My Name Is Emilia

My Name Is Emilia
62. Membujuk Adam



Adam terkejut mendengar permintaan Emilia. Bagaimana bisa ia meminta hal seperti itu pada Adam. Bukannya ia tidak tau kalau Adam masih sakit hati atas perlakuan Emelda padanya. Belum lagi masalah penculikan Emilia minggu lalu.


Adam menepikan mobilnya di pinggir jalan. Ia ingin memastikan langsung permintaan aneh Emilia padanya.


“Apa aku tidak salah dengar? Kau mau Emelda tinggal bersama di apartemenku?”


“Iya, Adam. Aku tau mungkin ini sangat berat bagimu. Tapi saat ini Emelda butuh seseorang untuk menemaninya. Dia tidak bisa tinggal sendirian saja dalam kondisi hamil besar seperti itu. Kalau tiba-tiba dia kontraksi atau perutnya sakit bagaimana? Aku juga khawatir pada bayi dalam kandungannya.”


Adam geleng-geleng kepala mendengar jawaban Emilia. Sudah dijahati, masih saja bisa peduli pada Emelda. Adam meraih kedua tangan Emilia dan menatap matanya.


“Sayang, kau boleh minta apa saja padaku. Tapi ku mohon jangan yang satu itu. Dia sudah dewasa.  Dia bisa mengurus dirinya sendiri. Dulu juga dia tinggal sendiri di apartemennya,” kata Adam masih menolak permintaan Emilia.


“Adam, sekarang kondisinya beda. Dia sedang hamil besar. Tadi saja baru belanja sebentar dia sudah kelelahan dan perutnya terasa keram. Tolong kali ini kasihani dia Adam,” bujuk Emilia lagi sambil membalas genggaman Adam.


“Aku akan suruh orang lain untuk menemaninya. Biar aku yang bayar. Pokoknya aku tidak mau dia ikut tinggal bersama kita di apartemen,” tolak Adam lagi.


Emilia melepas genggaman tangannya dari Adam lalu duduk menghadap ke depan dengan melipat tangannya di dada.


“Baiklah, tidak masalah. Kalau dia tidak boleh tinggal disana, aku juga tidak mau tinggal disana. Biar aku saja yang ikut tinggal di tempatnya. Dengan begitu aku bisa menemaninya dan calon keponakanku,” kata Emilia yang membuat Adam kebingungan.


“Emilia sayang, ayolah jangan begini. Jangan kekanakan begini,” bujuk Adam dengan sabar.


“Kekanakan? Ini bukan kekanakan. Ini pengambilan keputusan,” sanggah Emilia.


“Tapi dia sudah mengkhianati kita berdua. Apa kau lupa? Bahkan bekas tembakan yang kau terima saja belum sembuh total.”


“Yang menculikku kan Darius bukan Emelda. Walau bagaimanapun dia saudara kandungku. Aku juga harus selalu menjaga amanah almarhum ibuku yang meminta kami untuk saling menjaga. Paling tidak ijinkanlah dia tinggal bersama sampai anaknya lahir. Setelah itu dia dan anaknya akan tinggal bersama di tempat lain.”


Adam terdiam sejenak. Ia menimbang kata-kata Emilia barusan. Permintaan ini sungguh berat dan membuatnya pusing.


Mengapa tidak meminta sesuatu yang lebih simpel saja, sih? Seperti rumah, mobil, berlian. Aku rasa itu lebih mudah didapat daripada permintaan yang satu ini. Huft, belum apa-apa feeling ku sudah tidak enak saja. Gerutu Adam dalam hati.


Mau tak mau Adam pun pasrah dan menyetujui permintaan Emilia.


“Baiklah. Demi kau, sekali lagi ku ulang, demi kau, aku mau mengijinkannya tinggal di apartemen,” kata Adam dengan penuh penekanan.


