
Waktu terasa begitu cepat berlalu, apalagi bagi Adam yang mau tidak mau harus mengakhiri bulan madunya dengan istri tercinta. Setelah beberapa jam mengudara, sampailah mereka di tanah air. Dari bandara, mereka langsung menuju ke rumah Adam.
Ketika tiba di rumah, Adam dan Emilia tidak hanya bertemu dengan Anita saja, tapi juga ada Richard dan Meta yang merupakan orang tua dari Ian. Ian sendiri juga ikut berada disana. Mereka terlihat sedang asik mengobrol di ruang tamu, lalu Adam dan Emilia menghampiri mereka.
“Selamat datang, Sayang,” sambut Anita lalu memeluk sekilas Adam dan juga Emilia.
“Paman Richard? Bibi Meta?” Adam terkejut melihat kedatangan kedua orang tua Ian di rumahnya. Ia berjalan mendekati sepasang suami istri paruh baya itu lalu memeluk mereka secara bergantian.
“Kenalkan ini istriku, Emilia. Sayang sekali kemarin pas acara pernikahan kalian tidak bisa hadir,” kata Adam memperkenalkan istrinya. Kemudian Emilia juga ikut memeluk Richard dan istrinya bergantian.
“Maaf, Tuan Adam. Paman Richard mu ini penyakitnya kambuh. Jadi waktu itu tidak bisa menghadiri pernikahan Tuan,” ucap Meta. Suaminya itu memang sering kumat penyakit asmanya.
“Oh, ayolah, Bibi, jangan panggil aku Tuan. Panggil Adam saja.”
“Kami agak berat hanya memanggil nama saja, Tuan. Tuan kan atasannya Ian, keluarga Tuan sudah banyak berjasa untuk keluarga kami. Biarlah kami memanggil dengan sebutan itu,” kata Richard pada Adam.
“Baiklah, terserah Paman dan Bibi saja. Tapi asal kalian tau, aku sudah menganggap kalian sebagai Paman dan Bibiku sendiri, bukan orang lain,” ucap Adam.
“Terimakasih, Tuan. Itu suatu kehormatan bagi kami,” sahut Richard.
Kemudian Adam merasa ada yang aneh. Seperti yang ia tau, kedua orang tua Ian tinggal di kota yang berbeda dengan mereka. Lalu apa yang membuat sepasang suami istri itu tiba-tiba datang ke rumahnya? Tidak mungkin tidak ada hal penting sampai mereka rela datang kesana.
“Ngomong-ngomong, ada angin apa sampai Paman dan Bibi datang berkunjung kemari? Rasanya tidak mungkin hanya sekedar kunjungan biasa bukan?” Adam mencoba melirik ke arah Ian yang dari tadi tampak mencurigakan. Pria yang sudah bertahun-tahun menjadi asistennya itu tampak gugup dan salah tingkah.
Baik Anita, Richard dan istrinya serta Ian saling pandang memandang. Mereka seperti saling tunjuk menunjuk siapa yang harus bicara duluan.
“Kenapa kalian bertingkah seperti ini? Jangan bilang..........” ucapan Adam terputus. Matanya menatap tajam ke arah Ian.
Ian pikir Adam bisa menebak apa yang terjadi. Dengan tenang Ian pun mengangguk. Tapi hal itu justru membuat Adam tiba-tiba marah.
“Apa?! Jadi benar kau sudah menghamili anak orang lalu kau diminta bertanggung jawab?! Karena kau sedang patah hati lalu kau melampiaskannya kepada wanita lain?! Begitu?!”
Ian dan yang lain jadi terkejut mendengar kemarahan Adam. Adam bahkan mendekati Ian lalu menarik kerah kemejanya.
“Ternyata kau pria baji*ngan! Kau seharusnya menghormati seorang wanita, bukan menyakitinya!” hardik Adam yang masih menarik kerah kemeja Ian dengan kuat.
“Tuan, bukan begitu maksud saya,” ucap Ian panik. Yang lain juga ikutan panik melihat Adam menyerang Ian tiba-tiba.
“Bukan begitu apa?! Kau sudah ku anggap saudara sendiri, tapi kau mempermalukanku dengan menghamili seorang wanita,” bentak Adam.
“Tuan, kau salah paham.”
“Kau yang salah paham, bo*doh! Kalau kau patah hati, bukan berarti kau melampiaskannya pada wanita lain. Lalu sekarang orang tuamu yang harus menanggung malu karena perbuatanmu! Mereka pasti datang kesini karena terpaksa menikahkanmu kan?!”
“Mereka memang kesini untuk menikahkan saya, tapi bukan karena saya menghamili anak orang, Tuan,” jawab Ian setengah berteriak mengimbangi suara Adam.
