Emelda terlihat meringis sambil memegang perutnya. Darius panik. Ia segera menghampiri Emelda dan menuntunnya untuk duduk bersandar di sofa.
“Emelda, kau kenapa? Kau tenang dulu ya, jangan banyak gerak dulu,” kata Darius panik.
“Aku akan panggilkan dokter. Kau sabar sebentar, ya.”
Darius segera menghubungi dokter agar datang ke apartemennya. Sementara itu dia sendiri menggendong Emelda masuk ke kamarnya. Dengan hati-hati ia membandingkan Emelda di atas tempat tidur.
Emelda masih terlihat kesakitan. Ia terus meringis sambil mengusap perutnya. Darius berusaha menenangkan Emelda. Satu tangannya menggenggam tangan Emelda dan satu tangannya lagi ia gunakan untuk mengelus-elus rambut Emelda. Ada rasa khawatir dalam hatinya melihat Emelda meringis kesakitan. Ia tak mau terjadi apa-apa pada Emelda dan anaknya.
Tak lama dokter yang dipanggil pun datang. Dokter itu segera memeriksa keadaan Emelda. Setelah melakukan beberapa pemeriksaan, ternyata kondisi Emelda baik-baik saja. Hanya saja dia tidak boleh terlalu banyak tekanan.
“Bagaimana kondisi istri dan anak saya dokter?” tanya Darius yang kini sudah berada di depan pintu kamarnya bersama dokter.
“Kondisi ibu dan anaknya sejauh ini baik-baik saja. Hanya saja ibunya tidak boleh banyak pikiran apalagi sampai stress. Bapak sebagai suami harus ikut membantu agar mood istri bapak selalu baik. Mood ibu hamil sangat mempengaruhi janin yang ada di dalam kandungannya.”
“Baik, Dokter. Jadi apa ada obat yang perlu diminum?”
“Tidak perlu, Pak. Ibu hamil cukup makan yang banyak dan bergizi saja. Jangan lupa tiap bulan rutin periksakan kandungannya ya, Pak. Apalagi kehamilan ibu sudah masuk trimester ketiga.”
“Baik, Dokter. Kalau begitu terimakasih banyak atas bantuannya.”
“Sama-sama, Pak. Sekali lagi saya ingatkan mood ibu hamil harus selalu baik. Bapak harus selalu membuat istri bapak bahagia dan jangan banyak pikiran, ya. Kalau begitu saya permisi dulu.”
Darius pun mengangguki perkataan dokter. Setelah dokter itu pergi, dari depan pintu kamar Darius melihat ke arah Emelda yang sedang berbaring memunggunginya. Ia menyadari semenjak kejadian kemarin Emelda sering banyak berpikir dan merasa tertekan. Masalah demi masalah satu per satu datang menghampiri mereka. Bahkan sekarang perusahaan Darius sendiri sedang diambang kebangkrutan. Mungkinkah ini awal kehancurannya?
Aku tidak akan membiarkan anak dan istriku nantinya terlantar. Aku harus bicara dengan Adam. Jika dia masih tidak mau mengembalikan keadaan seperti semula, maka jangan salahkan aku jika aku berbuat jahat padanya.
Tiba-tiba saja dia teringat akan Emilia. Bayangan saat Adam dan Emilia berduaan di pesta muncul dalam ingatannya.
Emilia. Ya, benar. Aku harus bertemu Emilia. Aku harap dia bisa membantuku untuk bicara pada Adam. Emelda kan saudara kembarnya sendiri, tidak mungkin dia tidak ingin membantunya. Aku yakin Adam akan mendengarkan Emilia. Aku tau Adam pasti punya perasaan pada Emilia.