
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Setelah menyelesaikan pekerjaannya di rumah sakit, Alyssa terlebih dahulu pulang ke rumahnya untuk mandi dan berganti pakaian agar bisa tampil lebih fresh di depan Ian.
Berbekal alamat yang diberikan oleh dokter Harris, Alyssa dengan antusias mengendarai mobilnya menuju ke apartemen tempat Ian tinggal. Hanya butuh waktu kurang lebih setengah jam, Alyssa pun sampai di apartemen Ian.
Alyssa sudah berada di depan pintu apartemen. Sebelum menekan bel, ia terlebih dahulu merapikan rambutnya yang panjang terurai serta mengeluarkan dompet Ian dari dalam shoulder bag nya.
Tiiittttt tiiitttt tiiittt.
Ian baru saja selesai mandi, saat sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, ia mendengar suara bel apartemennya. Ian melemparkan handuk itu ke atas tempat tidur, lalu keluar dari kamar untuk memeriksa siapa yang datang.
Saat melihat ke layar interkom yang ada di samping pintu, Ian terkejut karena ternyata Alyssa yang datang ke apartemennya.
Mau apa dia kesini? Trus darimana dia bisa tau dimana aku tinggal?
Ian melihat lagi ke layar itu.
Apa dia mau memberiku undangan pernikahannya? Ah, biarkan sajalah. Nanti pasti pergi sendiri.
Ian membalikkan badannya, tak jadi membukakan pintu. Baru beberapa langkah, terdengar bel itu kembali dipencet tanpa jeda oleh Alyssa.
Ian berdecak kesal. Mau tidak mau ia terpaksa membukakan pintu untuk Alyssa.
Ceklek.
Pintu dibuka dari dalam. Alyssa dengan wajah berbinar menatap pria yang ada di depannya. Apalagi saat ini Ian hanya menggunakan kaos polos berwarna putih yang membentuk tubuh sixpacknya serta celana training panjang warna abu-abu. Ian terlihat sangat gagah di mata Alyssa yang selama ini selalu melihatnya dalam balutan kemeja.
Rambut Ian yang masih belum kering sempurna, serta bekas goresan di dahinya membuat Ian tampil fresh dan tampan berkali-kali lipat bagi Alyssa.
“Ada apa?” tanya Ian yang mengacaukan imajinasi wanita di depannya.
“Oh...ekhem...i-ini Tuan, saya mau mengembalikan dompet Tuan yang tertinggal di rumah sakit,” jawab Alyssa seraya mengulurkan dompet kepada Ian.
Ian melihat dompet itu. Benar, itu dompet yang dia cari. Tapi kenapa harus Alyssa yang mengembalikannya?
Ian pun menerima dompet itu, tapi saat ia menariknya dari tangan Alyssa, wanita itu malah menahan dompet tersebut.
“Saya mau bicara sesuatu dengan Tuan.”
“Aku tidak ada waktu.”
“Please, hanya sebentar, Tuan.”
Ian mendengus. “ Bicaralah sekarang.”
“Boleh saya bicara di dalam?”
Ian berdecak lalu menarik dompetnya dari tangan Alyssa. “Aku tidak mau berurusan dengan pacar orang.”
Ian hendak menutup pintu tapi dengan cepat Alyssa mendorongnya kembali lalu masuk ke apartemen itu dengan paksa.
“Kenapa kau masuk tanpa seijinku?” tanya Ian dengan kesal.
“Saya ingin bicara dengan Tuan.”
“Sudah aku bilang aku tidak mau berurusan dengan pacar orang. Sebaiknya kau keluar sebelum ada yang melihatmu masuk kesini,” usir Ian secara terang-terangan.
Alyssa mengerutkan dahinya. Ian berkali-kali mengatakan bahwa dirinya adalah pacar orang. Orang mana yang dia maksud?
“Pacar orang? Siapa maksud Tuan? Saya? Saya tidak punya pacar,” kata Alyssa menunjuk ke dirinya sendiri.
“Hahahahaha,” Ian tertawa sinis mendengar perkataan Alyssa.
“Pria yang makan di kantin? Beberapa hari lalu...,” Alyssa masih mencoba mengingat siapa yang dimaksud Ian. Tak lama ia pun tau siapa pria itu.
“Maksud Tuan, Kak Ben?” tanya Alyssa.
