
“Maaf, Adam. Semua yang dikatakan Darius itu benar,” ucap Emelda dengan pelan.
Tes.
Setetes air mata Adam jatuh bergulir ke pipinya. Dari tadi ia sudah sekuat tenaga menahannya, tapi airmata itu akhirnya lolos begitu saja. Emilia terharu melihat airmata Adam yang menetes. Ia bisa merasakan betapa hancurnya hati Adam. Ia ingin sekali memeluk Adam saat itu. Ia mau menenangkannya, tapi ia tau waktunya tidak tepat.
“Memang benar sebelum mengenalmu, Darius adalah kekasihku. Tapi kami sudah berpisah. Setelah itu aku bertemu denganmu dan aku jatuh cinta padamu, Adam,” kata Emelda membuka cerita.
“Kita tidak pernah berpisah Emelda. Tidak ada kata putus di antara kita. Saat itu aku pergi ke luar negeri untuk mengurus bisnisku. Dan saat itu aku dan Emelda sempat loss contact selama 2 bulan. Aku sangat sibuk mengurus project ku yang sedang bermasalah disana. Lalu saat aku kembali kesini dan mencarinya, ternyata dia sudah bersamamu,” tambah Darius.
“Tapi kau tidak pernah memberiku kabar. Jadi jangan salahkan aku kalau aku berpaling darimu waktu itu. Aku juga tidak menyangka kau akan kembali dan mencariku lagi. Saat kau tidak ada Adam lah yang selalu ada di sampingku dan menemaniku. Wajar kalau aku jatuh cinta padanya.”
“Cinta katamu? Kau tidak benar-benar mencintainya Emelda. Kau sendiri yang bilang kau tidak menyukai sifat Adam yang posesif dan suka mengatur. Di saat kau bertengkar dengan Adam, kau selalu datang kepadaku, akulah yang menenangkanmu dan membuatmu nyaman. Kau bukan mencintai Adam, kau hanya berambisi ingin menjadi Nyonya Adam, pengusaha nomor 1 di negeri ini,” jelas Darius.
“Tidak. Aku mencintainya. Aku bahkan sudah bertunangan dengannya,” sanggah Emelda.
“Kau mencintainya tapi tidur denganku? Apa kau sebut itu cinta?”
Emelda mendadak membisu. Pertanyaan Darius barusan membuat mulutnya bungkam. Ia sendiri jadi ragu apakah benar dia mencintai Adam atau hanya berambisi mengejar hartanya saja. Sementara dengan Darius, ia memang menyukai sifat Darius dari awal bertemu.
“Adam, ini memang benar anak Darius. Tapi waktu itu kami melakukannya dalam pengaruh alkohol. Dua bulan sebelum pertunangan kita, saat kau sedang ke luar kota untuk berbisnis, aku bertemu Darius dan aku curhat padanya tentang dirimu yang selalu sibuk dengan bisnismu. Saat itu kami berada di club. Kami mabuk dan kami melakukannya begitu saja. Tolong maafkan aku, Adam. Percayalah sampai saat ini aku masih mencintaimu,” jawab Emelda.
“Hentikan omong kosongmu, Emelda! Jangan pernah bilang kau mencintaiku sementara di belakangku kau tidur dengan laki-laki lain! Kau membuatku jijik melihatmu!”
“Tapi aku benar-benar mencintaimu, Adam,” ucap Emelda yang berusaha meraih tangan Adam, tapi Adam segera menarik tangannya dengan ekspresi jijiknya.
“Jangan sentuh aku! Aku tidak sudi disentuh dengan wanita sepertimu. Kalau kau sudah tidur dengannya lalu kenapa kau melanjutkan pertunangan kita? Kenapa kau pura-pura meninggal dunia? Kau tidak tau betapa hancurnya aku saat itu, hah?” bentak Adam tepat di hadapan Emelda.
Emelda terkejut dibentuk Adam seperti itu. Terlihat airmatanya kembali menetes. Adam membuatnya sangat takut.
“Cukup Adam! Jangan membentaknya terus! Dia sedang hamil,” bentak Darius pada Adam. Dia kasihan melihat ibu dari anaknya itu terus menerus dibentuk oleh Adam. Dia tidak ingin Emelda tertekan. Darius mencoba berdiri dan berjalan mendekati Emelda. Bahkan sekarang dia sudah merangkul Emelda dengan sebelah tangannya.
“Jangan sakiti dia! Biar aku ceritakan padamu semuanya. Dan setelah ini, terserah kau bagaimana. Yang jelas jangan sakiti Emelda dan anakku!” kata Darius dengan tegas.
Bersambung...