My Name Is Emilia

My Name Is Emilia
61. Tinggal Bersama



Sudah seminggu berlalu sejak kejadian di apartemen Darius, Emilia kini tinggal di apartemen Adam lagi untuk sementara waktu. Bukan Adam namanya kalau tak berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan. Apalagi Serra juga ikut mendukung keputusan Adam karena tak ada yang menjaga Emilia di kontrakan.


Sementara itu Darius dan anak buahnya sudah seminggu tinggal di balik jeruji besi. Tiada kata maaf lagi baginya. Adam benar-benar memasukkannya ke penjara. Tiap hari ia hanya bisa menyesali perbuatannya. Ia selalu rindu dan risau pada istrinya, Emelda. Sejak ia berada disana, belum ada sekalipun Emelda membesuknya. Dia teringat akan Emelda yang sedang hamil besar. Siapalah yang akan menemaninya nanti pada saat lahiran, pikir Darius.


***


Siang itu Emilia sedang duduk menonton televisi di ruang tengah. Sudah hampir dua jam ia menonton sendirian. Hari itu Bi Ratna yang biasa datang untuk bersih-bersih pulang lebih awal karena ada urusan keluarga, makanya Emilia hanya tinggal sendiri disana. Emilia merasa sangat bosan nonton sendiri di apartemen sebesar itu.


Drrrt drrttt drrrt drrttt.


Handphone-nya yang tergeletak di sofa yang ia duduki bergetar. Dilihatnya ada tulisan “Tuan Adam Si Tukang Ngatur" pada layar ponselnya. Ia sengaja mengganti nama Adam di kontaknya saat Adam memaksanya lagi tinggal di apartemen itu. Menurutnya itu memang nama yang pantas untuk Adam.


Emilia meraih ponselnya lalu menggeser tombol hijau di layar.


“Halo,” sapa Emilia.


“Halo, Sayang. Kau sedang apa? Biar ku tebak, pasti kau sedang kebosanan menonton sendirian di apartemen, ya?”


Mendengar pertanyaan Adam membuat Emilia langsung celingak celinguk melihat ke kiri dan kanan bagian atas ruangan sekitarnya. Ia yakin Adam pasti tau kegiatannya dari CCTV yang dipantaunya.


“Kau pasti melihatku dari CCTV kan? Itu namanya bukan menebak, tapi mencontek,” jawab Emilia ketus.


“Hahaha, bukan mencontek, tapi mengawasi. Aku tidak mau kau kenapa-napa sendirian disana.”


“Apa kau memasang CCTV di semua ruangan? Aku jadi khawatir. Kau sebenarnya mau mengawasi atau mengintip, sih?”


“Hei, kau ini. Selalu buruk sangka padaku. Aku tidak memasang kamera CCTV di kamar. Hanya ruangan lain saja selain kamar.”


“Kalau aku tidak sengaja ganti baju di ruang depan bagaimana? Kau kan bisa melihatnya.”


“Ya kalau begitu namanya rejeki. Hahaha.”


“Ihhh, kau ini. Sudahlah, kalau tidak ada hal penting yang mau dibahas, aku mau masuk ke kamar, mau tidur.”


“Tunggu dulu. Galak sekali, sih. Aku mau mengajakmu jalan-jalan keluar nanti sore. Bagaimana? Apa kau mau?”


“Benarkah? Wahhh, aku mau sekali. Jam berapa kau akan menjemputku?”


“Jam 5 sore aku sudah ada di apartemen. Kau siap-siap, ya.”


“Oke. Baiklah. Sampai nanti. Byeee.”


Emilia segera menutup panggilan dari Adam. Padahal Adam masih lagi ingin mengobrol dengannya. Adam hanya bisa menghembuskan nafas dengan kasar mendapat perlakuan seperti itu dari Emilia.


Emilia sangat senang Adam mengajaknya keluar. Sudah seminggu ia terkurung di apartemen Adam. Ia melirik jam masih jam 2 siang. Masih ada kesempatan baginya untuk tidur siang sebentar. Emilia pun masuk ke kamar dan tidur dengan nyenyak.


Emilia tidur sangat pulas sampai 2 jam lamanya. Ketika ia bangun, ia terkejut sudah jam 4 sore rupanya. Emilia turun dari tempat tidurnya dan masuk ke kamar mandi. Ia harus sudah siap sebelum Adam datang.


Ceklek.


Pintu apartemen dibuka dari luar. Ternyata Adam sudah datang. Adam mengetuk pintu kamar Emilia. Emilia sendiri sudah siap dengan riasan natural di wajahnya.


