
Rumah dua lantai yang bercat putih itu kini terlihat ramai. Tampak makanan dan minuman sudah terhidang dengan rapi di atas meja makan. Tak ketinggalan aneka ragam cake dan puding di meja lain yang tak jauh dari sana.
Dari pintu gerbang rumah itu, tampak beberapa mobil mewah memasuki halaman rumah. Mobil itu adalah mobil yang ditempati Ian beserta keluarganya, termasuk keluarga Adam juga. Sedangkan mobil lain mengangkut hantaran untuk Alyssa dan keluarganya dalam jumlah yang banyak.
Mulai dari pakaian, tas, sepatu, bahkan perhiasan mahal pun tampak berjejer disana. Ian yang merupakan tangan kanan dari pengusaha kaya seperti Adam, tentunya mempunyai gaji yang fantastis dan sangat mampu untuk membelikan semua barang mewah untuk calon istrinya.
Sementara itu seorang gadis dengan gaun brukat lengan pendek berwarna soft pink yang panjang hingga selutut, terlihat sangat cantik dengan riasan natural berwarna pink juga. Rambutnya yang biasa lurus kini terlihat bergelombang di bagian bawahnya.
“Kau cantik sekali, Sayang. Ayo kita turun ke bawah. Sepertinya rombongan calon suamimu sudah sampai,” ucap seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu dari Alyssa.
“Mom, tapi aku gugup sekali.” Alyssa yang selalu percaya diri itu tampak gugup di hari lamarannya.
“Tarik nafas dalam-dalam, lalu hembuskan perlahan. Santai saja. Kau justru senang akan semakin dekat dengan pria yang kau cintai.”
“Iya, Mom. Tapi aku tidak menyangka akan secepat ini.”
“Ya sudah, kalau belum siap, tinggal bilang saja nanti pada mereka agar lamarannya diundur.”
“Jangan, jangan. Jangan dong, Mom. Aku malah menantikannya.”
Ibu dari Alyssa terkekeh. “Tadi bilang secepat ini, sekarang bilang menantikannya. Ada -ada saja. Ya sudah, ayo kita turun.”
“Baik, Mom.”
Alyssa didampingi ibunya pun turun ke lantai bawah tempat dimana Ian dan keluarganya sudah menunggu.
Deg.
Hati Ian terasa bergetar melihat sosok Alyssa yang tampak cantik dan anggun saat menuruni tangga. Matanya terasa enggan berkedip karena tak ingin melewati setiap keindahan yang terpancar dari wanita pujaan hatinya.
Dia satu-satunya wanita yang selalu membuat jantungku berdebar. Kau cantik sekali hari ini, Alyssa. Puji Ian dalam hati.
Adam melirik ke arah Ian. Ia menarik ujung bibirnya sekilas. Ia tau, Ian pasti sedang berdebar-debar saat ini. Matanya saja tak lepas memandangi Alyssa mulai dari turun tangga sampai sudah duduk di sebelah ayahnya saat ini.
Richard selaku ayah dari Ian membuka pembicaraan, menyampaikan niatnya datang bersama keluarga untuk melamar Alyssa menjadi istri Ian. Ayah Alyssa yang juga seorang dokter menyambutnya dengan hangat. Kemudian ia bertanya pada Alyssa untuk memastikan apakah anaknya setuju atau tidak atas lamaran tersebut.
“Kalau Daddy dan Mommy sudah merestui, maka Alyssa setuju,” jawab Alyssa yang disambut senyum bahagia dari kedua belah keluarga.
Selanjutnya mereka langsung menentukan tanggal pernikahan yang akan dilaksanakan bulan depan karena baik Ian maupun Alyssa masih ada kewajiban pekerjaan yang harus diselesaikan.
***
Setelah mencapai kesepakatan, acara selanjutnya adalah makan bersama. Kedua keluarga yang baru bertemu itu tampak bisa saling membaur dengan mudah satu sama lain. Lalu mereka mengobrol bersama membahas masalah pernikahan dan sesekali membahas pekerjaan masing-masing.
Tampak Ian yang baru berjalan keluar dari kamar mandi diikuti oleh Alyssa di belakangnya.
“Pssst...psst...pssst...pssst...” Alyssa memanggil Ian dengan mendesis seperti ular di belakangnya.
