My Name Is Emilia

My Name Is Emilia
38. Rahasiakan dari Adam



Kini Ian baru saja sampai di restoran tempat Emilia bekerja. Sementara Emilia sudah dari tadi menunggunya di depan restoran. Begitu bertemu, Emilia mengajak Ian bicara empat mata dengannya di samping restoran agar tidak ada yang bisa mendengar percakapan mereka.


“Jadi sebenarnya ada hal apa yang membuat Nona meminta saya datang kemari? Bahkan Nona tidak mengijinkan saya untuk memberitahu Tuan Adam tentang hal ini,” tanya Ian yang dari perjalanan tadi sudah penasaran setengah mati.


“Jangan! Jangan sampai Adam tau dulu soal ini! Aku rasa ini harus dirahasiakan dari Adam,” jawab Emilia yang belum membuat Ian berpuas hati.


“Oke, saya akan merahasiakannya. Tapi ini tentang apa?” tanya Ian lagi.


“Ini...ini....tapi sebelumnya berjanjilah jangan beritahu Adam tentang hal ini. Sampai nanti waktunya tepat, baru kita akan beritahukan Adam semuanya,” pinta Emilia.


“Nona jangan khawatir. Kalau ini untuk kebaikan Tuan Adam. Saya berjanji akan merahasiakan ini darinya. Jadi sekarang, ceritakanlah ke saya apa yang Nona ingin katakan?”


“Baiklah. Aku memintamu kesini untuk membicarakan soal Emelda,” jawab Emilia yang berhasil membuat Ian terkejut.


“Nona Emelda? Kenapa dengannya? Bukankah dia sudah.....”


“Belum. Dia masih hidup. Dan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kemarin kalau dia masih hidup.”


Ian sampai membelalakkan matanya. Ia seperti tidak percaya dengan apa yang dikatakan Emilia barusan. Apalagi saat pemakaman Emelda dia lah yang mengurusnya. Lalu bagaimana Emilia bisa bertemu dengan Emelda kemarin?


“Nona, saya rasa ini tidak mungkin. Ini pasti ada kesalahan,” bantah Ian.


“Aku sudah menduga kau pasti tidak akan percaya padaku. Untuk itu aku mengajakmu kesini agar kita bisa sama-sama membuktikannya,” kata Emilia.


“Tapi Nona Emelda sudah meninggal beberapa bulan lalu. Bahkan saya yang mengurus pemakamannya, Nona,” bantah Ian lagi.


“Percayalah padaku. Aku tidak bohong. Kemarin aku melihatnya di rumah sakit. Dia masih hidup. Dan kau tau siapa yang bersamanya di rumah sakit?” tanya Emilia.


Ian menunggu lanjutan jawaban dari mulut Emilia.


“Darius. Dia bersama Darius disana. Sahabat Adam,” lanjut Emilia.


Ian menggelengkan kepalanya. Sungguh berita ini membuatnya sangat bingung. Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Lalu apa hubungan semua ini dengan Darius?


“Itu yang aku pun masih bingung. Ada banyak hal yang menjadi tanda tanya bagiku. Karena itu aku mohon, jangan beritahu Adam dulu soal ini. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau Adam tau Emelda masih hidup.”


“Ya, Nona. Saya mengerti. Dulu Tuan Adam sangat terpuruk selama berbulan-bulan saat tau Nona Emelda meninggal.  Sekarang kalau dia tau mantan tunangannya itu masih hidup, saya tidak tau apa yang terjadi nanti. Entah Tuan Adam akan membencinya atau bisa saja kembali lagi padanya.”


Deg. Jantung Emilia terasa lemah mendengar perkataan Ian barusan. Itulah yang tak diinginkannya. Ia tak siap harus kehilangan Adam saat ini di saat hatinya sedang sayang-sayangnya pada Adam.


“Maaf, Nona. Maafkan saya kalau menyinggung perasaan Nona. Saya tadi hanya keceplosan saja. Lagipula Tuan Adam tidak suka dibohongi atau dikhianati. Kalau benar Nona Emelda masih hidup, belum tentu Tuan Adam kembali padanya karena dia sudah berbohong tentang kematiannya,” kata Ian berusaha memberi penjelasan saat ia melihat Emilia mendadak muram. Ia tau Emilia juga pasti sedang mengkhawatirkan hal itu.


“Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Aku memang sedikit khawatir tentang itu, tapi aku lebih khawatir tentang Adam. Dia pasti sangat kecewa dan terluka nantinya. Itu yang aku takutkan,” kata Emilia.


“Nona jangan khawatir. Tuan Adam adalah sosok yang tegar. Mentalnya juga sangat kuat. Apalagi ada Nona di sampingnya. Saya yakin Tuan Adam bisa melalui semua ini,” kata Ian sambil memegang satu pundak Emilia dengan maksud menyemangatinya.


Sementara itu di dalam mobil, Adam yang dari tadi memperhatikan mereka, mencengkeram erat stir mobil karena geram melihat Ian menyentuh Emilia lagi. Hatinya tebakar rasa cemburu. Ian pergi diam-diam menemui Emilia lalu mereka sekarang sedang mengobrol sedekat itu. Bahkan Ian berani menyentuh Emilia.


“Brengsek! Berani sekali kau menyentuh milikku, Ian. Apa kau sedang berkhianat padaku? Lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan,” gumam Adam dengan penuh emosi.


Tak hanya sampai disitu. Adam melihat Ian dan Emilia masuk ke mobil Ian lalu pergi meninggalkan tempat itu. Adam tidak tinggal diam. Ia pun mengikuti mereka dari belakang dengan jarak aman.


Beberapa menit setelah perjalanan, sampailah Ian dan Emilia terlebih dahulu di rumah sakit. Setelah memarkirkan mobil, mereka segera masuk ke dalam rumah sakit. Sementara itu Adam masih berada di dalam mobil. Dia tak langsung turun. Dia masih bingung kenapa mereka pergi ke rumah sakit secara diam-diam.


Kenapa mereka ke rumah sakit? Apa Emilia sakit? Tapi kenapa dia harus mengajak Ian bukannya mengajakku? Aneh. Ini sangat aneh. Aku harus masuk ke dalam. Pasti ada yang mereka sembunyikan dariku.


Adam pun memarkirkan mobilnya, lalu ikut masuk ke dalam rumah sakit. Dia ingin tau apa yang disembunyikan oleh Ian dan Emilia darinya.


***


Akankah mereka berhasil menemukan Emelda di rumah sakit?


Lalu bagaimana reaksi mereka saat melihat Emelda masih hidup?


Bersambung...