
Sesudah melamar Emilia di dalam mobilnya, barulah Adam mengajak Emilia masuk ke apartemen. Karena tadi rencana makan malam mereka batal, terpaksa mereka saat ini makan di apartemen saja.
Emilia memasak dua bungkus mie instan berkuah, lengkap dengan sayuran dan telur sebagai tambahan. Sementara Adam hanya sibuk menonton calon istrinya itu memasak sambil sesekali menggodanya.
“Kalau setiap hari kau memasak untukku, pasti lama-lama aku jadi pria yang memiliki perut buncit. Seperti temanmu di tempat kerjamu dulu,” kata Adam yang berdiri di samping Emilia yang sedang memasak.
“Pria buncit? Dulu? Siapa ya?” Emilia berusaha mengingat siapa yang dimaksud Adam.
“Yang waktu itu memberimu kartu nama, lalu besoknya kau berjualan roti,” jawab Adam.
“Chef Bara maksudmu? Yang gendut itu kan?”
Adam mengangguk.
“Tunggu, darimana kau tau Chef Bara memberiku kartu nama? Aku rasa dulu kita belum dekat. Jangan bilang kalau kau mengikutiku, ya!” Emilia curiga pasti Adam mengikutinya waktu itu.
“Memangnya kenapa kalau aku mengikutimu?”
“Kau benar-benar mengikutiku? Ck ck ck, ternyata kau sudah naksir aku dari dulu, ya.”
“Hmmm aku rasa begitu," jawab Adam cuek.
Emilia hanya bisa geleng-geleng kepala dibuat Adam. Dia tak menyangka Adam ternyata sudah mengikutinya dari dulu. Pantas saja Adam bisa tau waktu itu kalau dia berjualan roti.
Tak lama mie yang dimasak pun sudah matang. Sekarang mereka berdua sedang asik memakan mie buatan Emilia yang masih panas.
“Apa Emelda sudah makan?” tanya Adam tiba-tiba. Saat pulang tadi mereka belum melihat Emelda lagi.
“Kau bisa perhatian juga padanya, ya.” Emilia pikir Adam tidak akan peduli lagi pada Emelda.
Adam meletakkan sendoknya lalu bertopang dagu menghadap Emilia di depannya.
“Kau cemburu ya, Sayang?”
“Aku? Tidak. Aku tidak cemburu. Biasanya kan kau selalu ketus kalau membahas soal dia. Makanya sekarang tumben kau bertanya tentang dia.”
“Yakin?”
Emilia mengangguk. Adam melihat dari mata Emilia, memang benar dia sedang tidak cemburu. Adam mengambil sendoknya lagi dan melanjutkan makannya.
“Aku bukan peduli padanya. Aku hanya tidak mau dia merepotkan kita lagi seperti tadi kalau dia tidak makan,” kata Adam.
Ternyata Emilia benar. Emelda saat ini sedang mengintip mereka disebalik pintu dapur. Emelda dari tadi gelisah menunggu mereka berdua yang belum sampai juga. Sementara dirinya sudah lebih dulu sampai diantar Ian. Saat mendengar ada suara, Emelda keluar dan melihatnya, ternyata Adam dan Emilia baru sampai dan langsung ke dapur.
Emelda dari tadi menguping pembicaraan mereka. Awalnya dia senang Adam menanyakan dia sudah makan apa belum, tapi kemudian dia kecewa karena Adam menganggapnya hanya bisa merepotkannya saja.
Lihat saja, Adam. Kau boleh bilang begitu padaku sekarang, tapi nanti aku akan membuatmu peduli lagi padaku. Kau harus kembali lagi padaku, Adam. Harus!
Emelda pun kembali ke kamarnya diam-diam.
Setelah selesai makan dan membersihkan dapur, Adam masuk ke kamarnya sementara Emilia memilih masuk ke kamar Emelda karena ingin melihat kondisinya terlebih dahulu.
“Emelda, kau belum tidur?” tanya Emilia yang melihat Emelda masih duduk bersandar di ranjangnya. Lalu Emilia duduk di tepi ranjang itu.
“Belum. Masih belum ngantuk. Mungkin sebentar lagi,” jawab Emelda dengan senyum yang dipaksakan. Matanya tertuju pada kalung yang dipakai Emilia. Rasanya Emilia tidak ada kalung seperti itu.
“Kau harus banyak istirahat. Semoga kejadian tadi tidak terulang lagi. Aku akan meminta Bibi menyikat kamar mandi tiap hari agar lantainya tidak licin.” Emilia masih khawatir dengan keadaan kembarannya itu.
“Iya, terimakasih. Itu...itu kalungmu? Sepertinya aku baru lihat,” tanya Emelda. Dia sudah sangat penasaran sekali dengan kalung itu.
“Oh ini?” Emilia memegang kalungnya.
“Ini Adam yang memberikannya padaku. Kau tau, tadi dia bilang dia mau mengajakku makan malam dan melamarku dengan ini. Tapi karena kejadian tadi, akhirnya dia memberikan ini sewaktu di mobil,” jawab Emilia jujur tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Apa? Dia mengajak Emilia makan malam dan ingin melamarnya? Apa Adam akan melakukan hal yang sama seperti dia melamarku dulu? Tidak! Aku tidak mau! Adam milikku! Selamanya milikku! Kau harus kembali padaku, Adam. Aku tidak akan membiarkanmu bersama Emilia.
“Kau kenapa?” tanya Emilia yang melihat Emelda hanya diam dengan wajah yang sulit diartikan. Sepertinya Emelda tidak suka mendengar apa yang Emilia katakan tadi.
“Ah, t-tidak. Tidak apa-apa. Aku tidak menyangka saja hubungan kalian akan seserius itu,” kata Emelda berbohong.
“Aku juga tidak menyangka hubungan kami akan sejauh ini. Aku harap Adam tidak akan mengecewakanku.” Emilia tidak bermaksud untuk pamer hubungannya dengan Adam. Karena Emelda saudaranya jadi dia pikir tidak ada salahnya bercerita dengan saudara sendiri.
Sayangnya dia tidak tau seperti apa saudara yang ia pedulikan itu. Emelda tentu saja tidak senang mendengar kabar seperti itu.
“Ya sudah, kau istirahatlah. Aku mau kembali ke kamarku dulu. Selamat malam.”
Emelda hanya mengangguk tanpa menyaut Emilia lagi. Begitu Emilia sudah keluar dan pintu kamarnya ditutup, barulah ia melampiaskan kemarahannya. Ia melempar bantal di sampingnya hingga jatuh ke lantai.
“Kau tidak boleh bersamanya, Emilia. Adam itu milikku. Aku yang mengenalnya lebih dulu. Aaaarrggghhhh....semua karena bayi dalam kandunganku! Kalau aku tidak hamil pasti aku sudah bahagia menikah dengan Adam. Kau harus kembali padaku, Adam. Aku akan merebutmu kembali dari Emilia.”
Emelda terlihat bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Bukannya tidur, dia malah sibuk memikirkan rencana yang akan dia lakukan untuk memisahkan Adam dengan Emilia.