
Adam melajukan mobil menuju ke apartemennya. Satu-satunya tempat yang ia datangi saat sedang dalam masalah adalah di tempat itu. Sesampainya disana ia tergesa-gesa masuk ke apartemennya lalu pergi ke ruang kerjanya disana.
Ia membuka laci meja kerjanya. Di laci paling atas ada foto pertunangannya dengan Emelda dalam sebuah bingkai foto berwarna hitam. Ia mengambil foto itu dan menghempasnya ke lantai.
Praaanngggg.
Bingkai foto itu pun pecah berderai di lantai. Tak puas sampai disitu, Adam menginjak-injak foto itu dengan geram. Ia seolah sedang menumpahkan kekesalannya disana.
“Kalian semua pengkhianat!” teriak Adam dengan keras.
Lalu ia mengamuk dan melempar semua benda yang ada di atas meja kerjanya. Semua benda jatuh berserakan di lantai. Tak cukup sampai disitu, saking kesalnya dia juga memukul lemari kaca yang ada disana dengan tangannya sendiri.
Praaanngggg. Praaanngggg. Praaanngggg.
Lemari kaca itu pecah dan belingnya berhamburan ke lantai. Hiasan di dalam lemari pun ikut jadi sasaran. Semua diporak-porandakan oleh Adam. Ia tidak sadar, tangannya saat ini sudah berdarah-darah karena perbuatannya sendiri.
“Tuan, apa yang Tuan lakukan? Tolong hentikan ini, Tuan. Jangan menyakiti diri Tuan sendiri,” kata Ian yang terkejut saat masuk ke ruang kerja Tuannya.
“Tinggalkan aku sendiri! Urusanmu adalah memastikan Darius hancur. Tarik semua saham! Buat perusahaannya bangkrut!” kata Adam dengan emosi yang menggebu-gebu.
“Saya pasti akan melakukannya, Tuan. Tapi untuk saat ini, tolong tenangkan diri anda, Tuan,” pinta Ian. Ia tidak mau sampai Tuannya itu kenapa-napa.
“Aku tidak butuh belas kasihanmu. Aku tidak butuh belas kasihan siapapun. Pergi dari sini! Tinggalkan aku sendiri!”
Tak lama Emilia pun sampai di apartemen. Emilia memang diberi Adam kartu akses dan kode untuk masuk ke apartemennya dulu sewaktu Emilia menginap disana. Emilia pun masuk. Mendengar ada keributan, Emilia menuju ke ruangan tersebut.
Saat sampai di depan pintu ruang kerja Adam, Emilia sangat terkejut melihat ruangan itu sudah berantakan. Pecahan kaca dan barang-barang lain berserakan di lantai. Dan Emilia lebih terkejut lagi melihat tangan Adam yang berdarah.
“Adam,” panggil Emilia.
Adam dan Ian pun menoleh ke sumber suara. Emilia berjalan mendekat ke arah Adam, tapi baru beberapa langkah, suara Adam menghentikannya.
“Berhenti disitu! Aku tidak mau melihat wajahmu lagi,” kata Adam penuh penekanan.
Deg. Emilia tertegun dengan perkataan Adam. Emilia menghentikan langkahnya. Ia terdiam sejenak mencerna perkataan Adam barusan. Apakah dia salah dengar? Atau memang benar Adam sudah tidak mau melihatnya lagi? Apa ini ada hubungannya dengan Emelda?
“Adam, aku kesini untukmu,” ucap Emilia dengan tulus.
“Untukku? Untuk memperlihatkan belas kasihanmu padaku setelah saudara kembarmu menipuku? Aku tidak butuh itu. Yang aku butuh sekarang, kau pergi dari sini dan jangan menampakkan wajahmu lagi di hadapanku!”
Sekarang bukan hanya Emilia, Ian pun ikut dibuat bingung dengan perkataan Adam. Yang salah Emelda, kenapa Emilia yang harus ikut dibenci?
“Tapi aku Emilia, Adam. Aku bukan, Emelda.”
“Lalu apa bedanya kau dan dia? Setiap kali melihat wajahmu hanya membuatku semakin sakit hati. Wajahmu terus mengingatkan aku dengannya. Dan yang paling aku ingat adalah semua pengkhianatan yang dia lakukan padaku. Itu membuatku tersiksa, Emilia.”
Adam menghela nafas dengan berat lalu melanjutkan perkataannya,”Dia telah mengkhianatiku dengan orang yang sudah ku anggap sahabatku sendiri. Dan mirisnya lagi, akulah yang jadi orang ketiga di antara mereka. Mereka berhasil membodohiku selama berbulan-bulan. Bahkan aku sampai kehilangan semangatku untuk hidup hanya karna menangisi kematiannya, padahal itu tidak pernah terjadi.”
