My Name Is Emilia

My Name Is Emilia
70. Belanja dengan Calon Menantu



Emilia sudah berada di salah satu mall untuk bertemu dengan Serra. Mereka janjian ketemuan disana. Sudah 15 menit berlalu, tapi Serra belum juga datang. Tak lama Serra menghubunginya dan mengabari kalau dia tak jadi datang karena tidak mendapat ijin kerja.


Karena sudah terlanjur berada di mall. Emilia memutuskan untuk berjalan-jalan saja sendirian disana. Sebenarnya Emilia ingin sekali menelepon Adam dan memintanya jalan bersamanya, tapi dia khawatir akan mengganggu waktu kerja Adam.


Ketika sedang melihat-lihat baju yang dipajang di sebuah toko, ada seorang wanita paruh baya yang menghampirinya.


“Nona, kau yang bekerja di restoran waktu itu kan?” sapa seorang wanita yang tak lain adalah Anita, ibu dari Adam.


“Iya, Nyonya. Benar. Maaf Nonya, tapi sebaiknya tidak usah panggil saya Nona, panggil nama saya saja, Emilia.”


Emilia mengulurkan tangan ingin bersalaman dengan Anita. Tapi siapa sangka Anita langsung memeluknya sebentar.


“Kalau begitu jangan panggil saya Nyonya, panggil tante juga boleh. Nama saya Anita, Anita Smith. Smith itu nama suami saya.”


Emilia menganggukan kepalanya. Mendengar nama Smith, ia merasa seperti tidak asing. Nama itu seperti pernah ia dengar sebelumnya. Ia lupa kalau nama panjang Adam adalah Adam Smith.


“Baiklah, tante. Tante sedang belanja?” tanya Emilia.


“Iya, tante suntuk di rumah saja. Anak tante laki-laki, sibuk terus bekerja, beberapa hari ini malah tidak pulang ke rumah saking sibuknya. Jadi tante belanja saja supaya tidak bosan,” jawab Anita yang diangguki Emilia.


“Kau sendiri sedang belanja juga? Sendirian? Bagaimana kalau kita berbelanja bersama?” tanya Anita.


“Iya, tante. Tadinya saya janjian dengan teman, tapi dia tidak bisa datang.”


“Oh, kebetulan kalau begitu. Ayo belanja sama tante saja. Sekalian nanti kita ngobrol-ngobrol.”


“Ah, iya, baiklah tante.”


Anita tersenyum senang dapat bertemu lagi dengan Emilia. Akhirnya dia bisa juga belanja dengan calon menantunya.


Saking senangnya bisa jalan dengan menantu sendiri, Anita sangat posesif pada Emilia. Ia bahkan tidak segan-segan menggandeng tangan Emilia saat berpindah dari satu toko ke toko yang lain. Emilia juga merasa senang ada teman baru. Sifat posesif Anita mengingatkannya pada seseorang yang tak lain adalah Adam. Dia tidak tau saja yang sedang bersamanya adalah ibu dari Adam atau calon mertuanya.


“Jadi, kau tinggal bersama pacarmu di apartemennya?” tanya Anita saat Emilia menceritakan tentang dirinya.


“Iya, tante. Tapi kami pisah kamar kok, tante. Lagipula disana sekarang ada saudara kembar saya juga tinggal bersama karena dia sedang hamil sekarang.”


Ppfffttttt.


Kopi yang hendak diminum menyembur begitu saja dari mulut Anita. Ia terkejut saat mendengar kembaran Emilia sedang hamil dan ikut tinggal disana. Setaunya Emelda sudah lama meninggal.


“Tante tidak apa-apa?”


“Tidak. Tidak apa-apa.”


Anita mengambil tisu dan mengelap mulutnya yang belepotan  kena kopi.


“Tadi apa kau bilang? Saudara kembarmu sedang hamil dan tinggal bersama kalian di apartemen? Memang kau punya berapa bersaudara?”


“Saya hanya punya satu saudara kembar, tante. Namanya Emelda. Saat ini dia sedang hamil. Makanya saya menawarkan tinggal bersama karena khawatir dengan keadaannya.”


Jadi Emelda masih hidup? Kenapa Adam tidak pernah cerita? Lalu siapa yang menghamilinya? Kenapa malah mereka tinggal bersama satu apartemen? Apa maksud Adam sebenarnya? Apa dia ingin beristri dua? Tidak! Menantuku hanya Emilia saja. Aku harus turun tangan sepertinya. Aku harus tanyakan langsung pada Adam.


“Maaf kalau tante lancang. Tapi kemana suami saudara kembarmu itu? Kenapa dia tidak tinggal bersama malah menumpang di apartemen?”


Emilia menghela nafas panjang. Agak sulit untuk menjelaskan keadaan ini. Tapi akhirnya ia mulai menceritakan semua yang terjadi pada Anita. Entahlah, rasanya nyaman saja bercerita dengan wanita paruh baya di depannya itu.


Anita mendengarkan cerita Emilia dengan seksama sambil sesekali mengangguk. Sekarang dia sudah paham duduk cerita yang sebenarnya.


Adam, kau tidak boleh tinggal dengan Emelda yang sudah mengkhianatimu. Jangan sampai kau termakan rayuannya dan kembali padanya. Menantuku pokoknya cuma satu, Emilia.


Anita berencana akan bertemu Adam dan berbicara padanya. Ia khawatir akan timbul cinta segitiga jika mereka tinggal bersama. Terlebih lagi melihat Emilia yang mudah mengalah dan sangat polos, ia tak mau nantinya Emelda merebut kembali hati Adam.