Cih, bahkan dia memanggil nama pria itu dengan mesra. Apa itu Kak Ben? Sok-sokan panggil kakak. Cemooh Ian dalam hati.
“Aku tidak peduli siapa namanya,” ketus Ian.
Tidak peduli tapi anda bahkan mengingatnya. Sebenarnya ada apa dengan anda Tuan? Apa anda sedang cemburu? Katakan kalau iya. Batin Alyssa.
“Dia bukan pacar saya. Tapi kakak sepupu saya. Dia bahkan sudah menikah dan punya dua anak. Kami bertemu di rumah sakit waktu dia menjenguk salah satu temannya yang dirawat disana,” jelas Alyssa.
Eh? Kakak sepupunya?
Ian cukup terkejut dengan penjelasan Alyssa. Jadi selama ini dia hanya salah paham saja? Rasanya ia ingin lompat-lompat bahkan salto kalau perlu saking senangnya. Wanita idamannya ternyata masih lajang. Tapi bukan Ian namanya kalau tidak bisa mengontrol emosi dengan baik. Meskipun senang, ia berusaha untuk tetap tenang dan biasa saja.
"Sekarang saya ingin bertanya pada Tuan. Kenapa Tuan bisa bertanya tentang kejadian itu? Apa sebenarnya...Tuan....Tuan menyimpan rasa pada saya? Apa Tuan cemburu melihat saya dengan pria lain?” tanya Alyssa secara spontan.
Ian terdiam. Ia bingung mau menjelaskan perasaannya seperti apa.
“Apa Tuan mencintai saya?” Lagi-lagi pertanyaan Alyssa membuat lidahnya beku untuk menjawab.
Alyssa melihat Ian tak bergeming. Entah apa yang ada di pikiran pria itu pun dia tak tau. Raut kekecewaan menjalar di wajahnya. Sepertinya ia terlalu berharap pada Ian.
“Sepertinya perasaan kita tidak sama,” ucap Alyssa dengan pelan.
“Baiklah, kalau begitu maaf mengganggu Tuan. Saya permisi dulu.”
Baru saja hendak berbalik, Ian segera menahan Alyssa. “Tunggu!”
Alyssa kembali menghadap Ian dengan jarak yang lebih dekat dari tadi, karena saat ini kedua tangan Ian sudah berada di sisi kiri dan kanan Alyssa dengan bertumpu pada pintu.
Deg.
Jantung keduanya sama-sama berpacu dengan cepat. Ian menatap dalam-dalam kedua bola mata indah milik Alyssa.
“Jika kau tanya apakah aku mencintaimu, aku hanya bisa bilang, jantungku selalu berdebar saat bersamamu, wajahmu selalu muncul dalam pikiranku, dan aku tiba-tiba marah saat melihatmu dengan pria lain. Lalu, jelaskan padaku, apa itu namanya cinta? Tolong bantu aku untuk meyakinkan perasaanku,” ucap Ian dengan penuh kesungguhan.
Alyssa merasa tersentuh, matanya bahkan sudah berkaca-kaca mendengar ungkapan hati Ian padanya. Ini yang sudah lama ia nantikan. Ian berhasil menciptakan ribuan kupu-kupu menari indah di sekitarnya.
“Saya akan membantu meyakinkan perasaanmu,” ucap Alyssa dengan lirih.
Alyssa pun berjinjit lalu menempelkan bibirnya dengan bibir pria di depannya. Ia mengecup dengan lembut dan penuh cinta.
Tapi...ada yang aneh rasanya. Ian tidak bereaksi apa-apa.
Alyssa kembali menapakkan kakinya dengan sempurna ke lantai seraya melepas tautannya.
“Kenapa diam saja?” tanya Alyssa malu-malu.
“A-aku ti-tidak tau cara melakukannya,” jawab Ian dengan terbata. Ketara sekali pria itu tengah gugup saat ini.
Gubrak!
Alyssa makin merasa malu. Ternyata pria di depannya ini sepolos itu. Tapi tiba-tiba sisi jail Alyssa muncul. Rasanya ia akan sedikit mengerjai Ian yang polos masalah ini.
“Ohhh, tidak apa-apa. Kita bisa mempelajarinya,” kata Alyssa dengan senyum smirknya.
“A-apa? Mempelajarinya?” tanya Ian dengan mata yang hampir melompat keluar.