
Saat ini Adam sudah di mobil bersama Ian dalam perjalanan pulang. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam waktu itu. Ian melihat dari spion Tuannya sedang menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan lalu menegangkan tangannya ke depan. Hari ini mereka memang banyak sekali pekerjaan. Wajar saja Tuannya nampak lelah.
“Jadi, malam ini mau saya antar kemana, Tuan?” tanya Ian.
“Ke apartemen saja. Tapi kita mampir dulu ke rumah. Ada yang mau aku ambil di ruang kerjaku,” jawab Adam yang sudah bersandar di kursi mobil sambil memejamkan matanya.
“Baik, Tuan.”
Sementara itu di apartemen, Emilia sudah gelisah menunggu kepulangan Adam. Kali ini dia tak mau membiarkan Adam dirayu Emelda. Ia ingin bicara sesuatu pada Adam.
Emelda yang tau Emilia sedang gelisah menunggu Adam pulang, datang menghampirinya. Sebenarnya dia juga sedang menunggu Adam pulang.
“Kau terlihat cemas sekali. Kau takut aku akan membujuk Adam kembali padaku lebih dulu?” tanya Emelda secara terang-terangan.
“Buat apa takut. Aku yakin Adam mencintaiku saat ini,” jawab Emilia. Mulutnya berkata seyakin itu tapi hatinya ketar-ketir juga, sejujurnya ia takut Adam akan kembali pada Emelda.
“Kita lihat saja nanti. Aku akan buktikan padamu kalau Adam masih menyimpan perasaan padaku.”
Emelda hendak pergi, tapi ia berbalik lagi melihat Emilia.
“Aku rasa kau tidak usah cemas menunggu Adam. Dia tidak pulang malam ini. Tadi dia sudah meneleponku,” kata Emelda berbohong. Tanpa merasa berdosa ia masuk ke kamarnya meninggalkan Emilia.
Emilia sempat terkejut dengan perkataan Emelda, tapi ia berusaha tenang. Ia yakin Emelda sengaja memancing emosinya saja. Adam tidak mungkin seperti itu.
Lalu ia baru kepikiran untuk menelepon Adam. Ia pun bergegas masuk ke kamarnya untuk mengambil handphone-nya. Kemudian ia segera mencari nama Adam di contact handphone-nya lalu meneleponnya.
Panggilan pertama tidak dijawab. Emilia mencoba meneleponnya lagi. Hingga beberapa kali mencoba menelepon tapi tetap tidak ada jawaban juga dari Adam. Emilia semakin risau. Ia duduk di tepi ranjang sambil memeluk handphone-nya.
Kenapa tidak diangkat juga? Apa benar kata Emelda, Adam tidak pulang malam ini?
Pikiran buruk kembali menghantuinya. Apakah ia harus percaya pada ucapan Emelda tadi?
Emilia tidak tau saja saat ini mobil Adam baru saja masuk kawasan apartemennya. Sebelum turun dari mobil, Adam baru sadar handphone-nya tertinggal di kantor. Mungkin karena dia terburu-buru ingin segera pulang, jadinya ia lupa membawa handphone-nya saat pulang.
Adam pun menaiki lift apartemen. Ia berharap wajah yang pertama kali ia temui adalah wajah Emilia yang menyambutnya pulang dengan senyuman. Ia begitu merindukan wanitanya itu.
Saat Adam membuka pintu apartemen, wajah yang pertama kali ia lihat justru wajah Emelda. Tadinya Emelda keluar lagi dari kamar ingin melihat apakah Emilia percaya dengan perkataannya, ternyata memang Emilia mudah terpancing, buktinya Emilia sudah tidak ada lagi disana saat ia kembali.
“Adam, kau baru pulang jam segini? Apa kau mau teh hangat?” tawar Emelda dengan senyum terbaiknya.
“Tidak usah. Aku mau ke kamar Emilia saja. Mau melihatnya,” tolak Adam.
“Tunggu!”
Emelda menahan langkah Adam yang hendak melewatinya. Adam berbalik lagi dan melihat ke arah Emelda.
