
Besoknya Emilia meninggalkan apartemen bersamaan dengan Adam yang akan berangkat ke kantor. Awalnya Emilia menolak saat Adam ingin mengantarnya pulang ke kontrakan, tapi bukan Adam namanya kalau tidak dibumbui dengan pemaksaan.
“Terimakasih sudah mengantarku.” Ucap Emilia saat tiba di depan kontrakannya.
“Tidak masalah. Jangan lupa jaga kesehatanmu. Ingat, kau tidak boleh terlalu lelah.” Kata Adam kembali mengingatkan Emilia.
“Iya, aku ingat. Kalau begitu aku turun dulu. Sampai jumpa lain waktu.”
Adam hanya mengangguk saja. Sebenarnya dia masih tidak rela Emilia kembali ke kontrakannya. Tapi dia juga tidak bisa memaksa Emilia lagi untuk lebih lama tinggal di apartemen nya. Setelah memastikan Emilia masuk ke kamarnya, barulah Adam berangkat ke kantornya.
Baru saja Emilia menutup pintu kamarnya, tiba-tiba sudah ada yang mengetuk pintu itu dengan keras. Saat ia buka, ternyata teman kamar sebelahnya yang mengetuk. Siapa lagi kalau bukan Serra.
Sudah dua minggu lebih Serra tidak mendapat kabar apapun dari Emilia yang tiba-tiba menghilang begitu saja. Itu membuat nya panik. Bagaimanapun Emilia pendatang baru di kota itu. Ia tak mau sampai Emilia kenapa-napa.
“Emilia, kau dari mana saja?” tanya Serra setengah berteriak.
“Sabar kak, nanti aku cerita. Ayo masuk dulu.” Emilia menarik tangan Serra dan menyuruh nya duduk di pinggir tempat tidurnya.
“Sabar, sabar, aku panik karna kau menghilang begitu saja.” Ucap Serra dengan nada kesal.
“Iya, aku minta maaf kak. Aku bahkan tidak punya nomor hp kakak untuk mengabari kalau aku tidak pulang.”
Serra menepuk jidatnya karna mendengar pengakuan polos Emilia. Dia sendiri pun juga sama tidak punya nomor handphone Emilia untuk dihubungi.
Kemudian Serra yang sudah sangat penasaran kemana perginya Emilia belakangan ini mulai melontarkan pertanyaan tanpa henti. Emilia dengan sabar menceritakan satu per satu kejadian yang ia alami selama 2 minggu ini. Mulai dari peristiwa penusukannya, dirawat di rumah sakit sampai menginap di apartemen Adam.
Serra sampai terkejut mendengar cerita Emilia. Dalam waktu 2 minggu sudah banyak saja pengalaman hidup yang dialami tetangga kamar sebelahnya itu. Beruntung nya ia diselamatkan oleh Adam.
“Sudah, Kak. Aku merasa sangat baik sekarang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Jawab Emilia dengan tersenyum.
“Syukurlah. Lalu setelah ini apa rencanamu? Apa kau akan berjualan roti lagi? Saranku sebaiknya kau cari pekerjaan lain saja. Kau itu orang baru disini. Belum hapal banyak jalan. Nanti kau tersesat lagi kan repot.”
“Hmmm kakak benar, aku tidak akan berjualan roti lagi. Aku akan mencari pekerjaan lain saja. Apa di tempat mu ada lowongan kerja buatku, Kak?”
“Kebetulan ada, sih. Tapi sebagai waitress sama sepertiku. Apa kau mau?”
“Mau kak. Benar ada? Tolong bantu aku kak agar bisa bekerja disana. Please.” Kata Emilia seraya meraih tangan Serra.
“Tapi bagaimana dengan lukamu? Apa kau benar-benar sudah sembuh? Lalu Tuan Adam apa akan mengijinkanmu bekerja sebagai waitress?” tanya Serra berusaha memastikan terlebih dahulu sebelum Emilia mengambil keputusan.
“Dia bukan siapa-siapa ku, Kak. Memangnya dia mau kasih makan kalau aku tidak kerja. Aku sudah sembuh kok.”
“Tapi dia begitu peduli padamu. Apa kau tidak merasa begitu?”
Emilia menggigit bibirnya bawahnya. Ingatan nya saat bersama Adam sejak di rumah sakit hingga di apartemen kembali muncul. Ya, dia sebenarnya juga merasa Adam begitu peduli padanya, tapi dia tidak mau menaruh harapan lebih. Bisa saja itu hanya sekedar menolong sesama umat manusia, pikirnya.
“Entahlah, Kak. Aku sendiri bingung. Yang pasti, aku tidak mau banyak berhutang budi padanya. Jadi, kakak mau kan bantu aku bekerja di tempat kakak? Kita bisa lebih sering bertemu dan mengobrol, Kak.”
“Iya sih, disana tidak usah bekerja, mengobrol saja kita biar dipecat.” Ucap Serra yang membuat keduanya tertawa terbahak-bahak.
Lalu obrolan mereka pun berlanjut sampai akhirnya Serra setuju untuk membantu Emilia bekerja di tempat nya.