
Hari itu Adam rasanya tidak bersemangat untuk datang ke kantornya. Setelah kejadian saat sarapan tadi, moodnya jadi buruk. Jika ada karyawannya yang melakukan kesalahan sedikit saja, ia tidak segan-segan langsung memarahinya. Semua serba tidak kena di hati.
Saat ini Adam sedang duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya sambil bersandar dan memijat keningnya yang terasa pusing. Tak lama datanglah Ian ingin memberi berkas untuk ditandatangani Adam.
“Tuan, ini ada beberapa berkas yang harus anda tandatangani,” kata Ian.
“Letakkan saja di atas meja. Aku sedang tidak mau mengecek apapun. Kepalaku pusing sekali rasanya,” sahut Adam yang masih dalam posisinya tadi.
“Baik, Tuan.”
Ian pun meletakkan berkas di atas meja dan menghampiri Adam.
“Maaf, Tuan. Apa Tuan mau saya panggilkan dokter?” tanya Ian.
“Dokter tidak bisa menyembuhkanku. Tapi kalau Emelda angkat kaki dari apartemenku baru aku bisa sembuh,” jawab Adam yang kini sudah membetulkan posisi duduknya.
Lalu Adam menunjuk sofa di seberangnya agar Ian duduk disana.
“Apa Tuan butuh saya melakukan sesuatu? Seperti mencari tempat tinggal untuk Nona Emelda misalnya?” tanya Ian lagi sembari duduk berhadapan dengan Adam.
“Emilia tidak mau kalau Emelda tinggal sendiri dalam kondisi hamil besar. Ia khawatir dengan kandungannya,” jawab Adam.
“Kenapa tidak sewa orang saja untuk menjaga Nona Emelda?” tanya Ian.
“Itulah yang sudah aku katakan pada Emilia. Tapi dia bilang mau menjaga saudara kembarnya itu sendiri. Entah terbuat dari apa hatinya. Kalau aku jadi Emilia, aku tidak peduli dia saudara kandungku atau bukan, jika dia sudah berkhianat padaku maka sudah ku tendang dia jauh-jauh,” keluh Adam.
Ian hanya dapat terkekeh dalam hati mendengar curhatan Adam.
“Saya juga berpikir begitu, Tuan. Saran saya Tuan harus segera meresmikan hubungan Tuan dan Nona Emilia. Setidaknya itu bisa membuktikan keseriusan Tuan pada Nona Emilia,” saran Ian.
“Meresmikan hubungan? Menikah maksudmu?”
“Lebih bagus sih langsung menikah. Paling tidak tunangan pun tidak masalah. Yang penting ada ikatan yang jelas, Tuan.”
“Ah, tidak! Aku mau langsung menikah saja agar aku bisa benar-benar mengikatnya. Apalagi makin hari Emilia makin menggemaskan saja. Aku tidak sabar ingin memilikinya seutuhnya,” kata Adam sambil senyum-senyum sendiri. Ia teringat saat dimana Emilia mencium pipinya dan mengedipkan matanya padanya. Itu membuat moodnya pulih seketika.
Ian hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku bosnya. Tadi wajahnya masam dan tidak semangat untuk bekerja, sekarang malah senyum-senyum sendiri saat meningat Emilia.
Apa begitu rasanya jatuh cinta? Sebentar marah-marah, sebentar senyum-senyum sendiri seperti orang tidak waras. Tuan, anda terlihat sangat konyol saat ini. Hahaha. Besar sekali pengaruh Nona Emilia pada anda hingga bisa merubah mood Tuan dalam sekejap. Umpat Ian dalam hati.
"Jadi kapan Tuan berencana akan melamar Nona Emilia?" tanya Ian.
"Secepatnya, kalau perlu malam ini juga aku akan mengajaknya makan malam di luar dan melamarnya. Tentunya aku tidak mau sampai Emelda mengganggu acaraku," jawab Adam dengan semangat.
"Apa perlu saya bantu booking restorannya Tuan?" tanya Ian lagi.
"Tentu saja. Siapkan semua malam ini," titah Adam.
"Baik, Tuan. Semoga rencana Tuan berjalan lancar," ucap Ian.
"Terimakasih. Kau memang asisten terbaikku."