My Name Is Emilia

My Name Is Emilia
80. Kejutan



Hari itu pagi-pagi sekali Ian sudah keluar dari apartemennya untuk menjalankan tugas dari Adam. Ia sampai lupa tidak sarapan pagi. Saat melewati salah satu minimarket di pinggir jalan, ia menepikan mobilnya untuk membeli makanan sebagai pengganjal perut disana.


Saat hendak masuk ke dalam minimarket, di depan ia berpapasan dengan seorang wanita yang terburu-buru keluar sambil memegang kantong plastik belanjaan dan tangan satunya sedang memegang handphone di telinganya. Karena terlalu terburu-buru, wanita yang sedang memakai heels itu tidak sengaja terpeleset dan kehilangan keseimbangan.


Untungnya dengan sigap Ian mendekat dan menahannya agar tidak jatuh. Ian secara spontan meraih pinggang wanita itu agar tidak jatuh, sementara si wanita tak sengaja memegang kedua pundak Ian dan melepas belanjaan serta handphone-nya begitu saja.


“Kau tidak apa-apa, Nona?” tanya Ian yang masih mempertahankan tangannya disana agar wanita itu tidak jatuh.


Lain halnya dengan Ian, wanita itu malah terdiam sejenak. Ia terhipnotis melihat lelaki setampan Ian di depannya. Ia juga dapat menghirup aroma parfum yang sangat wangi dari tubuh lelaki di depannya itu. Apalagi waktu itu masih pagi, harum parfumnya masih segar melekat di tubuhnya.


Tampan sekali. Dia juga harum sekali. Batin wanita itu.


Ian sendiri mengerutkan keningnya melihat wanita itu terdiam di depannya. Ian bingung kenapa wanita itu tetap diam saja dengan posisi seperti itu.


“Nona....”


Masih belum ada tanggapan juga.


Ada apa dengan wanita ini? Kenapa dia tidak bereaksi apa-apa? Tanya Ian dalam hati.


“Nona, saya rasa tadi kepala anda tidak jatuh terbentur. Kenapa sekarang anda malah bengong begini?” tanya Ian yang membuat wanita itu tersadar dan cepat-cepat menarik diri dari Ian.


“Ma-maaf, Tuan. Saya tidak sengaja.”


Ya ampun, kenapa aku bisa bertindak memalukan seperti ini, sih?


Wanita itu jadi malu karena tidak sadar berlaku seperti itu. Ia dengan cepat mengambil handphone-nya dan belanjaannya yang jatuh berserakan, lalu memasukkan kembali ke dalam kantong plastik. Ian juga ikut mengambil barang belanjaan itu dan memberikannya pada wanita tadi.


“Terimakasih, Tuan. Maaf saya buru-buru. Ada panggilan darurat dari rumah sakit. Sekali lagi saya minta maaf, permisi.”


Wanita itu hanya menunduk dan membungkukkan sedikit badannya kepada Ian. Setelah itu dengan cepat ia pergi sebelum Ian membalas ucapannya.


Ian hanya menyunggingkan senyum sambil menggelengkan kepalanya saja melihat  wanita itu berlalu pergi. Baru saja Ian membalikkan badan dan membuka pintu masuk minimarket, terdengar suara alarm mobil yang membuat Ian menoleh lagi ke belakang.


Ternyata wanita itu lagi. Ia terburu-buru membuka pintu mobilnya yang ia kunci. Alhasil alarm mobil pun berbunyi. Ia segera meraih kunci mobil dari dalam saku blazernya lalu mematikan alarm itu. Dengan cepat ia masuk ke mobil dan meninggalkan minimarket.


“Dasar ceroboh,” gumam Ian sambil menggelengkan kepalanya lagi. Tampak seulas senyum tergambar di bibirnya melihat kekonyolan wanita tadi. Lalu ia pun masuk ke minimarket membeli beberapa roti dan minuman untuk sarapannya pagi ini.