“Jadi karena apa, breng*sek?!”
“Karena saya mencintainya, Tuan. Saya mencintai dokter Alyssa dan saya akan segera menikahinya. Tapi saya belum menghamilinya,” jawab Ian dengan suara lantang sehingga berhasil membuat Adam tersadar.
“Eh, jadi bukan karena kau menghamilinya?” tanya Adam sedikit melunak, bahkan tangannya sudah dia tarik dari kerah kemeja Ian.
Plak.
Anita menepuk Adam dari belakang lalu menariknya untuk duduk kembali.
“Maaf,” lirih Adam.
“Kedatangan orang tua Ian kesini memang untuk menikahkan Ian dan dokter Alyssa. Tapi sebelumnya mereka akan mengadakan lamaran secara resmi dua hari lagi. Karena itu Ian kesini karena ingin ibu dan kalian menemaninya saat lamaran nanti,” kata Anita menjelaskan.
“Baru ditinggal seminggu saja kau sudah mau menikah. Bagaimana ditinggal sebulan, mungkin kau sudah duluan punya anak,” ucap Adam sambil terkekeh.
“Wah, selamat ya Ian. Baru saja ibu berniat menjodohkanmu dengan dokter Alyssa. Ternyata kalian sudah berjodoh duluan,” ucap Emilia.
“Terimakasih, Nona. Saya harap Nona juga bisa datang saat acara lamaran nanti,” sahut Ian.
“Tentu saja. Kalau suamiku datang, aku pasti datang.”
“Kau mengenal dokter calonnya Ian ini?” Tanya Adam pada Emilia. Ia merasa hanya dia sendiri yang tidak tau sosok calon istri Ian.
Emilia mengangguk. “ Dokter Alyssa pernah kesini memeriksa kesehatan ibu. Dia juga datang waktu acara pernikahan kita.”
Adam menggedikkan bahunya. Ia merasa tak mengenal dokter itu sama sekali.
“Baiklah, kalau memang kau sudah mantap padanya. Aku hanya bisa mendukungmu saja. Apapun yang kau butuhkan, kau tinggal bilang saja. Aku, Emilia dan ibu akan ikut saat acara lamaranmu. Kau beritahu saja kapan dan dimana acaranya. Jangan lupa siapkan kado hantaran terbaik untuk wanitamu itu,” kata Adam pada Ian. Kali ini perkataannya cukup serius, seperti sedang memberi mandat untuk tugas kantor.
“Baik, Tuan. Semua akan saya persiapkan dengan matang,” jawab Ian dengan penuh keyakinan.
“Siapkan juga kado terbaik untuk kedua orang tuanya. Sebagai tanda kau menghormati orang tua yang sudah merawat anaknya. Hmmm..apa dia punya saudara?”
“Tidak, Tuan. Dia anak tunggal sama seperti saya.”
“Oh, baguslah.”
“Kenapa baguslah?” sela Emilia tiba-tiba.
“Tidak, Sayang. Bukan apa-apa,” jawab Adam dengan cepat, takut istrinya akan ngambek lagi. Entahlah, rasa-rasanya istrinya itu jadi lebih sensitive sekarang.
“Kalau begitu, aku dan Emilia kembali ke kamar duluan. Emilia pasti lelah setelah perjalanan panjang kami.”
Setelah berpamitan pada yang lain, Adam mengajak istrinya untuk segera beristirahat di kamar.
Di kamar, Adam yang baru saja akan membuka kemejanya, terkejut karena Emilia memeluknya dengan tiba-tiba.
“Kau menggodaku? Hmmm?” tanya Adam yang membalas pelukan Emilia.
“Tidak. Aku hanya kagum padamu. Tadi aku lihat kau begitu peduli pada Ian. Kau juga sangat akrab dan sopan pada kedua orang tuanya. Kau bahkan mengajarkan Ian untuk hormat pada calon mertuanya. Kau benar-benar pria sejati, Sayang.”
“Kita memang harus menghormati orang tua, Sayang. Lagipula Ian dan keluarganya sudah lama kenal dengan keluargaku. Kita sudah seperti saudara sendiri.”
“Kau benar. Kalian terlihat sangat akrab. Aku bangga punya suami sepertimu,” ucap Emilia sambil mendongakkan kepalanya memandangi wajah tampan sang suami.
“Aku juga bangga mempunyai istri yang pengertian sepertimu,” balas Adam lalu mengecup lembut kening istrinya.
“Ya sudah, aku siapkan air hangat dulu agar kau bisa segera mandi,” kata Emilia lalu mencium bibir Adam dengan cepat kemudian pergi ke kamar mandi.
“Heeiiii, kau menggodaku yaaa? Awas kau yaaa..." teriak Adam sambil menyusul Emilia masuk ke kamar mandi.