
Sudah tiga hari berlalu sejak pernikahan Adam dan Emilia digelar. Rencananya besok Adam akan membawa Emilia ke perusahaannya untuk ia kenalkan sebagai Nyonya Adam Smith. Selama tiga hari ini Adam dan Emilia hanya berdiam diri di rumah, mereka tidak pernah keluar rumah sama sekali. Semua urusan perusahaan Ian lah yang mengurusnya seperti biasa.
Siang itu sekitar jam 11, Ian datang ke kediaman Adam untuk meminta tanda tangannya. Ada beberapa berkas penting yang harus ia tanda tangani dan tidak bisa diwakilkan. Sesampainya disana ia bertemu dengan Anita.
“Selamat siang, Nyonya,” sapa Ian ramah.
“Siang. Kau bawa apa itu?” tanya Anita melihat Ian membawa beberapa berkas di tangannya.
“Ini ada beberapa berkas yang harus Tuan Adam tanda tangani, Nyonya,” jawab Ian.
“Oh, letakkan saja di ruang kerjanya. Nanti kalau dia sudah bangun, saya akan kasih tau.”
Ian melirik jam tangannya. Benar sudah jam 11 siang.
“Tuan Adam belum bangun, Nyonya?”
Ian merasa heran. Tak biasanya bosnya itu bangun sesiang ini. Biasanya Adam memang selalu bangun pagi.
“Lebih tepatnya belum keluar kamar,” jawab Anita sambil terkekeh.
“Namanya juga pengantin baru. Lagi program buat anak mungkin. Kau mana tau, makanya nikah cepat biar tau,” lanjut Anita.
Kena lagi. Batin Ian.
“Baiklah Nyonya, saya ke ruang kerja Tuan Adam dulu.”
“Iya, pergilah. Kau jangan terlalu sibuk bekerja, bagi waktu juga untuk mencari jodoh. Kau kan sudah dapat bunga pengantinnya kemarin. Segeralah mencari pasangan kalau begitu.”
Iya, Nyonya. Iya. Sabar! Suruh mencari jodoh seperti suruh mencari barang di pasar. Gerutu Ian dalam hati.
Ian tidak menjawab lagi. Ia langsung meninggalkan Nyonya nya itu ke ruang kerja Adam. Setelah pekerjaannya selesai ia pun pergi dari rumah Adam.
Di perjalanan tiba-tiba ia teringat akan perkataan Nyonya besarnya tadi.
Bunga pengantin? Ah, kenapa aku jadi teringat dokter Alyssa?
Ian melirik lagi jam tangannya. Sudah waktunya makan siang. Ia pun membelokkan mobilnya untuk pergi ke rumah sakit tempat Alyssa bekerja.
Ian senyum-senyum sendiri memikirkan ide di kepalanya. Entah kenapa ia sangat ingin bertemu Alyssa dan mengajaknya makan siang.
Setibanya di rumah sakit, Ian segera memarkirkan mobilnya dan masuk ke rumah sakit untuk mencari Alyssa. Sepertinya dia akan sedikit kesulitan untuk menemui Alyssa karena dia tidak tau Alyssa dokter di bagian apa. Ingin bertanya tapi khawatir orang lain akan curiga padanya. Jadi dia memutuskan untuk berkeliling rumah sakit mencari Alyssa.
Saat tengah berkeliling, Ian mendapati wanita yang sedang dicarinya itu sedang duduk di kantin. Ia melihat dengan jelas Alyssa sedang tertawa lepas sambil bercerita dengan seorang pria. Pria yang mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kemeja biru muda yang lengannya digulung sampai sesiku. Sepertinya pria itu bukan dokter disana. Pria itu juga tampak masih muda. Mungkin seumuran dengannya.
Mereka terlihat sangat akrab. Bahkan mereka terlihat saling mencicipi makanan satu sama lain.
Deg.
Ada yang berdenyut di hati Ian. Kenapa rasanya perih sekali? Tapi walaupun perih Ian tetap bersembunyi di balik tiang rumah sakit untuk melihat adegan demi adegan dari Alyssa dan pria itu. Ia ingin memastikan bahwa mereka tidak ada hubungan yang serius.
Lima belas menit telah berlalu, akhirnya mereka pun selesai makan dan keluar dari area kantin. Mereka berjalan beiringan sambil sesekali saling melihat dan tertawa lagi. Seru sekali sepertinya obrolan mereka. Sementara Ian masih saja mengekori mereka secara diam-diam dari belakang. Ia mengamati dengan baik setiap gerak gerik mereka bertemankan hati yang panas.
Alyssa mengantar pria itu sampai depan rumah sakit. Sebelum berpisah mereka sempat berpelukan dengan erat, membuat Ian mengepalkan tangannya. Akhirnya Ian pun memutar melewati jalan lain untuk meninggalkan rumah sakit itu.
Brakkk.
Ian membanting pintu mobilnya dengan sangat keras. Niatnya untuk mengajak Alyssa makan siang bersama malah gagal karena sudah didului pria lain.
Duggg.
Ian memukul stir mobilnya dengan keras. Hatinya sedang panas saat itu. Barang-barang di dekatnya malah jadi sasaran kemarahannya.
Seharusnya aku selidiki dulu sebelumnya, apakah dia sudah punya kekasih atau belum. Jangan-jangan pria tadi kekasihnya.
Cih, miris sekali nasibku ini. Harapanku harus pupus duluan sebelum aku mulai menyatakan perasaanku padanya. Kenapa aku bisa sesakit ini melihat dia dekat dengan pria lain? Apa aku benar-benar menyukainya?
Ian memijit keningnya yang mulai pusing. Pikirannya begitu kacau. Bayangan Alyssa bersama pria tadi muncul lagi di kepalanya.
Ian mendengus kasar. “Huh, baiklah dokter Alyssa. Aku akan menghapus namamu dari pikiranku. Aku tidak akan merebut wanita yang sudah menjadi milik orang lain.”
Ian teringat akan kisah cinta bosnya, Adam. Dia mengerti akan ada pihak yang tersakiti jika dia merebut kekasih orang lain.
Ian pun menyalakan mesin mobilnya, lalu pergi meninggalkan rumah sakit beserta kenangannya bersama dokter Alyssa.