My Name Is Emilia

My Name Is Emilia
96. Pangeran dan Permaisuri



Raut kecemasan terlukis di wajah mempelai wanita yang sudah terlihat sangat cantik dan menawan dengan gaun putihnya. Jantungnya tak henti berdebar menunggu kedatangan mempelai pria. Hatinya tak berhenti berdo'a agar yang ditunggu segera tiba.


“Sayang, tenanglah. Adam sebentar lagi pasti sampai. Ibu sudah meminta Ian mengerahkan semua anak buah untuk mencari Adam dan membawanya kesini. Ayo duduk dulu biar lebih tenang,” bisik Anita yang berdiri di samping Emilia.


Ia tak tega melihat mempelai wanita itu terus berdiri dalam keadaan cemas sehingga mengundang bisik-bisik tak sedap dari para tamu yang memperhatikannya.


Emilia berat untuk menjawab. Ia melihat ke sekeliling, ternyata benar para tamu saat itu sedang memperhatikannya. Ia pun beralih menoleh ke ibu mertuanya lalu mengangguk dengan senyum yang dipaksakan.


Baru saja Emilia hendak duduk di kursinya, tiba-tiba terdengar derap langkah kaki kuda yang memecah keheningan. Emilia sontak membatalkan niatnya untuk duduk dan kembali berdiri melihat ke arah gerbang. Para tamu yang hadir pun ikut menoleh ke belakang.


Tampaklah seekor kuda putih masuk ke halaman dengan membawa seorang pria tampan yang lengkap dengan setelan jasnya. Dialah sang mempelai pria yang datang dengan menunggang kuda bak seorang pangeran dari negeri dongeng.


Barulah terbit seulas senyum manis di wajah Emilia. Senyum yang merekah ibarat bunga yang bermekaran di musim semi. Adam terlihat sangat gagah di matanya. Rupanya Adam terlambat karena mempersiapkan sebuah kejutan untuknya.


Adam pun turun dari kudanya lalu melangkah dengan tegap menuju calon pengantinnya. Dari jauh saja ia sudah bisa melihat wajah cantik Emilia yang mengenakan gaun pengantin berwarna putih. Makin dekat dengan Emilia rasanya jantungnya berdegup makin kencang. Tepat saat berada di depan Emilia, ia malah berlutut disana.


Adam mendongak menatap wajah Emilia dengan seksama. Wajah yang sudah sangat ia rindukan sejak seminggu yang lalu. Kini, wajah cantik itu sudah berada di depannya. Emilia pun balas menatap wajah Adam yang sudah sangat ia nantikan dari tadi. Wajah tampan yang selalu berhasil membuatnya terkesima.


“Maafkan Pangeranmu ini datang terlambat, Permaisuriku. Tadi kudaku kena tilang sebentar,” ucap Adam sambil terkekeh.


Emilia dan mereka yang mendengarkan juga ikut tertawa kecil mendengar ucapan Adam. Suasana yang tadi tegang kini berubah menjadi lebih santai.


“Sudikah Permaisuriku memaafkan keterlambatanku? Kalau iya, sudilah kiranya Permaisuri menyambut tangan ini,” tanya Adam sambil mengulurkan tangannya ke arah Emilia.


Emilia tersenyum. “Tidak ada alasan untuk Permaisuri ini menolak uluran tangan Pangerannya,” jawab Emilia seraya menyambut uluran tangan Adam.


Para tamu pun bertepuk tangan melihat adegan mesra kedua mempelai itu. Tak sedikit yang iri melihat kemesraan keduanya. Namun semua tampak ikut berbahagia.


Adam lalu berdiri dan menggandeng Emilia menuju ke pelaminan. Disana sudah ada pria paruh baya yang akan menikahkan mereka. Akhirnya yang paling dinantikan pun tiba dimana Adam mengucapkan janji setia kepada wanitanya. Suasana berlangsung penuh khidmat dan haru. Adam dan Emilia telah resmi menjadi sepasang suami istri.


Kini mereka sudah berdiri di pelaminan. Satu per satu keluarga dan kerabat menghampiri untuk mengucapkan selamat. Adam sendiri tak begitu mempedulikan tamu-tamu yang datang, ia malah fokus menatap wanita yang baru saja bergelar sebagai istrinya itu.


“Dari tadi kau bilang begitu terus,” sahut Emilia.


Sejak mereka berdiri di pelaminan Adam memang tak henti-hentinya memuji kecantikan sang istri.


“Entahlah, kali ini kau memang sangat cantik, Sayang. Aku benar-benar terhipnotis dengan kecantikanmu,” puji Adam lagi yang membuat pipi Emilia semakin merona.


“Sayang, rasanya aku jadi tidak sabar,” lanjut Adam yang membuat Emilia sontak menoleh ke arahnya.


“Jangan macam-macam, masih banyak tamu disini. Mereka bisa mendengarkanmu,” bisik Emilia.


“Tenang saja, tidak sekarang kok tapi nanti malam,” goda Adam yang membuat Emilia jadi berdebar.


Apa maksudnya nanti malam?


Emilia tak membalas lagi. Seketika ia jadi grogi. Ia hanya fokus menyalami tiap tamu yang menyapa mereka. Adam tau saat itu Emilia sedang salah tingkah. Ia hanya terkekeh saja melihat gelagat lucu istrinya.


***


Lega akhirnya halal juga dua sejoli ini 🥰


Terimakasih untuk yg sudah membaca hingga sejauh ini, please jangan lupa like dan vote ya 🤗


Tetap ikuti terus kisah mereka 🤗


Anyway, selamat idul fitri untuk yg merayakan 🤗


Semoga semua sehat selalu 💙