My Name Is Emilia

My Name Is Emilia
53. Tidak Ada Cara Lain



“Emilia, aku pulang duluan, ya. Maaf tidak bisa pulang bersama malam ini,” ucap Serra pada Emilia. Serra sudah dijemput kekasihnya di depan restoran. Mereka ada urusan lain. Karena itu Serra tidak bisa pulang bersama Emilia.


“Tidak masalah, Kak. Kakak hati-hati ya di jalan,” sahut Emilia.


“Kau juga hati-hati. Jangan keluyuran lagi, sudah malam. Besok masih harus kerja lagi,” kata Serra menasehati.


“Baiklah. Aku akan langsung pulang.”


“Oke. Bye Emilia.”


“Bye Kak Serra.”


Emilia melambaikan tangan pada Serra yang pergi dengan kekasihnya dengan menggunakan sepeda motor. Setelah itu barulah ia membuka handphone-nya untuk memesan ojek online. Tring! Orderan diterima. Sebentar lagi ojek online akan menjemputnya.


Emilia menunggu di depan restoran sendirian. Ia melihat ke kiri dan kanan suasana terasa sangat sepi. Pekerja yang lain ternyata sudah pada pulang semua. Tinggal dirinya saja yang tersisa disana. Saat sedang menunggu, yang datang bukanlah ojek online melainkan sebuah mobil berwarna hitam yang berhenti tepat di hadapannya. Emilia sampai harus menghalangi wajahnya dengan tangan saat merasa silau terkena sinar lampu depan mobil.


Tampak seseorang turun dari mobil tanpa mematikan mesin mobilnya. Emilia menggeser posisinya agar terhindar dari sinar lampu mobil yang menyilaukan matanya. Barulah ia dapat melihat bahwa yang turun dari mobil itu adalah Darius.


“Emilia, maaf mengganggumu. Ada yang mau aku bicarakan padamu,” kata Darius yang kini berada di dekat Emilia.


“Bicara denganku tentang apa? Apa ini ada hubungannya dengan Emelda?” tanya Emilia mencoba menerka-nerka.


“Bukan, ini bukan tentang Emelda.”


“Lalu tentang apa? Apakah Emelda baik-baik saja? Bagaimana kondisi kehamilannya?” Emilia malah bertanya soal Emelda. Walau bagaimanapun juga dia adalah saudara kembarnya.


“Dia baik-baik saja, begitu pula kandungannya. Kau tidak usah khawatir tentang dia. Aku akan menjaganya dengan baik,” jawab Darius.


“Syukurlah. Lalu ada apa kau menemuiku malam-malam begini?” tanya Emilia penasaran.


“Aku mau bicara soal Adam. Dia menarik semua sahamnya dari perusahaanku. Dia juga membatalkan kerjasama antara kami. Perusahaanku bisa bangkrut karena ulahnya. Jadi aku mohon padamu, tolong bantu aku untuk bicara pada Adam agar mau mengembalikan semuanya seperti semula,” kata Darius dengan wajah memelas.


“Aku minta maaf. Untuk yang satu ini aku tidak bisa bantu,” ucap Emilia pelan.


“Kenapa? Kau tidak mau membantu suami kakakmu sendiri? Bisa dibilang aku ini iparmu. Kalau aku susah, Emelda juga akan susah nantinya. Apa kau tega membiarkan Emelda yang tengah hamil menderita karena aku akan bangkrut?” tanya Darius dengan nada yang agak tinggi.


“Bukan. Bukannya aku tidak mau bantu atau tega melihat kalian kesusahan. Tapi saat ini hubunganku dengan Adam sedang tidak baik. Sejak kejadian di apartemenmu, Adam juga tidak mau lagi menemuiku. Dia tidak mau punya hubungan denganku lagi.”


“Tidak mungkin. Aku yakin dia mencintaimu, Emilia. Aku bisa lihat kedekatan kalian. Tolonglah, Emilia. Kau tinggal bujuk Adam untuk mengembalikan semuanya. Hanya itu. Aku yakin dia akan mendengarkanmu.”


“Aku benar-benar minta maaf. Tapi kami memang tidak ada hubungan apa-apa lagi. Aku tidak mungkin bisa membujuknya. Maaf. Kau cari cara lain saja.”


Darius sebenarnya sangat kecewa dengan penolakan Emilia. Tapi ia tak mau menampakkannya. Kalau sudah begini, ia akan melakukan rencananya sendiri.


“Baiklah. Kalau memang kau tidak mau membantuku. Aku akan pakai cara lain," kata Darius yang tampak pasrah.


Setelah itu Emilia merasa canggung berada di dekat Darius. Dia pun pamit meninggalkan Darius. Darius masih melihat Emilia yang berjalan memunggunginya.


Maafkan aku, Emilia. Tidak ada cara lain lagi. Jangan salahkan aku terpaksa melakukan ini padamu.


Emilia terus berjalan tanpa mempedulikan Darius. Ia melihat handphone-nya, ojek online sudah dekat mengarah kepadanya. Ia pun  menyimpan handphone itu ke dalam tas selempangnya. Tiba-tiba dari belakang ada yang berjalan mendekatinya. Belum sempat ia berbalik ke belakang, Darius sudah membungkam mulutnya dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius.


“Hmmmmpppptttt....hmmmmpppptttt...”


Emilia coba memukul-mukul tangan Darius. Tapi badannya terasa melemah begitu saja. Tak lama ia pun kehilangan kesadaran dan jatuh di pelukan Darius. Darius tak mau buang-buang waktu. Ia segera menggendong Emilia masuk ke dalam mobilnya. Ia sengaja tak mematikan mesin mobil agar mempermudah aksinya. Suasana di tempat itu kebetulan sedang sepi. Sangat memudahkan Darius untuk menculik Emilia.


Emilia diletakkan di kursi belakang. Sementara dia sendiri duduk di kursi pengemudi. Awalnya ia ingin mengikat tangan dan kaki Emilia. Tapi ia pikir Emilia akan lambat sadar karena efek obat bius yang diberikannya cukup kuat. Ia pun segera menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu sebelum ada yang melihatnya. Sesekali ia melirik Emilia yang sedang tidak sadarkan diri dari kaca spion depan.


Aku yakin Adam masih mencintaimu, Emilia. Aku kenal betul siapa Adam. Dia tidak mungkin secepat itu melupakanmu. Kita lihat saja nanti. Apakah rencanaku ini akan berhasil atau tidak. Aku tidak ada cara lain lagi selain menculikmu dan menjadikanmu tawananku. Dengan begini Adam pasti mau menuruti permintaanku karena dia tak mau kau tersakiti.