My Name Is Emilia

My Name Is Emilia
93. Persiapan Pernikahan



Hari ini kediaman keluarga Adam terlihat cukup ramai. Persiapan untuk pernikahan Adam dan Emilia sudah mulai dilaksanakan. Karena Emilia memilih pernikahannya dilaksanakan di ruang terbuka, maka pernikahan mereka akan dilaksanakan di halaman rumah Adam yang sangat luas itu. Adam sendiri tidak mempermasalahkan hal itu. Apapun yang Emilia pilih maka ia akan menyetujuinya.


Terlihat seorang desainer ternama juga datang bersama lima orang asistennya dengan membawa beberapa gaun pengantin yang akan dikenakan Emilia di hari pernikahannya.


“Kau sudah datang, ya. Ayo ikut saya ke lantai atas,” ajak Anita pada desainer itu.


“Baik, Nyonya.”


Desainer wanita itu pun mengikuti langkah Anita dari belakang, begitu pula dengan asistennya. Ketika sampai di sebuah ruangan, mereka memajang beberapa gaun pengantin berwarna putih dengan design yang berbeda. Tak lama Emilia pun masuk ke ruangan itu.


“Sayang, ayo kesini,” panggil Anita saat melihat Emilia masuk.


“Lihat, semua gaun ini cantik-cantik kan? Kau bisa memilih gaun manapun yang kau suka,” lanjut Anita.


Emilia memperhatikan setiap gaun itu dengan takjub. Semua gaun terlihat sangat mewah dan mahal. Tapi ada satu gaun yang paling sederhana yang menarik perhatiannya. Ia pun mendekat ke gaun itu.


“Bu, sepertinya Emilia mau yang ini saja,” ucapnya sambil memegang gaun itu.


“Kau yakin? Gaun itu terlihat sangat sederhana sekali, Sayang,” tanya Anita memastikan.


“Iya, Bu. Emilia yakin. Emilia lebih suka gaun yang simpel seperti ini,” jawabnya dengan yakin.


“Baiklah. Tolong bantu menantuku mencoba gaun itu, ya.”


“Baik, Nyonya. Mari Nona saya bantu.”


Emilia pun segera mencoba gaun yang ia pilih. Tak lama kemudian ia selesai memakainya. Anita menatap takjub pada calon menantunya itu. Meskipun gaunnya sangat sederhana tapi itu tidak mengurangi kecantikannya.



“Sayang, ini benar kau? Kau cantik sekali, Sayang. Ibu yakin kalau Adam melihatmu, matanya pasti tidak bisa berkedip. Atau jangan-jangan bola matanya langsung keluar saat melihatmu secantik ini,” ucap Anita dengan antusias.


Wajah Emilia jadi merona merah. Ia tersipu mendengar pujian dari calon mertuanya itu.


“Ibu bisa saja. Ini pasti karena gaunnya yang cantik, Bu,” kata Emilia malu-malu.


“Tidak, kau nya yang cantik. Iya kan?” Anita minta pembelaan pada desainernya.


“Wah, kau benar-benar akan jadi ratunya Adam, Sayang. Ibu jadi makin penasaran dengan reaksi Adam saat melihatmu secantik ini.”


Anita terus memujinya. Sementara Emilia sudah semakin merah saja pipinya mengalahkan tomat. Tapi di lubuk hatinya paling dalam ia sangat bahagia mendapat mertua sebaik Anita. Emilia bertekad akan menjadi istri yang baik untuk Adam dan menantu yang baik untuk Anita.


***


Selesai urusan gaun pengantin, kini Anita terlihat sibuk mengecek dekorasi rumahnya yang disulap menjadi serba putih dengan hiasan bunga-bunga segar berwarna putih juga. Karena ia tau Emilia menyukai warna putih, jadi tema warna kali ini adalah putih.


Padahal ia sudah membayar mahal pihak Wedding Organizer untuk menata semuanya. Tapi tetap saja ia belum puas kalau belum mengecek semua hasilnya sendiri.


“Itu bunganya taruh di lantai atas, ya. Di setiap sudut ruangan,” titah Anita.


“Baik, Nyonya.”


“Hati-hati memindahkan gucinya, jangan sampai pecah.”


“Baik, Nyonya.”


“Aku rasa bunga di sudut sana kurang banyak, tolong tambahkan lagi biar lebih meriah.”


“Baik, Nyonya.”


Anita terlihat sangat bersemangat. Para pekerja disana pun ikut semangat mempersiapkan pernikahan Tuan Muda mereka. Ini kali pertama mereka sibuk mempersiapkan pesta besar seperti itu. Karena memang Adam hanya satu-satunya pewaris tunggal keluarga Smith.


Terlalu banyak  beraktivitas membuat Anita tiba-tiba merasa pusing. Pandangannya mulai kabur dan keadaan di sekelilingnya terasa berputar.


Bruugghh.


Anita jatuh pingsan.


“Nyonya....” teriak beberapa pelayan disana.


“Panggil dokter Harris sekarang!” titah salah satu pelayan disana.