“Adam, aku tau ini menyakitimu. Bahkan aku rasa maaf pun tidak cukup untuk menyembuhkan rasa sakit di hatimu. Tapi tolong, jangan ikut membenciku. Apa salah yang aku lakukan? Aku bahkan tidak tahu menahu sama sekali tentang semua ini.”
“Kau tidak salah, tapi setiap kali melihatmu aku terus mengingat pengkhianatannya. Jadi mulai sekarang, sebaiknya kau jangan menampakkan wajahmu lagi di hadapanku.”
Adam sebenarnya berat mengatakan itu. Tapi mau bagaimana lagi, saat itu ia masih marah pada Emelda, emosinya masih belum stabil.
“Adam, lihat aku! Aku bukan Emelda, tapi Emilia,” kata Emilia yang kini sudah berada tepat di depan Adam.
“Bagiku sama saja. Kalian sama saja. Pergi dari hadapanku sekarang! Pergi!”
“Lihat aku baik-baik, Adam. Apa aku sama dengan dia? Apa tidak ada sedikitpun kenangan tentang kita yang membuatmu bisa membedakan antara aku dan Emelda?” tanya Emilia dengan terisak.
“Kau ingatkan saat pertama kali bertemu denganku? Waktu itu kau memelukku bahkan menciumku. Lalu besoknya kau juga menciumku lagi. Kau masih ingatkan? Kau pernah menolongku dan membawaku ke rumah sakit, setelah itu aku menginap di apartemenmu dan kita menghabiskan waktu bersama di balkon. Kau masih ingat itu kan, Adam? Saat itu kau bilang tidak akan membandingkanku dengan Emelda lagi, Adam,” lanjut Emilia lagi.
“Cukup Emilia, cukup! Aku tidak mau dengar semua itu.”
“Kau harus dengar agar kau bisa membedakan antara aku dan dia!”
“Itu semua sudah berakhir, Emilia,” pekik Adam yang membuat Emilia terhenyak.
“Apa?”
“Ya, itu semua sudah berakhir. Aku juga tidak mau lagi mengingat semua tentangmu. Aku tidak mau lagi berhubungan dengan kau ataupun Emelda! Jadi sekarang pergi dari sini sebelum aku mengusirmu dengan kasar!”
Kali ini Emilia tak tau lagi harus berkata apa. Semudah itukah Adam melupakan semua kenangan bersamanya? Bukankah dulu dia yang datang mengejar Emilia? Lalu kenapa sekarang dia juga yang meminta Emilia pergi begitu saja? Jujur, Emilia sudah jatuh hati pada Adam. Dan perkataan Adam barusan berhasil membuat hatinya hancur.
Rasanya ia tak mau menyerah begitu saja. Ia masih tetap ingin bersama Adam. Namun melihat perlakuan Adam kepadanya, sepertinya usahanya akan sia-sia saja.
“Jadi kau benar-benar ingin aku pergi dari hidupmu?” tanya Emilia dengan lirih. Ia berharap Adam mau merubah keputusannya, tapi ternyata tidak. Adam tetap pada pendiriannya.
“Ya, pergilah dari kehidupanku. Aku tidak mau melihat wajahmu lagi. Wajahmu hanya membuat hatiku semakin sakit dan kecewa.”
Emilia kembali meneteskan airmatanya. Tapi kali ini ia tak bicara apa-apa. Tangannya terlihat mulai melepaskan kalung pemberian Adam dari lehernya. Ia meraih tangan Adam yang berdarah itu, lalu meletakkan kalung itu dalam genggaman Adam.
“Kau pernah bilang kalung itu mewakili hatimu kan? Kau pernah bilang kalau aku melepasnya berarti aku menjauhkan hatimu dari hatiku. Tapi sekarang kau yang memintaku menjauhimu. Kau yang memintaku pergi. Jadi kurasa, aku harus mengembalikan kalung itu padamu.”
“Dulu kau yang datang mengejarku. Kau yang memintaku berada di sisimu. Tapi sekarang kau yang memintaku pergi darimu. Aku terima keputusanmu. Tapi ingat, Adam. Jangan pernah berharap aku akan kembali lagi padamu, apapun alasannya.”
Emilia menyeka airmatanya. Hatinya sangat hancur tapi ia berusaha tegar. Ia tak mau terlihat lemah di depan Adam.
Emilia pun berbalik dan meninggalkan Adam yang mematung melihat kepergian Emilia. Emilia terus berjalan tanpa menoleh ke belakang sampai ia tak lagi terlihat oleh Adam.
Haruskah aku menahan kepergiannya? Apakah yang aku lakukan semua ini salah? Tapi aku juga tidak bisa tahan jika melihat wajahnya. Wajahnya hanya mengingatkan pada sebuah pengkhianatan. Emilia, kenapa kau harus memiliki wajah yang sama seperti dia?