
Emilia dan Ian masuk ke rumah sakit, lalu mereka bertanya pada salah satu petugas disana dimana ruangan untuk pemeriksaan kandungan. Setelah mendapat informasi, mereka pun bergegas ke ruangan yang dimaksud.
Belum sampai di ruangan tersebut, Emilia dan Ian sudah terkejut duluan melihat sosok yang mereka cari. Mereka melihat Emelda dan Darius di koridor dekat ruang pemeriksaan kandungan. Sepertinya Emelda baru saja selesai memeriksakan kandungannya.
Ian mematung melihat wanita yang ia tau sudah meninggal itu masih hidup. Ia melihat Emelda berjalan bergandengan dengan Darius dan satu tangannya mengusap-usap perutnya yang buncit. Lalu siapa mayat yang dulu mereka makamkan? Ia pun teringat waktu itu mereka tidak sempat melihat wajah mayat Emelda karena kata dokter wajahnya mengalami kerusakan akibat kecelakaan sehingga tak bisa dikenali.
Bukannya langsung menghampiri, mereka berdua malah diam sejenak dengan pemikiran masing-masing. Emilia jadi ragu ingin menghampiri Emelda. Apa sebaiknya ia urungkan saja niatnya? Dengan begitu ia akan tetap bersama Adam dan berpura-pura tidak tau kalau Emelda masih hidup. Tapi ia juga penasaran dengan apa yang terjadi pada Emelda sebenarnya. Lagipula lambat laun Adam bisa saja mengetahui kebenarannya.
“Kau sudah lihat sendiri kan?” tanya Emilia membuyarkan lamunan Ian.
Ian mengangguk,”Iya, Nona. Sekarang saya sudah yakin dia masih hidup. Tapi apakah Nona Emelda sedang hamil? Anak siapa yang dikandungnya? Saya yakin itu bukan anak Tuan Adam.”
“Kenapa kau bisa seyakin itu kalau anak yang dikandungnya bukan anak Adam?”
“Saya kenal betul Tuan Adam, Nona. Dia sangat menghargai wanita. Dia tidak akan menyentuh wanitanya sebelum menikah.”
Syukurlah kalau memang anak itu bukan anak Adam. Entah kenapa aku sedikit lega mendengarnya. Setidaknya aku tau Adam memang pria baik-baik. Batin Emilia.
“Jadi bagaimana, Nona? Kita temui mereka sekarang? Nona sudah yakin dengan keputusan Nona kan?”
“Iya. Kita harus menemui mereka. Lambat laun semua akan terbongkar. Adam juga nantinya akan tau tentang hal ini,” jawab Emilia.
“Baiklah Nona, kita kejar mereka sekarang. Mereka sudah tidak terlihat lagi,” kata Ian.
Emilia melihat ke depan dan benar mereka sudah tidak terlihat lagi. Emilia dan Ian pun kembali menyusul Emelda dan Darius. Sementara itu Adam yang menyusul mereka masuk ke rumah sakit, melihat mereka berdua jalan dengan tergesa-gesa seperti mengejar sesuatu.
Emilia dan Ian sudah sampai ke tempat pengambilan obat, tapi mereka tak menemukan Emelda dan Darius. Akhirnya mereka berlari ke parkiran, tapi lagi-lagi mereka kehilangan jejaknya. Emilia dan Ian mengedarkan pandangan ke seluruh parkiran, tapi yang mereka cari tidak ketemu.
“Kemana perginya mereka? Kenapa bisa hilang secepat ini?” kata Ian merasa kesal tidak dapat mengejar Emelda dan Darius.
“Mereka pasti langsung pulang setelah memeriksakan kandungan. Seharusnya tadi kita tidak mencari ke apotek. Maunya tadi kita langsung kesini,” imbuh Emilia.
“Bisa jadi, Nona. Atau jangan-jangan mereka masih di dalam?” kata Ian menerka.
“Aku tidak yakin. Tapi kita bisa coba cari lagi di dalam, mumpung masih disini,” jawab Emilia.
Baru saja mereka membalikkan badan untuk kembali lagi ke dalam rumah sakit, tiba-tiba Adam sudah muncul di depan mereka. Emilia dan Ian sampai terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa. Emilia menatap mata Adam, terlihat ada kemarahan disana. Sepasang mata itu menatap tajam dua orang yang ada di depannya.
Buggghhh! Satu pukulan mendarat ke pipi Ian hingga membuatnya tersungkur ke lantai.
“Adaammm!” pekik Emilia.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Emilia dengan panik.
Emilia baru saja hendak berjongkok menolong Ian, tapi tangannya sudah ditarik dengan keras oleh Adam.
“Apa yang aku lakukan katamu? Seharusnya aku yang bertanya apa yang kalian lakukan?” bentak Adam hingga membuat Emilia bergidik ketakutan. Ia melihat Adam sangat marah sekarang.
“Adam, tolong dengar dulu penjelasanku. Ini pasti ada kesalah pahaman,” kata Emilia dengan lembut agar Adam tidak semakin emosi.
“Ya, kau benar. Ada kesalahan disini. Aku salah karena mempercayai pengkhianat seperti dia yang berani-beraninya mendekatimu,” kata Adam masih dengan nada tingginya sambil menunjuk ke arah Ian.
Ian berusaha bangkit dan berdiri di depan Adam. Ia tau bosnya pasti salah paham karna itu dia terlihat sangat marah pada dirinya dan Emilia.
“Tuan, maaf Tuan. Ini semua tidak seperti yang Tuan pikirkan. Saya tidak pernah ada niat untuk mendekati Nona Emilia,” kata Ian berusaha menjelaskan.
“Tutup mulutmu! Kau pikir aku bodoh? Kalian saling teleponan di belakangku, lalu bertemu diam-diam, jadi kau pikir itu apa, hah?”
Adam marah karena cemburu. Dia sangat cemburu saat tau Emilia diam-diam menelepon Ian. Bahkan mereka juga bertemu berdua tanpa sepengetahuan Adam. Padahal selama ini Ian tidak pernah menutupi apapun dari Adam. Tapi kali ini ia malah berhubungan secara diam-diam dengan Emilia, pikir Adam.
“Tuan, kami bisa jelaskan. Tuan tenang dulu, kami benar-benar tidak ada hubungan apa-apa di belakang, Tuan.”
“Omong kosong!”
Buggghhhh! Satu pukulan lagi mendarat di pipi Ian. Tapi kali ini tidak membuatnya tersungkur karena Ian sempat menghindar sedikit dari Adam.
“Cukup Adam! Cukup! Kami melakukan semua itu bukan karena ada hubungan apa-apa, tapi karena Emelda,” pekik Emilia dengan lantang.
“Emelda?” tanya Adam yang kini menatap Emilia dengan penuh tanda tanya.