***


Adam sudah berada di kantornya. Ada beberapa meeting yang harus ia hadiri hingga membuatnya sibuk sekali. Apalagi Ian tidak masuk ke kantor hari karena harus menjalankan tugas lain dari Adam di luar.


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Adam melirik jam tangannya. Sudah pukul 6 sore rupanya. Ia mengambil handphone-nya yang tergeletak di atas meja kerja lalu menelepon Ian.


“Hallo. Bagaimana? Semuanya sudah beres?” tanya Adam begitu panggilan itu tersambung.


“Sudah, Tuan. Semua berjalan lancar. Sekarang saya sudah di jalan menuju apartemen sambil membawa kejutan yang Tuan siapkan,” jawab Ian.


“Bagus. Kalau begitu kita bertemu di parkiran apartemen. Aku kesana sekarang juga.”


“Baik, Tuan.”


***


Di apartemen ada Emilia yang sedang duduk di ruang depan bersama Emelda. Ada sesuatu yang sepertinya ingin Emilia sampaikan pada Emelda.


“Emelda, aku mau bicara sesuatu yang penting padamu,” kata Emilia memulai pembicaraan.


“Katakan saja. Tapi aku sedang tidak ingin mendengarmu membujukku menjauhi Adam,” sahut Emelda dengan ketus. Emilia sampai menghela nafas kasar dibuatnya. Sepertinya Emelda belum mau menyerah, ia masih bersikeras bertahan untuk mendapatkan Adam kembali.


“Emelda, ayolah, kita ini saudara kandung. Sampai kapanpun air dicincang tidak akan putus, begitu juga hubungan persaudaraan kita. Aku mau kita tidak bertengkar karena memperebutkan Adam,” bujuk Emilia dengan lembut.


Bohong kalau Emilia tidak kecewa dan sakit hati saat tau kelicikan Emelda untuk mendekati Adam, tapi walau bagaimanapun Emelda juga saudara kandungnya. Apalagi saat ini hanya Emelda lah keluarga kandung yang ia punya. Ia tak mau hubungan persaudaraan antara mereka rusak hanya karena memperebutkan Adam.


“Kau bilang begitu karena Adam memilihmu. Tapi kau tidak merasa bagaimana berada di posisiku,” bantah Emelda.


“Aku sedang hamil dan anakku butuh seorang ayah nantinya,” lanjut Emelda.


“Anakmu akan tetap punya seorang ayah, Emelda,” kata Emilia.


Emelda memicingkan matanya menatap Emilia. “Apa maksudmu?”


Ceklek.


Pintu apartemen terbuka. Muncullah Adam dari balik pintu. Emilia dan Emelda secara bersamaan menoleh ke arah Adam yang baru masuk.


“Adam, kau sudah pulang?” tanya Emilia yang berdiri dari duduknya hendak menyambut Adam.


Biasanya Adam akan sampai di apartemen jam 7 malam atau bahkan lewat dari itu, tapi kali ini Adam pulang sedikit lebih cepat dari biasanya.


“Iya, sayang. Tapi aku tidak datang sendiri," jawab Adam sambil mendekati Emilia. Ia bahkan sudah merangkul pinggang Emilia.


Lalu matanya menatap ke arah Emelda yang masih duduk di sofa. "Aku datang membawa kejutan untuk seseorang disini,” lanjutnya lagi.


Emilia mengerutkan keningnya.


“Kejutan?” tanya Emilia yang diangguki Adam.


Emilia bertanya-tanya dalam hati apa maksud kejutan yang Adam katakan. Dan siapa yang akan diberinya kejutan itu?


Kejutan apa yang Adam maksud? Dia tidak mengatakan apa-apa padaku sebelumnya. Batin Emilia.


Tak hanya Emilia, Emelda juga penasaran apa maksud perkataan Adam tadi. Ia sempat berpikir apakah Adam akan memberi kejutan pada Emilia dengan melamarnya secara khusus?


Ceklek.


Tiba-tiba pintu apartemen kembali terbuka. Mereka bertiga secara bersamaan menoleh ke arah pintu itu.


“Kau?”