
Adam langsung pergi ke kantornya setelah keluar dari kamar Emilia. Ia jadi tidak berselera makan setelah mendapat penolakan dari Emilia. Ia merasa Emilia tidak mau bertemu dengannya saat itu.
Emilia sendiri masih menghabiskan waktu di kamar mandi dengan menangis karena kecewa pada Adam. Bukan hanya pada Adam, tapi juga pada kembarannya, Emelda. Emilia mulai merasa ada yang janggal. Ia berniat bicara empat mata dengan Emelda tentang Adam.
Siangnya, Emelda tampak duduk di sofa ruang tengah sambil menonton TV. Emilia yang baru saja keluar dari kamar segera menghampirinya. Emilia duduk di sofa lain dekat Emelda.
“Emelda, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu,” ucap Emilia tanpa basa-basi.
Emelda melihat raut wajah serius dari Emilia. Ia mengambil remote di atas meja lalu mematikan TV itu dan memposisikan duduknya menghadap Emilia.
“Ada apa? Sepertinya kau ingin menanyakan sesuatu yang serius,” tanya Emelda.
“Ya, ini sangat serius. Aku butuh jawaban yang jujur darimu. Ini tentang Adam,” jawab Emilia.
Emelda sempat terkejut. Ia tak menyangka akan secepat ini Emilia membahas tentang Adam padanya. Tapi kemudian ia mulai tersenyum sinis. Ia merasa sudah tidak ada yang perlu ditutup-tutupi lagi. Ia akan mengatakan perasaannya yang sebenarnya tentang Adam.
“Kau sudah bisa menebaknya?” tanya Emelda lagi.
“Jadi benar kau masih menyimpan perasaan pada Adam?” kata Emilia balik bertanya.
“Dari dulu perasaanku padanya tidak pernah berubah. Aku masih mencintainya. Dan aku mau dia kembali padaku seperti dulu,” jawab Emelda dengan terang-terangan.
Emilia terkejut mendengar jawaban Emilia. Ia sampai menyipitkan matanya melihat saudara kembarnya itu. Emelda terlihat tidak main-main dengan ucapannya.
“Apa kau tidak sadar? Kau sedang mengandung anak Darius,” ucap Emilia.
“Darius? Hah! Kita sama-sama tau dia ada di penjara dan entah kapan dia akan keluar dari sana. Aku tidak mau anakku lahir tanpa ayah. Aku mau Adam kembali padaku dan menikah denganku. Setelah itu kami sama-sama membesarkan anak dalam kandunganku ini,” kata Emelda yang lagi-lagi membuat Emilia terkejut.
“Tapi itu anak Darius, bukan anak Adam. Adam mencintaiku saat ini dan aku sudah bilang padamu kan, dia sudah melamarku. Kau hanya masa lalunya, Emelda. Jadi berhentilah mengharapkan Adam kembali padamu.”
“Tidak! Adam mencintaiku sebagai Emilia, karena diriku sendiri. Bukan karena dia menganggapku adalah dirimu!”
“Kau yakin?”
“Kenapa tidak. Aku percaya pada Adam. Dia tidak akan mengkhianatiku karena dia sudah tau bagaimana sakitnya dikhianati.”
Emilia sengaja bilang begitu dengan maksud menyindir Emelda.
“Kau sangat percaya diri sekali, Emilia. Lihat saja nanti, kau akan tau bahwa Adam masih mencintaiku. Dan kau, kau hanya ia anggap sebagai bayang-bayangku saja.”
Emilia menghembuskan nafas dengan kasar. Kalau tidak ingat Emelda sedang hamil besar, mungkin sudah dari tadi ia melayangkan tamparan ke pipi Emelda. Ada rasa menyesal juga dalam hatinya sekarang karena telah mengajak Emelda tinggal bersama dengannya di apartemen Adam. Dia tidak habis pikir, ternyata Emelda tega merebut Adam dari dirinya.
“Aku mengajakmu tinggal disini karena aku masih menganggapmu saudara kandungku. Aku peduli padamu dan bayi yang kau kandung. Apa begini balasan yang kau berikan padaku? Kenapa kau tega mau merebut Adam dariku?” Emilia berusaha untuk melunak membujuk Emelda.
“Tapi aku mencintai Adam. Sampai kapanpun aku akan tetap mencintainya. Kau yang merebutnya dariku, kau yang mengambil posisiku. Seharusnya aku yang berada di sampingnya. Seandainya bayi ini tidak ada, aku sudah bahagia menikah dengannya. Aku masih tunangannya.” Emelda tak mau mengalah. Ia masih ngotot ingin mempertahankan pendapatnya.
Emilia merasa lelah. Ia merasa tidak ada gunanya berdebat dengan Emelda saat ini. Yang penting sekarang ia tau sifat asli Emelda. Dia harus berhati-hati pada kembarannya sendiri.
Emilia pun berdiri dan menatap Emelda yang masih duduk.
“Tidak ada gunanya bicara padamu. Aku hanya minta padamu, tolong jauhi Adam.”
Emelda ikut berdiri dan menatap Emilia dengan tatapan permusuhan.
“Tidak semudah itu memintaku menjauhinya, Emilia. Malam ini aku akan membujuknya kembali lagi padaku. Dan kita lihat saja nanti, siapa yang akan dia pilih. Dengan begitu kau akan tau, siapa yang lebih dia cintai.”
Emelda lalu pergi meninggalkan Emilia sendiri disana. Emilia terduduk di sofa dengan hati yang berkecamuk. Tidak dipungkiri, ia merasa khawatir kalau ternyata Adam memang masih mencintai Emelda.