My Name Is Emilia

My Name Is Emilia
73. Petuah Ian



Setelah bertengkar dengan Emilia, Adam kehilangan moodnya hari itu. Ian yang sedang menyetir melirik dari spion wajah tuannya yang terlihat masam dari tadi. Ian dapat menebak ini pasti ada masalah dengan Emilia dan Emelda sebagai biangnya.


“Apa ada masalah, Tuan? Sepertinya ada prahara rumah tangga,” tanya Ian sambil menyindir.


“Kau sudah bosan kerja denganku, ya?” ketus Adam.


“Maaf, Tuan. Kalau memang ada masalah, Tuan bisa cerita pada saya. Siapa tau saya bisa memberikan solusi.”


“Solusi dari masalah ini cuma satu. Emelda angkat kaki dari apartemenku.”


Kan benar tebakanku. Batin Ian.


“Apa Nona Emilia cemburu pada anda saat berdekatan dengan Nona Emelda?” tanya Ian.


“Bagaimana kau bisa tau?” kata Adam balik bertanya.


“Siapapun pasti bisa menebaknya, Tuan. Saat masa lalu dan masa depan berada di tempat yang sama di masa sekarang, pasti akan menimbulkan masalah. Mereka akan bersaing. Dan salah satu di antara mereka pasti ada yang cemburu,” jawab Ian penuh filosofi.


“Cih, kepalamu terbentur dimana tadi pagi sampai bisa berbicara seperti itu?”


Ian terkekeh mendengar pertanyaan Adam yang meremehkannya.


“Anda harus bisa tegas menentukan sikap, Tuan. Jangan mudah terbawa arus. Masa lalu selalu punya kesempatan mengambil alih perhatian anda karena dia punya kenangan bersama yang mampu ia bangkitkan. Tapi apa anda mau hidup dengan masa lalu yang pernah menorehkan luka di hati anda, Tuan?”


Adam terdiam sejenak mencerna perkataan dari Ian. Apa yang ia katakan semuanya terasa benar.


“Anda punya masa depan yang sudah susah payah anda perjuangkan, Tuan. Silahkan Tuan ingat kembali apa saja yang sudah Tuan lalui, pengorbanan apa saja yang sudah Tuan lakukan sampai saat ini untuk meraih masa depan Tuan. Lalu apa Tuan dengan mudah mau menyerah begitu saja? Anda sudah memilih siapa masa depan anda, Tuan. Anda harus memperjuangkannya,” tambah Ian.


Lagi-lagi Adam merasa apa yang dikatakan Ian benar semuanya.


“Nona Emilia terlalu polos dan baik hatinya, Tuan. Niatnya baik mau membantu saudara sendiri. Tapi dia tidak sadar Nona Emelda itu licik dan tidak sebaik dirinya. Tuan yang sudah paham betul sifat mereka seharusnya Tuan bisa lebih tegas. Disinilah kesetiaan Tuan yang sesungguhnya sedang diuji,” lanjut Ian.


“Tapi buktinya Tuan sampai bertengkar dengan Nona Emilia,” sela Ian.


“Emelda hanya membantu membetulkan dasiku dan Emilia tidak sengaja melihatnya. Hanya itu.”


“Kalau Tuan melihat Nona Emilia membetulkan dasi saya, apa yang akan Tuan lakukan?”


Ian sengaja memancing reaksi Adam.


“Kalau itu sampai terjadi, aku akan mencekik lehermu sampai patah,” jawab Adam dengan emosi. Sedangkan Ian hanya terkekeh mendengarnya. Ia tau reaksi Adam akan seperti itu.


“Nah, Tuan bisa lihat sendiri kan. Saya dan Nona Emilia tidak pernah menjalin hubungan apa-apa. Tapi Tuan bahkan ingin mematahkan leher saya kalau Nona Emilia membetulkan dasi saya. Bagaimana dengan perasaan Nona Emilia? Apa salah kalau dia cemburu pada Tuan? Tuan jangan lupa, cemburu itu tanda cinta.”


Ian berhasil membungkam Adam dengan penjelasannya. Adam terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Jadi, aku harus bagaimana?”


“Kalau itu hanya Tuan yang bisa menentukan harus bagaimana. Yang jelas, Tuan harus buktikan kesetiaan Tuan pada Nona Emilia. Dan jangan mudah dirayu oleh Nona Emelda.”


“Bicara memang gampang. Kalau kau ada di posisiku belum tentu kau bisa bersikap dengan benar.”


“Untuk itu, berhati-hatilah dalam mengambil sikap, Tuan, karena ada hati yang harus Tuan jaga.”


Huuhhhh! Adam menghembuskan nafas dengan kasar. Masalah ini rasanya lebih rumit daripada mengurus masalah di perusahaannya. Benar kata Ian, kalau dia tidak hati-hati dalam mengambil sikap, bisa-bisa hubungannya dengan Emilia akan semakin renggang atau bahkan putus.


Adam bersandar di kursi mobil sambil memijit keningnya yang terasa pusing. Ian melirik dari spion dan menggelengkan kepalanya.


Rumit sekali kisah cinta anda, Tuan. Aku jadi penasaran bagaimana kisah cintaku nanti, ya? Ah, pokoknya aku tidak mau menjalin hubungan dengan wanita yang punya saudara perempuan. Kalau bisa sama anak tunggal saja sama sepertiku. Jadi tidak akan ada drama perebutan cinta saudara sendiri. Gumam Ian dalam hati.