My Name Is Emilia

My Name Is Emilia
59. Menukar Nyawaku Untukmu



“Emiliaaaaaa!” teriak Adam dengan suara yang menggelegar. Urat-urat lehernya sampai tercetak jelas saat ia meneriakkan nama Emilia. Nafasnya yang berhembus berpacu dengan detak jantung yang berdetak begitu cepat saking mengkhawatirkan Emilia.


Bukan hanya Adam. Mereka yang berada di luar ruangan itu pun terkejut saat mendengar bunyi tembakan diikuti suara teriakan Adam yang menggema. Apa yang terjadi di dalam sana? Emelda, Darius, Ian dan dua pria itu bertanya-tanya dalam hati.


Wajah Emelda berubah pucat. Ia takut kalau terjadi apa-apa pada Emilia. Seandainya hal buruk terjadi pada Emilia, maka ia akan merasa sangat bersalah karena mendukung rencana Darius untuk menculiknya.


Darius sendiri juga tidak menyangka kejadiannya akan seperti ini. Di awal ia sudah mengingatkan anak buahnya agar tidak bertindak di luar batas dan tidak berbuat sesuatu yang dapat menyakiti Emilia. Tapi suara tembakan yang baru saja didengarnya membuat ia bertanya dalam hati. Suara tembakan? Adam...kenapa dia meneriakkan nama Emilia? Apakah Emilia yang tertembak? Tidak. Itu tidak boleh terjadi. Bukan ini yang aku inginkan. Tidak boleh ada yang terluka.


Sementara itu suasana di ruangan tempat Emilia dan Adam berada sangat mencekam. Ada percikan darah yang tersembur ke dinding. Mata Adam terbelalak melihat percikan darah itu. Darah Emilia kah itu? Ya, itu memang darah Emilia.


Tadi saat Emilia mengayunkan tangan kanannya ke pangkal lengan pria yang menodongnya dengan pistol, pria itu secara spontan menarik pelatuk dari pistolnya sehingga menimbulkan sebuah tembakan. Pria itupun sebenarnya tidak berniat menembak Emilia. Itu hanya reaksi spontan yang dilakukannya saat mendapat serangan tiba-tiba dari Emilia.


Untungnya Emilia sempat menghindar dan bergerak ke samping sehingga peluru itu hanya melesat di bahu kanan bagian atasnya saja. Tapi tetap saja peluru itu berhasil membuatnya berdarah.


Adam yang menyaksikan kejadian itu di depan mata kepalanya sendiri sangat terbakar emosi. Tanpa banyak bicara ia segera memukul pria itu bertubi-tubi tanpa ampun. Ia tidak peduli meskipun pria itu sudah tersungkur ke lantai, ia tetap menendangnya. Ia tak terima kalau Emilia terluka. Apalagi ia sudah memperingatkan sejak awal jangan sampai Emilia tersakiti.


Adam terus memukulinya seperti orang yang kesetanan. Emilia yang dari tadi berteriak memintanya untuk berhenti tidak dipedulikannya. Pria itu tak mampu melawan Adam yang sedang dipenuhi amarah. Wajahnya sudah penuh luka-luka akibat pukulan Adam.


“Adam, tolong hentikan! Tanganku sakit, Adam. Tolong aku!” teriak Emilia sambil meringis kesakitan. Bahu kanannya terluka kena peluru, sementara tangan kirinya masih dalam keadaan terborgol.


Mendengar suara Emilia yang merintih kesakitan, barulah Adam tersadar. Ia melihat Emilia sudah tidak berdaya lagi. Ia mengambil kunci borgol yang tergantung di saku celana pria yang dipukulinya, lalu ia segera melepaskan tangan Emilia.  Setelah borgol itu terlepas, Adam langsung memeluk Emilia dengan sangat erat.


“Emilia, maafkan aku Emilia. Aku membuatmu jadi seperti ini,” kata Adam dengan penuh rasa bersalah.


“Tidak usah minta maaf. Maaf tidak dapat mengembalikan keadaan seperti semula,” jawab Emilia yang kini sudah berlinang airmata.


Adam melepas pelukannya. Ia menatap kedua bola mata Emilia yang basah.


