
Besoknya Emilia berangkat kerja seperti biasanya. Dia sudah banyak membolos. Dia tak mau kehilangan pekerjaannya karna sering bolos kerja. Meskipun sebenarnya ia masih butuh waktu untuk menenangkan diri, tapi dia tak ada pilihan lain. Toh berdiam diri di kamar juga bukan solusi yang bagus untuknya yang sedang patah hati. Lebih baik dia menyibukkan diri dengan bekerja.
Serra melihat ada yang lain dari Emilia. Ia nampak berbeda, tak ceria seperti biasanya. Ia juga lebih banyak diam dan hanya bicara seperlunya. Serra menebak ini pasti ada kaitannya dengan Adam. Serra mencoba menyemangati Emilia dan sering mengajaknya berbicara. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk membuat suasana hati Emilia baik kembali.
“Emilia, tolong bantu aku bawakan pesanan ini ya,” pinta Serra.
“Baik, kak.”
Emilia tak banyak bicara. Ia hanya senyum sekilas lalu membantu Serra membawa pesanan untuk pelanggan restoran. Meskipun suasana hati Emilia sedang mendung, tapi ia tetap memberikan senyum manisnya kepada pelanggan restoran. Sampai akhirnya ada suatu pemandangan yang kembali menyakitkan hatinya.
“Tuan Adam, selamat datang,” ucap salah satu pelanggan wanita. Dari penampilannya yang berkelas dapat dibaca bahwa dia adalah rekan bisnis Adam. Wanita itu pun berdiri dan mendekati Adam. Saat hendak mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Adam, wanita itu melihat tangan Adam yang terbungkus perban.
“Tuan, ada apa dengan tangan anda?”
“Ah, ini tidak apa-apa. Ini kecerobohanku saja. Hanya luka kecil,” jawab Adam sambil tersenyum untuk menutupi kebohongannya.
Adam melirik sekilas Emilia dengan ekor matanya. Lalu tiba-tiba ia mendekat ke arah wanita itu untuk memberikan pelukan sekejap sebagai pengganti untuk berjabat tangan dengannya. Ian yang berada di belakang Adam sempat terkejut melihat tingkah laku bosnya. Tidak biasanya ia seperti itu. Sedangkan wanita yang dipeluk Adam tentu saja sangat senang. Rasanya itu pertama kali ia dipeluk oleh Adam. Lain halnya dengan Emilia yang cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain agar tak menyakiti hatinya.
Apa begini sifatmu sebenarnya, Adam? Semudah itukah kau melupakanku dan berpindah hati dengan wanita lain? Memeluk wanita sembarangan, aku rasa itu bukan sifatmu. Tapi kenapa sekarang kau melakukan itu? Batin Emilia.
Maafkan aku, Emilia. Aku berharap dengan begini kau akan mudah untuk melupakanku. Batin Adam.
Emilia melanjutkan pekerjaannya. Mengantarkan makanan dan minuman untuk pelanggan dari meja ke meja. Ia sama sekali tak mau lagi melihat ke arah Adam dan juga wanita itu.
“Emilia, tolong antarkan dessert ini ke meja Tuan Adam, ya,” kata salah satu koki disana.
Emilia terdiam sejenak. Ia melihat ke sekeliling, tidak ada pelayan yang sedang menganggur saat itu, semua sedang sibuk dengan pekerjaan mereka. Mau tidak mau Emilia harus mengantar pesanan itu sendiri.
“Baik, Chef,” ucap Emilia dengan senyum yang dipaksakan.
Emilia pun mengambil nampan berisi dessert pesanan Adam dan mengantarnya ke meja Adam. Seperti memang disengaja, saat Emilia meletakkan dessert itu ke atas meja, tiba-tiba Adam mengambil tissu dan mengelap ujung bibir wanita di depannya. Sementara Emilia berada di tengah mereka menyaksikan adegan romantis yang tak ingin ia lihat.
“Pelan-pelan minumnya.”
Adam menarik tangannya dan tak sengaja menyenggol gelas yang ada di atas meja. Gelas itu menumpahkan air putih yang ada di dalamnya. Tanpa sengaja air itu tumpah mengenai celana Adam. Ada juga sebagian yang jatuh ke lantai.
Melihat hal itu Adam cepat-cepat membersihkan celananya dengan serbet. Sementara Emilia mengelap tumpahan air yang ada di lantai.
“Saya permisi ke toilet sebentar. Ingin membersihkan ini,” kata Adam seraya berdiri dari duduknya.
Emilia masih tetap mengelap lantai itu. Kemudian Adam yang hendak pergi ke toilet, dengan sengajanya menginjak tumpahan air di lantai hingga menimbulkan percikkan. Ia melangkah begitu saja tanpa sedikitpun memperhatikan Emilia yang berjongkok disana.
Deg. Dua kali Adam membuatnya sakit hati hari ini. Ia merasa sangat hina sekali. Apakah Adam sedang menunjukkan status sosial mereka yang berbeda? Emilia tersenyum sinis. Ia jadi yakin kalau wanita miskin sepertinya tidak pantas bersanding dengan pengusaha kaya seperti Adam.
“Nona, apa anda baik-baik saja?” tanya Ian yang ikut berjongkok di samping Emilia.
Emilia sudah selesai mengelap lantainya. Ia pun berdiri, begitu juga dengan Ian.
“Saya tidak apa-apa, Tuan. Ini sudah menjadi tugas saya. Permisi.”
“Baiklah. Silahkan, Nona.”
Ian merasa miris dengan apa yang dialami Emilia barusan. Ia tau Emilia pasti sakit hati atas perlakuan Adam. Tapi Ian salut padanya karena ia berusaha untuk tetap tegar.
Emilia segera ke dapur untuk meletakkan nampan dan lap yang ia bawa. Dadanya terasa sesak. Ia tak tahan menahan airmatanya lebih lama lagi untuk tidak jatuh. Ia butuh menyendiri saat ini.
Dengan langkah cepat ia berniat untuk pergi ke toilet. Ia ingin menenangkan dirinya sekarang. Tak disangka di depan toilet ia malah berpapasan dengan Adam yang baru saja keluar dari toilet pria.
Emilia dan Adam sama-sama menghentikan langkah mereka. Mereka saling berhadapan dalam jarak yang tak begitu dekat. Kedua pasang mata itu saling bertatapan. Emilia sudah tak bisa lagi mengontrol kesedihannya. Airmatanya menetes begitu saja. Tapi seakan sadar bahwa hal itu dapat membuatnya lemah, Emilia langsung menyeka airmatanya.
“Permisi, Tuan,” ucap Emilia lalu pergi melewati Adam begitu saja.
Dari lubuk hati yang paling dalam, Adam sungguh tak tega melihat Emilia sampai meneteskan airmatanya. Rasanya ia ingin sekali menyeka airmata itu dengan kedua tangannya dan mendekap Emilia erat-erat. Tapi di saat yang sama ia juga teringat akan pengkhianatan yang Emelda lakukan kepadanya. Itu membuat pikirannya bingung dan hatinya kacau. Adam mengepalkan tangannya dan menghela nafas dalam-dalam untuk menenangkan pikirannya.
Aku terpaksa melakukan ini, Emilia. Kita tak bisa bersama lagi. Apa yang aku lakukan, hanyalah demi kebaikan kita. Aku harap kau segera melupakanku.