My Name Is Emilia

My Name Is Emilia
29. Dunia Tak Selebar Daun Kelor



Jam menunjukkan pukul 7 malam. Terlihat seorang pria pulang ke apartemen dengan menenteng kantong berisi makanan dan buah-buahan. Saat ia membuka pintu apartemen nya, hanya keheningan yang ia dapatkan.


Pria itu berjalan menuju arah dapur. Meletakkan kantong yang ia bawa di atas meja. Ia membuka jas dan dasinya lalu meletakkan nya di salah satu kursi yang ada di meja makan. Kemudian menggulung lengan kemeja nya sampai sesiku.


Makanan yang dibawanya tadi ia pindahkan ke dalam sebuah mangkuk kaca berwarna putih. Ternyata itu adalah sop daging sapi yang masih hangat. Selanjutnya buah-buahan yang ia bawa dicucinya terlebih dahulu lalu susun di keranjang buah plastik dan ia letakkan di atas meja makan.


Setelah menutup sop nya, ia menyambar jas dan dasinya. Lalu ia pun beranjak dari dapur menuju ke kamarnya.


Ceklek. Pintu kamar dibuka. Didapatinya seorang wanita sedang duduk bersandar di sofa single dengan kaki yang berselunjur sambil menatap jendela kaca panjang yang terbuka. Wanita itu tampak melamun hingga tak sadar sang pria sudah masuk. Tangan nya yang satu mengelus-elus sebuah cincin berlian bermata biru yang dipakainya di jari manis sebelah kiri nya.


“Apa kau hanya akan menghabiskan waktu mu seperti ini?” tanya sang pria yang sudah berdiri tepat di samping dimana wanita itu duduk.


Wanita itu tersadar. Tapi ia tak bereaksi apa-apa. Ia tetap meneruskan aktivitas nya seperti tadi. Bahkan menoleh ke arah pria pun tidak.


“Aku membawakan sup daging untukmu. Makan lah dulu mumpung sup nya masih hangat.” Kata pria itu lagi.


“Nanti saja. Aku belum ingin makan.” Jawab wanita itu singkat tanpa menoleh ke arah pria.


“Jangan egois seperti itu, jangan hanya memikirkan dirimu sendiri. Ayo kita makan bersama.” Ajak pria itu lagi.


“Sudah ku bilang, aku belum ingin makan. Sebaiknya kau mandi saja dulu sana.” Tolak wanita itu lagi.


Sebelum masuk ke kamar mandi yang ada di kamar itu, ia menoleh lagi ke arah wanitanya untuk menanyakan sesuatu yang baru ia ingat.


“Ngomong-ngomong ada sesuatu yang mau aku tanya kan padamu. Apa kau mempunyai saudara kembar yang wajahnya mirip sepertimu?”


Pertanyaan itu berhasil menarik perhatian wanita berambut panjang itu. Ia menurunkan kaki nya ke lantai lalu berdiri menghadap pria itu.


“Apa maksudmu? Jangan bilang kau pernah bertemu dengannya.” Kata wanita itu.


“Jadi benar kau punya saudara kembar?” tanya pria itu lagi.


Wanita itu tak langsung menjawab, tapi dari raut wajahnya bisa disimpulkan bahwa itu benar adanya. Pria itu tertawa melihat ekspresi dari wanita tersebut. Tak ia sangka wanita di depannya itu memiliki kembaran dan tanpa sengaja dia bertemu dengannya.


“Ternyata dunia tak selebar daun kelor. Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan saudara kembarmu.”


“Kau jangan bohong padaku, Darius! Emilia tidak mungkin ada di kota ini.”


“Lalu kau pikir bagaimana aku bisa tau kalau kau punya kembaran jika aku tidak bertemu dengan nya?”


Wanita itu pun terdiam. Dia sangat terkejut. Tidak mungkin saudara kembar nya berada di kota yang sama dengan nya. Apa dia sudah pindah ke kota ini? Lalu bagaimana dengan ibunya? Apakah ibunya ikut pindah juga bersama nya?