“Apa kau marah padaku? Apa kau tidak memaafkanku? Aku mohon maafkan aku, Emilia. Setelah ini aku berjanji akan selalu menjagamu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. Ayo kita ke rumah sakit sekarang.”


Emilia menahan tangan Adam yang hendak menggendongnya. Ia mendongak menatap Adam lalu berkata, “Jangan ucapkan janji yang tidak bisa kau tepati! Justru itu malah membuatku sakit hati.”


Hati Adam terasa teriris mendengar perkataan Emilia. Ia sadar Emilia pasti sangat terluka dengan sikapnya sebelum kejadian ini. Ada rasa menyesal timbul di lubuk hatinya.


Adam kembali duduk di depan Emilia. Ia merangkum wajah mungil Emilia dengan kedua tangannya yang terluka dan berdarah. Ia melihat ada kekecewaan tergambar dalam tatapan Emilia kepadanya.


“Aku terlalu egois karena aku takut terluka lagi jika terus bersamamu, padahal kenyataannya aku malah terluka jika aku tak bersamamu.”


“Kali ini, aku tidak akan mengingkari janjiku lagi. Aku akan selalu ada untukmu kapanpun itu. Ku mohon, maafkan aku Emilia. Aku akan melakukan apapun asal kau mau menerima ku kembali dan memaafkanku.”


Emilia malah jadi terisak mendengar perkataan Adam. Rasa kecewa di hatinya kalah dengan rasa cintanya yang begitu besar pada Adam. Tiba-tiba ia memeluk Adam dan menangis dalam pelukan Adam.


“Kenapa kau menyelamatkanku? Kau terluka karena menolongku,” tanya Emilia disela-sela isak tangisnya.


Adam tersenyum mendengar pertanyaan Emilia. Sudah pasti jawabannya karena ia sangat mencintai wanita dalam pelukannya itu. Tangannya mengusap-usap punggung Emilia dengan lembut.


“Kau tau, aku akan melakukan apapun untuk menyelamatkanmu. Bahkan menukar nyawaku untukmu pun aku rela.”


“Tapi kan awwww.....”


Belum sempat  menyelesaikan kalimatnya, Emilia meringis kesakitan. Bahu kanannya terasa berdenyut.


“Aku gendong, ya. Kita ke rumah sakit sekarang,” ucap Adam dengan lembut.


Emilia mengangguki ucapan Adam. Adam merasa senang akhirnya Emilia mau menurutinya. Ia pun menggendong Emilia di depan dan keluar dari ruangan itu.


Begitu Adam dan Emilia tiba di ruangan depan, beberapa polisi pun sampai ke apartemen itu. Adam tak ingin berurusan dengan pihak kepolisian karena ia harus membawa Emilia ke rumah sakit. Jadi Ian lah yang mengurus segala laporan ke pihak berwajib.


Saat  melewati Emelda, ada rasa kecewa yang teramat dalam di hati Emilia. Ia tak mau menatap Emelda lebih lama, ia membuang mukanya ke arah lain. Sementara Emelda sendiri merasa sangat bersalah melihat kondisi Emilia yang memprihantinkan. Ia mengutuk dirinya sendiri yang sudah mendukung ide bodoh Darius.


Sekarang Darius dan anak buahnya sudah diborgol pihak kepolisian. Rencana Darius gagal total. Yang tersisa saat ini hanyalah penyesalan.


Adam dan Emilia lebih dulu meninggalkan apartemen Darius. Adam menyetir mobil dan Emilia duduk di kursi sebelah Adam. Satu tangan Adam memegang stir kemudi, sementara tangan satunya lagi menggenggam erat tangan Emilia. Jari jempolnya terlihat mengelus-elus punggung tangan Emilia. Bahkan sesekali ia mengecup punggung tangan itu.


“Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit. Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Aku akan selalu ada bersamamu,” ucap Adam dengan lembut.


Emilia hanya mengangguk sekilas ke arah Adam lalu kembali melihat ke depan.


Jangan kecewakan aku lagi, Adam. Aku harap kau bisa menepati janjimu kali ini. Kalau kau berulah lagi, aku akan benar-benar pergi.