Ian hanya cuek dan tetap berjalan meskipun mendengar itu, sebab ia tak tau bahwa yang di belakangnya adalah Alyssa.
“Kak Ian,” panggil Alyssa dengan pelan agar tak terdengar oleh yang lain.
Barulah Ian menoleh ke belakang. Ian menaikkan satu alisnya mendengar Alyssa memanggilnya dengan panggilan itu.
“Kenapa memanggilku begitu?” tanya Ian lagi sambil melipat tangannya di atas dada.
“Soalnya kemarin saat aku menyebut nama Kak Ben, kau terlihat cemburu. Sepertinya kau ingin ku panggil kakak juga. Jadi ya sudah, aku panggil Kak Ian saja. Boleh kan?”
Ian tersenyum. “Waktu itu aku pikir dia adalah kekasihmu, makanya aku cemburu. Tapi kalau kau mau memanggilku itu tidak apa-apa. Aku senang mendengarnya,” jawab Ian yang membuat Alyssa ikut tersenyum.
Setelah itu hening di antara keduanya. Ian hanya menatap calon istrinya itu dalam-dalam. Wanita di depannya terlihat sangat cantik di matanya. Wanita yang tak sengaja ia temui beberapa kali dengan cara yang unik. Selalu bertabrakan dengannya dan berakhir jatuh di pelukannya.
“Kau sangat cantik sekali hari ini, Alyssa,” ucap Ian yang membuat pipi Alyssa merona merah.
Sejak kapan kau pintar merayu begini? Jantungku kan jadi tidak stabil, Kak. Pekik Alyssa dalam hati.
Belum sempat Alyssa bersuara, tiba-tiba terdengar suara dari belakang Ian yang seolah-olah menirukan suara dirinya.
“Terimakasih, Kak. Kau juga tampan.”
Ian dan Alyssa sontak menoleh ke sumber suara. Rupanya itu adalah Ben, kakak sepupu Alyssa. Sambil mengulum tawa di bibirnya Ben pun mendekat ke arah Ian dan Alyssa yang terlihat salah tingkah. Lalu Ben mengulurkan tangan pada Ian yang langsung disambut oleh Ian.
“Aku Ben, kakak sepupu Alyssa. Dia sudah seperti adik kandungku, karena kami sama-sama anak tunggal. Tolong jaga dia baik-baik, aku yakin kau pria yang dapat membuatnya bahagia,” kata Ben memberi pesan.
“Aku akan menjaganya dengan nyawaku. Dan aku akan berusaha untuk selalu membuatnya bahagia. Kau bisa pegang janjiku,” jawab Ian dengan penuh kesungguhan.
“Baiklah, aku percaya padamu.”
Setelah itu Ben pun berlalu dari sana. Alyssa yang berniat mengikuti Ben jadi terhenti karena Ian tiba-tiba menarik tangannya dan membuat jarak yang sangat dekat di antara mereka.
“Ada apa?” tanya Alyssa dengan jantung yang berdegup kencang karena hembusan nafas Ian dapat tercium olehnya.
“Kau sangat cantik, Alyssa,” ucap Ian yang membuat Alyssa terasa terbang ke angkasa. Aroma nafas mint dari pria itu berhasil membuatnya menggila. Tanpa sadar Alyssa malah makin mendekatkan wajahnya.
“Ekhem...ekhem...”
Suara deheman yang keras dari belakang membuat mereka kembali tersentak dan menciptakan jarak yang tak sedekat tadi. Kali ini Adam pula lah yang menjadi pengganggu.
“Aku hanya ingin ke toilet,” ucap Adam dengan santai.
Saat melewati Ian Adam sempat berbisik, "tahan sebentar. Hanya satu bulan.”
Lalu tanpa merasa berdosa Adam berlalu begitu saja.
Sudah dua kali tertangkap basah seperti itu membuat Alyssa jadi malu. Apalagi tadi dia duluan yang berinisiatif mendekatkan wajahnya ke wajah Ian.
“Se-sebaiknya ki-kita kembali ke depan saja,” ucap Alyssa yang sudah salah tingkah lalu cepat-cepat pergi ke ruang tengah tempat keluarga mereka berada.
Ian menghela nafas dengan berat melihat punggung Alyssa semakin menjauh darinya.
Hahhh, sabar, hanya satu bulan.