
“Aakkhhhhh......” teriak Emelda.
“Emelda.......”
Semua orang disana terkejut melihat Emelda terjatuh dengan posisi menelungkup seperti itu. Tidak ada satupun yang sempat menahannya saat dia jatuh karena memang tidak ada yang menyangka hal itu akan terjadi.
Darius segera berlari ke arah Emelda dan langsung memangkunya. Yang lain pun ikut mendekati Emelda. Tampak darah segar sudah mengalir membasahi dress rumahan yang saat itu dipakai oleh Emelda.
“Emelda, bertahanlah, ku mohon bertahanlah. Kita akan ke rumah sakit sekarang,” kata Darius.
“Iya, ayo bawa ke rumah sakit secepatnya,” tambah Emilia yang terlihat sangat panik, bahkan matanya kini mulai berkaca-kaca melihat kondisi Emelda seperti itu.
Darius pun segera menggendong Emelda yang sedang meringis kesakitan. Mereka segera membawa Emelda ke rumah sakit.
Adam dan Emilia pergi dengan satu mobil. Sedangkan Ian mengemudi mobil lain dengan membawa Darius dan Emelda. Mereka tiba di rumah sakit secara bersamaan. Sesampainya disana, Emelda segera dibawa ke ruang UGD untuk diperiksa kondisinya.
“Maaf yang lain tolong tunggu diluar. Biarkan dokter memeriksa pasien terlebih dahulu. Permisi.”
Perawat itu pun segera menutup pintu ruangan tempat dimana Emelda akan diperiksa. Sementara Darius, Adam, Emilia dan Ian hanya bisa pasrah menunggu di luar ruangan.
“Tenanglah. Semoga semua baik-baik saja,” ucap Adam sambil menepuk bahu Darius. Darius tak mampu menjawab, dia hanya mengangguki ucapan Adam saja.
Sedari tadi Darius sudah berusaha untuk tetap tegar, tapi akhirnya airmatanya tumpah juga. Yang tadinya berdiri kini sudah berjongkok sambil bersandar di dinding sambil memejamkan matanya. Tak ada yang dapat ia lakukan saat ini selain berdo'a untuk keselamatan Emelda dan anak dalam kandungannya.
Ia mengira setelah terbebas dari penjara, ia akan segera tinggal bersama lagi dengan Emelda sambil menunggu kelahiran anaknya. Tapi yang terjadi malah di luar dugaannya.
Emilia sendiri sedang menangis di pelukan Adam. Inilah hal yang paling ia takutkan. Itu sebabnya ia bersikeras mengajak Emelda tinggal bersama di apartemen karena ia tak mau jika hal buruk terjadi pada Emelda dan kandungannya. Tapi hari ini karena kecerobohan Emelda sendiri, dia sudah membahayakan nyawanya dan bayi dalam kandungannya.
“Sabar ya, Sayang. Semua pasti akan baik-baik saja.” Adam terus menenangkan Emilia. Tangannya tidak hentinya mengusap-usap punggung Emilia. Ia tau Emilia pasti sangat khawatir dengan keadaan Emelda.
Ian yang bukan keluarga ikut merasa sedih atas apa yang menimpa Emelda. Ia dapat melihat kesedihan dan kekhawatiran yang berbaur jadi satu di wajah Darius dan Emilia.
Tak lama pintu ruang UGD pun terbuka. Seorang dokter nampak keluar dari sana. Darius dan yang lain segera mendekat ke dokter ingin mengetahui kondisi Emelda saat ini.
“Jadi, anda suami pasien?” tanya dokter ingin memastikan.
“Betul, Dokter. Saya suaminya. Bagaimana keadaan mereka, Dokter?”
Dokter wanita itu tampak menghela nafas dengan berat. Sepertinya ada hal serius yang akan dia sampaikan. Melihat ekspresi dokter seperti itu, Darius merasa jantungnya berdetak tak karuan. Pikirannya semakin kacau saja. Padahal dokter belum menjelaskan kondisi Emelda dan anaknya.
“Begini, Tuan. Saat ini pasien mengalami pendarahan yang cukup parah akibat benturan yang dia alami. Jadi, terpaksa kami harus melakukan operasi secepatnya.”
“Lakukan saja, Dokter. Lakukan saja sekarang jika memang itu yang terbaik untuk istri dan anak saya,” potong Darius dengan cepat.
“Operasi pasti akan kami lakukan malam ini juga, Tuan. Tapi....” dokter tampak ragu melanjutkan perkataannya.
“Tapi apa, Dokter?” Kali ini Emilia yang memotong pembicaraan dokter. Sungguh dia penasaran sekali dengan apa yang terjadi sebenarnya.
“Jika operasi dilakukan, maka kemungkinan untuk menyelamatkan keduanya cukup sulit. Kami hanya bisa menyelamatkan salah satu dari mereka saja,” jawab dokter dengan berat hati.
Mendengar hal itu Darius seperti hilang semangat hidup. Airmatanya semakin deras saja berjatuhan membasahi pipinya. Dadanya terasa sesak seketika mendengar berita itu. Kenapa dia harus dihadapkan dengan pilihan sesulit ini? Kalau boleh, malah dia mau menggantikan posisi mereka.
Darius tiba-tiba mundur beberapa langkah. Pandangannya sudah terlihat kosong. Ia bingung harus bagaimana. Ia tak bisa memilih antara keduanya. Dia menginginkan dua-duanya bisa selamat dan hidup bahagia bersamanya.
Emilia tak kalah bingungnya. Melihat Darius yang sudah seperti hilang semangat hidup, membuatnya tambah sedih. Ini memang pilihan yang paling sulit yang pernah ia hadapi.
“Dokter, apa tidak ada cara lain agar keduanya selamat? Tolong lakukan apapun untuk menyelamatkan keduanya, Dokter.”
Akhirnya Adam juga yang angkat bicara saat melihat yang lain larut dalam kebingungan.
“Tuan, kami juga menginginkan yang terbaik. Tentu saja kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan keduanya. Tapi kali ini kasusnya berbeda, Tuan. Kami butuh tanda tangan dari pihak keluarga untuk menyetujui operasi yang akan dilakukan, sekaligus persetujuan untuk mana yang harus kami selamatkan lebih dulu, ibunya atau bayinya.”
Adam melihat ke arah Emilia, tapi Emilia hanya menggelengkan kepalanya. Ia tak tau harus memutuskan apa. Matanya beralih ke Darius, lelaki itu juga sama bingungnya. Ini keputusan yang sangat berat untuk ia putuskan.
“Operasi harus dilakukan secepat mungkin. Kami hanya tinggal menunggu persetujuan dari pihak keluarga. Siapa yang harus kami selamatkan lebih dulu, ibunya atau bayinya?” tanya dokter yang yang terus mendesak agar mereka segera mengambil keputusan.