
Hari itu Alyssa menemui dokter Harris yang bekerja di rumah sakit yang sama dengannya. Ia ingin tau lebih dalam tentang asisten Adam, yaitu Ian.
Dokter Harris awalnya terkejut dengan kedatangan Alyssa yang menanyakan tentang Ian, bukan tentang pekerjaan. Tapi setelah tanpa ragu Alyssa mengakui bahwa ia memiliki perasaan pada Ian, maka dokter pria yang sudah berkeluarga dan memiliki anak itu pun paham kalau ini tentang asmara anak muda.
Dokter Harris yang sudah lama menjadi dokter keluarga Adam, tentu kenal siapa Ian. Ia pun menceritakan apa yang ia ketahui tentang Ian, termasuk kedekatanya dengan wanita. Sepengetahuan Harris, Ian tidak pernah sekalipun terlihat dekat dengan seorang wanita.
“Dia pria yang baik, pekerja keras, dan masih lajang. Aku rasa kau cocok untuknya,” kata dokter Harris.
“Terimakasih sudah menceritakan tentangnya, Dokter. Tapi belakangan ini dia agak aneh. Sikapnya terkesan menghindariku,” ucap Alyssa dengan nada sedihnya.
“Mungkin dia hanya banyak kerjaan saja. Kau kan tau sendiri, Tuan Adam sedang bulan madu bersama istrinya. Semua proyek dihandle oleh Ian. Bahkan besok mereka ada proyek baru lagi. Bisa saja itu membuatnya mengabaikanmu, bukan menghindarimu. Dia memang begitu kalau sudah bekerja. Sangat fokus,” bujuk dokter Harris.
“Semoga saja begitu. Oh iya, Dokter, kalau dia datang kesini bertemu dokter, boleh tidak kabari aku? Aku ingin sekali ngobrol dengannya,” pinta Alyssa tanpa malu-malu. Selain memang sudah kenal dekat dengan dokter Harris, Alyssa memang suka blak-blakan orangnya.
Dokter Harris terkekeh, lalu membetulkan kacamatanya yang agak turun.
“Kau seperti anak gadis yang minta dicarikan suami oleh ayahnya saja.”
Alyssa pun menanggapinya dengan tersenyum lebar sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Saking terobsesi pada Ian, ia sampai mengabaikan gengsinya. Ia merasa perkataan dokter Harris barusan memang benar adanya.
***
Nasib baik sepertinya sedang berpihak pada Alyssa. Siapa sangka besoknya dokter Harris mengirim pesan padanya dan mengatakan bahwa Ian sedang ada di ruangannya untuk diperiksa karena mendapatkan kecelakaan kecil saat mengunjungi proyeknya.
Kebetulan jadwal praktek Alyssa sudah selesai. Ia pun tak ingin melewati kesempatan emas ini. Ia segera pergi menuju ke ruangan dokter Harris.
Ceklek.
Alyssa membuka pintu ruangan dokter Harris dan masuk ke dalamnya. Ia melihat Ian sudah duduk di seberang meja kerja dokter Harris dengan perban di dahi kirinya.
Ian sempat terkejut melihat Alyssa, tapi ia berusaha tenang dan mengabaikannya. Sementara Alyssa sendiri sudah panik melihat Ian yang terluka meskipun ia tau luka itu tidak serius. Buktinya Ian masih bisa duduk dan mengobrol dengan santai.
Dokter Harris mengangguk tapi Ian terlihat cuek.
“Terimakasih, Dokter Harris. Saya pamit dulu kalau begitu,” ucap Ian sambil berdiri dari duduknya.
“Kenapa buru-buru sekali? Ini sudah jam istirahat. Kita bisa mengobrol dulu sebentar atau makan di kantin misalnya,” ajak dokter Harris.
“Urusan saya masih banyak. Lain kali saja,” tolak Ian dengan halus.
“Tuan, bagaimana dengan luka Tuan? Apa masih pusing? Kalau iya, sebaiknya Tuan jangan menyetir mobil dulu,” ucap Alyssa menyela pembicaraan mereka sambil menunjuk dahi Ian yang diperban.
“Saya baik-baik saja. Permisi.”
Ian tak ingin lebih lama lagi disana. Ia langsung saja pergi melewati Alyssa lalu keluar dari ruangan itu.
Alyssa tertunduk lemah. Usahanya ternyata sia-sia.
“Jangan menyerah. Kalau memang suka, perjuangkan lagi,” kata dokter Harris menyemangati.
“Masa perempuan yang harus memperjuangkan cintanya? Apa tidak sebaliknya?”
“Perempuan atau lelaki sama saja. Kalau cinta, ya harus usaha. Selanjutnya biar Tuhan yang membantu.”
Tiba-tiba saja raut wajah Alyssa yang murung berubah lebih cerah.
“Sepertinya saat ini Tuhan sedang membantuku, dokter,” ucap Alyssa dengan mata berbinar saat melihat sebuah dompet tergeletak di atas kursi yang diduduki Ian tadi.
Alyssa mengambil dompet itu lalu menunjukkannya pada dokter Harris.
“Dokter tau kan dimana alamat pemilik dompet ini?”