My Name Is Emilia

My Name Is Emilia
114. Leon dan Lyla



“Kak, ayo cepat kesini...” teriak seorang gadis kecil berusia enam tahun.


Gadis kecil berambut ikal panjang dengan jepit rambut berbentuk bunga di kepalanya berlari di halaman belakang rumahnya menuju ke sebuah ayunan yang berada disana.


“Jangan lari-lari, nanti jatuh, Lyla,” kata sang kakak laki-laki sambil  mengejar adiknya dari belakang.


Setelah sampai di ayunan, gadis kecil itu langsung duduk manis disana.


“Kak Leon, ayo dorong ayunannya. Aku mau main ayunan,” pinta Lyla sambil menggerak-gerakkan kakinya.


Anak laki-laki bernama Leon itu tampak mendengus, tapi ia tetap saja menuruti permintaan adiknya yang manja itu. Ia mendorong ayunan itu hingga membuat adiknya sangat senang berayun-ayun disana.


Ya, mereka adalah Leon dan Lyla anak kembar dari Adam dan Emilia. Saat ini mereka sudah berusia 6 tahun. Mereka tumbuh menjadi anak yang sehat dan berparas cantik juga tampan.


Leon sebagai kakak selalu over protective pada adiknya, Lyla. Ia juga lebih mandiri dibandingkan adiknya. Mereka mempunyai sifat yang sangat bertolak belakang. Leon tak hanya wajahnya saja yang mirip Adam, ayahnya. Tapi sifatnya pun hampir sama dengan ayahnya. Ia juga sering kali mengatur-atur adiknya tidak boleh ini, tidak boleh itu, hingga terkadang membuatnya bertengkar dengan adiknya sendiri. Jika sudah bertengkar, ia akan mudah mengalah pada adik tersayangnya.


Lyla sendiri tumbuh menjadi gadis kecil yang sangat manja dan selalu ceria. Rambutnya yang bergelombang sangat mirip dengan ibunya, tapi wajahnya menurun dari wajah ayahnya juga. Ia sangat manja pada orang tuanya dan juga kakaknya. Meskipun menurutnya Leon sangat cerewet karena suka mengaturnya, tapi ia tetap patuh pada kakaknya.


“Kakak, ayo dorong lebih kuat lagi...aku mau terbang tinggi-tinggi,” pinta Lyla pada Leon.  


“Tidak, nanti kau jatuh. Segini saja sudah cukup,” tolak Leon dengan wajah datarnya.


“Kakak, tidak asik. Kalau main dengan Tisya dan Valencia pasti lebih seru,” kata Lyla menyebut nama anaknya Ian dan Alyssa juga Valencia sepupunya.


“Aku juga akan melarang kalian main ayunan terlalu tinggi. Itu bahaya, Lyla. Kau lupa ayah dan ibu pesan apa? Tidak boleh nakal,” kata Leon mengingatkan.


Lyla mengerucutkan bibirnya. Ia sedang ngambek pada kakaknya. Leon menghentikan ayunan itu, lalu meraih tangan adiknya.  


“Sudah, jangan cemberut, nanti tidak cantik lagi. Adiknya kakak harus selalu cantik.” Leon memang paling bisa membuat adiknya kembali tersenyum.


“Lihat itu siapa yang datang!” Leon menunjuk ke arah dua gadis kecil yang berlarian menghampiri mereka.


“Bestie mu sudah datang,” kata Leon meledek adiknya.


“Lyla....Kak Leon.......” teriak Tisya dan Valencia sambil berlari.


Valencia berusia 7 tahun, sedangkan Tisya berusia sama dengan Leon dan Lyla yakni 6 tahun, hanya saja Tisya lebih muda 5 bulan dari dua kembar itu.


“Tisya, Valencia, kalian datangnya barengan, ya?” tanya Lyla.


“Iya, tidak sengaja barengan. Pas aku turun dari mobil, eh Tisya juga sampai kesini sama Uncle Ian dan Aunty Alyssa,” jawab Valencia. Tisya hanya mengangguk membenarkan perkataan Valencia.


“Kalau begitu sekarang kita main, yuk. Main apa ya bagusnya?” tanya Lyla sambil mengetuk-ngetuk bibirnya dengan jari telunjuk seolah sedang berpikir keras.


Valencia dan Tisya juga ikut-ikut mengetuk bibir mereka dengan telunjuk meniru Lyla. Leon yang melihat itu hanya berdecih. Ketiga gadis kecil itu memang suka meniru satu sama lain.


“Bagaimana kalau kita bermain sambil berhitung saja?” usul Leon.


“Tidak mau...” jawab mereka bersamaan dengan suara yang keras sehingga Leon harus menutup kupingnya.


“Main sebutkan nama-nama negara dan ibu kotanya, mau?” tanya Leon yang dijawab dengan gelengan oleh tiga gadis kecil itu.


“Kak Leon, kita ini mau main, bukan mau belajar,” protes Tisya.


“Bermain sambil belajar agar otak kalian itu lebih pintar,” sela Leon. Diantara mereka berempat memang Leon yang paling pintar.


“Tidak mau. Bagaimana kalau kita main putri-putrian saja?” usul Lyla.


“Iya, setuju,” sahut Valencia dan Tisya.


“Ck!” Leon berdecak. “Aku tidak ikut. Aku mau masuk ke dalam saja.”


“Kakak, jangan pergi. Nanti siapa yang jadi pangerannya kalau kakak tidak ada?” tanya Lyla.


Leon hanya mengangkat bahunya lalu berjalan menuju ke rumah. Lyla pun berlari menyusul kakaknya.


“Kakak...tunggu...Kakak harus jadi pengerannya...”


“Tidak mau...”