Barulah terlihat senyum merekah di bibir Emilia. Sesayang itu Adam padanya sampai rela menuruti permintaannya yang berat itu.


“Terimakasih, Adam. Kau yang terbaik,” ucap Emilia dengan tulus.


“Terimakasih saja, nih?” tanya Adam yang mulai ingin menjahili Emilia.


“Hmmmm kau maunya apa? Aku masakin steak mau?”


Adam menggeleng.


“Apa harus bayar biaya penginapan apartemen?”


Adam kembali menggeleng.


“Lalu maunya apa?”


“Aku tidak semiskin itu ya sampai harus meminta biaya sewa apartemen dari kalian,” jawab Adam sedikit ketus. Bisa-bisanya Emilia berpikir kesana. Dia tidak tau saja Adam menginginkan yang lain.


Adam tidak menjawab dengan mulutnya. Ia menunjuk pipinya dengan jari telunjuknya. Hal itu membuat Emilia membelalakkan matanya. Ia mengerti apa yang Adam inginkan.


“Tidak, tidak. Aku tidak mau. Kau ini, mesum sekali. Bisa tidak kalau tidak memanfaatkan keadaan?”


“Hei, cuma di pipi.”


“Tetap saja aku tidak mau.”


“Ya sudah, kali ini jangan bujuk aku lagi untuk mengijinkan dia tinggal bersama. Kalau kau mau pergi juga, silahkan saja. Aku tidak akan pernah mau bertemu denganmu lagi,” kata Adam dengan nada mengancam.


Emilia jadi panik. Padahal Adam hanya berakting saja mengancamnya. Adam sendiri pun tidak mau kehilangan Emilia lagi. Emilia menggigit bibirnya bawahnya. Ia tampak berpikir keras.


“Huuuhhhh.....” Emilia menghembuskan nafas dengan kasar.


Ia akhirnya menyetujui permintaan Adam. Ia pelan-pelan mendekatkan bibirnya ke pipi Adam. Adam terasa sangat tak sabar menunggu bibir itu mendarat ke pipinya.


Hahhh, lama sekali.


Dengan cepat ia memalingkan wajahnya ke arah Emilia lalu mengecup bibirnya sekilas.


Cup!


Emilia mematung sejenak mendapat serangan mendadak dari Adam. Beberapa detik kemudian ia tersadar dan menarik daun telinga Adam dengan sangat keras.


“Dasar anak nakaaalll! Kau nakal sekali, ya.”


“Aduh...kupingku...sakit Emilia, lepaskan! Aku bukan anak kecil kau jewer begini.”


“Kau sudah berani menyentuh bibirku, jadi ini hukumanmu. Selama ini kau yang sering memberiku hukuman kan? Nah, sekarang gantian,” kata Emilia yang masih menarik telinga Adam.


“Iya, iya, ampun aku minta maaf. Kau sih lama sekali, cuma cium pipi saja padahal.”


“Oh masih berani menyalahkanku, ya?”


“Iya, iya, aku salah, aku minta maaf. Tolong lepaskan kupingku nanti panjang sebelah.”


Akhirnya Emilia melepaskan telinga Adam yang sudah memerah. Kemudian ia menggosok bibirnya yang tadi dicium Adam dengan punggung tangannya.


“Kau ini, galak sekali. Aku tidak membayangkan kalau kita punya anak nanti. Kupingnya pasti lebih panjang dari teman-temannya karena kau menjewernya,” gerutu Adam sambil menggosok telinganya yang sudah merah.


“Menikah saja belum, sudah memikirkan anak. Sudahlah, ayo pulang sekarang. Hari semakin gelap," kata Emilia.


Adam tak menjawab lagi. Ia kembali menghidupkan mesin mobil dan menuju ke apartemennya.


***


Hai 🤗


Setelah baca jangan lupa like, comment, vote dan jadikan favorit ya 😊 kasih bunga juga boleh 🤭


Happy reading 🤗