My Name Is Emilia

My Name Is Emilia
41. Rahasia yang terkuak



Adam dan Emilia pun sampai di parkiran apartemen Darius, disusul oleh Ian di belakangnya. Setelah turun dari mobil, mereka bertiga bersama-sama menaiki lift di apartemen itu.


Di dalam lift, Emilia melirik sekilas ke arah Adam yang berdiri tepat di sampingnya. Dari tadi Adam tak sedikitpun melirik ke arahnya. Ia yakin yang ada di kepala Adam saat ini hanyalah Emelda seorang. Ekspresi wajah Adam sulit diartikan. Marah dan kecewa bercampur jadi satu. Sementara Emilia sendiri terlukis kesedihan dan kekhawatiran di wajahnya.


Belum bertemu Emelda saja Adam sudah mengabaikannya seperti ini. Bagaimana jika nanti mereka sudah saling bertemu? Akankah dirinya tersingkir? Tiba-tiba Emilia memegang liontin di kalungnya. Adam pernah bilang kalau itu mewakili hatinya. Jadi Emilia memegang benda itu dengan erat seperti mengisyaratkan kalau ia ingin terus bersama Adam, dan tidak ingin pisah dengannya.


Tring! Pintu lift terbuka. Adam lebih dulu keluar dari lift disusul Emilia dan Ian di belakangnya. Saat ini sampailah mereka tepat di depan pintu apartemen Darius.


Jantung mereka bertiga sama-sama berdegup kencang saat itu. Rasanya seperti akan menangkap penjahat di depan mereka saja. Karena sebentar lagi segala rahasia akan terkuak dan mereka akan mendapatkan penjelasan  tentang apa yang terjadi sebenarnya.


“Adam,” panggil Emilia pelan.


Adam menoleh ke arah Emilia.


“Aku mohon apapun yang nanti kau lihat, kau harus tenang dan gunakan akal sehatmu. Jangan bertindak gegabah seperti tadi, Adam.”


Emilia mencoba menenangkan Adam. Dia tidak mau Adam bertindak ceroboh seperti tadi di rumah sakit, datang-datang langsung memukuli Ian.


“Aku tidak bisa janji soal itu. Itu tergantung dengan apa yang akan aku lihat nanti,” jawab Adam dengan tegas.


Emilia tak lagi bersuara. Ia pasrah saja dengan apapun keputusan Adam nanti. Semoga tidak akan ada yang terluka nanti, harapnya.


Adam pun memencet bel pintu apartemen Darius. Tiiiittt. Tiitttt. Tiiittttt. Dan sekarang mereka menunggu pintu dibuka dari dalam dengan degupan jantung yang makin cepat memompa. Suasana mendadak tegang seketika.


“Siapa yang datang?” tanya Darius yang sedang membuatkan teh hangat untuk Emelda.


“Mungkin itu pengantar pizza. Tadi kan kau pesan pizza,” jawab Emelda yang sedang duduk di meja makan sambil mengunyah buah anggur.


“Sudahlah coba kau lihat saja dulu sana! Kalau iya, baguslah, kita bisa cepat makan pizza nya. Lagipula aku sudah lapar lagi,” kata Emelda sambil mengusap perut buncitnya.


“Padahal kau sedang makan buah, tapi masih saja bilang lapar,” kata Darius sambil menggelengkan kepalanya. Emelda hanya menaikkan bahunya sekilas. Sejak hamil memang dia sering merasa lapar meskipun sudah makan.


Darius pun meletakkan secangkir teh di depan Emelda. “Kau tunggu disini, aku ke depan dulu untuk mengambil pizza nya,” kata Darius yang diangguki oleh Emelda.


Darius pun melangkah ke pintu depan. Ia sama sekali tidak pernah menyangka yang datang ke apartemennya saat itu adalah Adam dan yang lainnya. Dipikirnya yang datang itu memang pengantar pizza, jadi ia tidak mengecek dulu siapa yang datang ke apartemennya.


Ceklek. Darius membuka pintu dari dalam. Saat pintu telah terbuka, bukan main terkejutnya dia saat mendapati Adam tengah berdiri di depannya. Tidak hanya Adam, Emilia dan Ian juga berada di belakangnya.


Adam menatap Darius dengan tatapan penuh kebencian. Tersirat juga kemarahan dalam tatapannya. Sementara Darius terlihat pucat karena tak menyangka Adam akan datang kesana mendadak. Biasanya jika hendak berkunjung, Adam pasti akan menghubunginya terlebih dahulu. Darius dapat menangkap dengan jelas ada kemarahan dalam tatapan Adam. Mereka saling terdiam sejenak. Tidak ada yang mulai membuka pembicaraan.


Banyak pertanyaan muncul di benak Darius. Apa yang membuat Adam datang ke apartemennya? Apakah Adam sudah tau tentang keberadaan Emelda disana? Apa yang akan dia jelaskan kepada Adam? Apa Adam bisa menerima penjelasannya nanti? Yang jelas sekarang dia sudah tidak bisa mengelak lagi. Sudah tidak sempat baginya menyembunyikan Emelda sekarang.


Saat mereka masih saling pandang tanpa bicara satu sama lain, tiba-tiba muncul sosok yang paling ditunggu saat ini dari belakang. Sosok yang selama ini diketahui sudah meninggal ternyata masih hidup.


“Darius, kenapa kau lama sekali? Aku sudah tidak sabar mau makan.........”


Praaanngggg!


Cangkir berisi teh di tangan Emelda jatuh ke lantai dan pecah begitu saja. Ia sangat terkejut melihat Adam di depan matanya.


“A-Adam?” ucap Emelda terbata.