“Kau sangat cantik,” puji Adam saat Emilia membuka pintu kamarnya.


“Kita pergi sekarang?” tanya Emilia mengalihkan rasa gugupnya karena dipuji Adam.


“Ayo.”


Tempat yang pertama dituju adalah supermarket. Emilia ingin sekali belanja buah, sayuran dan cemilan untuk stock di kulkas apartemen. Adam pun menyetujuinya. Mereka berbelanja bersama layaknya pasangan suami istri yang baru menikah.


Sedang asyik berbelanja, mata Emilia tertuju pada seorang ibu hamil yang terlihat kelelahan. Wajah wanita itu terlihat pucat. Ada seorang karyawan supermarket yang memberinya kursi dan air mineral agar ia istirahat sejenak. Wanita itu pun duduk dan  meneguk air mineral yang diberikan.


“Emelda?” sapa Emilia yang sudah berada di samping wanita hamil itu. Wanita itu adalah Emelda. Dia terpaksa berbelanja sendiri keluar karena saat ini dia hanya tinggal seorang diri setelah Darius dipenjara.


“Emilia?”


Emelda terkejut melihat siapa yang menyapanya. Ia hendak berdiri tapi perutnya terasa agak nyeri. Terpaksa ia harus duduk kembali. Emelda merasa canggung. Ia masih merasa bersalah pada Emilia atas kejadian penculikan waktu itu.


“Tidak apa-apa, kau duduk saja. Apa kau sendirian saja?” tanya Emilia.


“Iya, aku sekarang tinggal sendiri. Jadi aku mengurus semuanya sendiri termasuk belanja kebutuhan sehari-hari,” jawab Emelda.


“Apa kau tidak bisa menyuruh orang lain? Atau lebih baik kau belanja online saja. Perutmu sudah besar. Kau pasti cepat kelelahan kalau banyak beraktivitas,” kata Emilia. Entah terbuat dari apa hatinya, ia tetap tidak tega melihat saudara kembarnya itu kesusahan meskipun Emelda sempat melakukan kesalahan padanya.


“Tidak apa-apa. Aku harus terbiasa mengurus semua sendiri. Terkadang memang suka kelelahan kalau banyak gerak, malah kadang perutku sering kram juga. Tapi syukurnya aku bisa mengatasinya.”


Timbul rasa kasihan di benak Emilia pada Emelda. Hamil besar dan harus mengurus semuanya sendiri itu tidak mudah. Emilia juga khawatir jika terjadi sesuatu pada Emelda sementara ia tinggal sendirian saja.


Tiba-tiba dari belakang Emilia dikejutkan oleh Adam yang merangkul pinggangnya. Adam sudah melihat dari jauh Emilia sedang mengobrol dengan Emelda. Untuk itu ia sengaja bersikap romantis di depannya.


“Sayang, kau sudah selesai belanjanya?” tanya Adam.


“Sudah, aku....”


“Kalau sudah ayo kita bayar lalu pulang.”


Adam dengan cepat menarik tangan Emilia agar mengikuti langkahnya.


“Aku pulang dulu. Kau hati-hati, ya,” pesan Emilia dengan cepat pada Emelda.


Emelda hanya mengangguk dan melempar senyum dengan terpaksa. Hatinya terasa sakit melihat Adam sangat mesra kepada Emilia, sementara dirinya sendiri dilirik pun tidak.


Seandainya anak ini tidak hadir dalam rahimku, pasti saat ini aku yang berada di sampingmu, Adam. Gumam Emelda dalam hati sambil menatap iri kepergian Adam dan Emilia.


Saat ini Adam dan Emilia sudah berada di mobil dalam perjalanan pulang. Adam sesekali melirik Emilia yang hanya diam saja sepanjang perjalanan. Adam yakin Emilia pasti sedang memikirkan sesuatu.


“Kau terlihat sangat gelisah. Pasti kau sedang memikirkan wanita pengkhianat itu, kan?” tebak Adam.


“Dia punya nama, Adam. Namanya Emelda,” kata Emilia.


Adam hanya mengangkat bahunya sekilas seolah tidak mau tau akan hal itu.


“Adam, bolehkah aku meminta sesuatu kepadamu?” tanya Emilia tiba-tiba.


“Katakanlah. Aku justru senang kau mau minta sesuatu dariku,” jawab Adam.


Ia belum tau saja apa yang akan diminta oleh Emilia.


“Aku ingin kau mengijinkan Emelda tinggal bersamaku di apartemen.”


“Apa?”