“Aku mau bicara sesuatu padamu, Adam.”
“Katakanlah. Apa yang mau kau bicarakan?”
“Aku...aku mau kembali padamu, Adam. Aku masih mencintaimu.”
Deg. Adam terkejut mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Emelda. Bukan hanya Adam, Emilia yang baru saja keluar karena ingin menunggu Adam pulang, ikut terkejut mendengar itu. Emilia sampai menutup mulutnya dan menggelengkan kepalanya. Ia tak percaya Emelda benar-benar serius dengan perkataannya tadi siang.
Emilia ingin sekali ikut masuk dalam pembicaraan mereka, tapi ia mengurungkan niatnya. Entah kenapa ia juga ingin tau apakah benar Adam sudah tidak memiliki rasa pada Emelda. Ia lebih memilih bersembunyi di balik dinding untuk menguping pembicaraan mereka.
“Kenapa kau bilang seperti itu?” tanya Adam dengan tegas.
“Karena aku masih mencintaimu, Adam. Dan aku ingin kembali padamu,” jawab Emelda dengan sungguh-sungguh.
Emelda berjalan mendekati Adam dan menunjukkan jari manisnya. Ada cincin berlian pemberian Adam melingkar disana.
“Aku bahkan masih menyimpan cincin yang kau berikan saat melamarku dulu. Aku yakin kau juga masih punya perasaan yang sama sepertiku, Adam. Aku mohon beri aku kesempatan lagi. Aku masih mencintaimu, Adam. Sampai kapanpun aku akan terus mencintaimu.”
Emelda mulai berkaca-kaca saat mengungkapkan perasaannya pada Adam. Ia merasa sedikit lega akhirnya bisa mengungkapkan perasaannya pada Adam.
“Tapi bagaimana dengan Emilia?” tanya Adam kemudian.
“Aku tau kau tidak mencintainya, Adam. Kau tertarik dengannya hanya karena wajah kami yang mirip saja.”
Emelda memberanikan diri lebih dekat dengan Adam. Bahkan saat ini dia sudah meraih kedua tangan Adam dan menggenggamnya. Dan itu tak luput dari pandangan Emilia. Mata Emilia mulai memanas melihat Adam yang diam saja dipegang tangannya oleh Emelda.
“Lihat aku baik-baik, Adam. Yang kau cintai adalah aku, Emelda, bukan Emilia. Aku sangat yakin kau belum melupakanku dan tidak akan bisa melupakanku,” ucap Emelda dengan penuh percaya diri.
Adam menatap Emelda dalam-dalam dan mencerna dengan baik apa yang Emelda katakan barusan padanya. Emelda membalas tatapan itu dengan penuh harap. Ia yakin Adam akan luluh padanya.
Adam tampak diam sejenak. Ia seperti memikirkan sesuatu yang sangat sulit diputuskan. Lalu terdengar ia menghela nafas dengan berat. Ia kembali menatap wajah Emelda yang jaraknya sangat dekat dengannya.
“Kau benar, Emelda. Aku rasa aku memang tidak bisa melupakanmu.”
Emelda langsung meneteskan airmata mendengar jawaban Adam. Secara spontan ia memeluk Adam dengan erat. Ia sangat merindukan pelukan ini.
Runtuhlah sudah pertahanan hati Emilia mendengar perkataan Adam. Dadanya terasa sesak mendengar semua itu. Kekhawatirannya kini terjawab sudah. Adam belum bisa melupakan Emelda yang merupakan cinta pertamanya.
Emilia hanya mampu menangis tanpa bersuara di balik dinding. Airmatanya sudah tumpah ruah membasahi pipinya. Ia sangat kecewa pada Adam. Ia sudah berharap sangat jauh tentang hubungannya dengan Adam. Tapi malam ini, Adam menunjukkan bahwa cintanya pada Emilia tak sebesar yang Emilia berikan padanya.
Emilia dengan perlahan meninggalkan Adam dan Emelda. Ia tak sanggup mendengarkan mereka lagi. Ia masuk ke kamar dan menangis sejadi-jadinya di atas ranjang.