My Name Is Emilia

My Name Is Emilia
67. Lamaran di Mobil



“Emilia, maukah kau menikah denganku?”


“Apa?”


Aku tidak salah dengar kan? Apa dia sedang melamarku saat ini?


“Emilia, apakah kau mau menikah denganku? Setelah mengenalmu beberapa bulan ini, aku sudah sangat yakin bahwa kau adalah wanita yang tepat untuk ku jadikan istri. Dan aku berharap kau juga berpikir sama denganku. Jadi, maukah kau menikah denganku?” ulang Adam lagi. Matanya sudah penuh pengharapan menunggu Emilia mengatakan “iya".


“Apa kau sudah sangat yakin dengan keputusanmu? Pernikahan bukanlah hal yang bisa dipermainkan, Adam. Kalau boleh jujur, aku sangat senang mendengar kau mau menjadikanku sebagai istrimu, tapi... aku mau kau sudah yakin dengan keputusanmu ini. Menikah bukanlah perkara sehari dua hari, tapi seumur hidup,” jawab Emilia yang belum membuat Adam puas.


“Aku tau lamaranku yang terkesan mendadak ini pasti membuatmu ragu. Percayalah, sebenarnya aku sudah mempersiapkan lamaran untukmu malam ini, untuk itu aku memintamu bersiap-siap agar kita bisa makan di luar. Tapi sayangnya, rencanaku tidak berjalan baik karena kita harus ke rumah sakit. Aku sudah memikirkan ini matang-matang, Emilia. Aku sangat yakin dengan keputusanku ini. Bahkan aku tidak pernah seyakin ini sebelumnya,” kata Adam berusaha menjelaskan.


“Emilia, aku sangat mencintaimu. Aku harap kau mau menjadi satu-satunya pendamping hidupku yang akan terus bersamaku sampai akhir hidupku. Jadi, aku ulang lagi pertanyaanku. Maukah kau menikah denganku?” tanya Adam sekali lagi.


Emilia tampak berpikir sejenak. Sementara Adam menunggu dengan deg-degan. Ia harap Emilia bisa yakin bahwa ia serius melamar Emilia. Tapi sayangnya ia malah melihat Emilia menggelengkan kepalanya.


“Maaf, Adam. Aku tidak bisa,” ucap Emilia dengan pelan dan wajah tertunduk.


“Ta-tapi kenapa?” tanya Adam dengan putus asa. Jawaban Emilia diluar perkiraannya.


“Aku tidak bisa menolakmu. Aku....aku bersedia menikah denganmu,” jawab Emilia dengan senyum manisnya sambil menatap Adam.


Hah! Adam menghela nafas lega mendengar jawaban Emilia. Ia segera menarik Emilia masuk ke dalam pelukannya. Sesekali ia mencium puncak kepala Emilia.


“Terimakasih, Sayang. Terimakasih. Aku sangat bahagia kau mau menerimaku. Saat ini aku merasa aku adalah pria yang paling bahagia di muka bumi ini,” kata Adam sambil terkekeh pelan.


“Aku juga merasa hal yang sama. Aku merasa wanita paling bahagia sekarang. Aku juga merasa sangat beruntung karena kau memintaku menjadi istrimu. Ini aku anggap sebagai bukti keseriusanmu dalam hubungan kita,” kata Emilia yang tak henti tersenyum.


Ian, ternyata kau benar. Baiklah, aku akan memberikan bonus besar untukmu karena saranmu berhasil. Batin Adam.


Adam melepaskan pelukannya lalu mencium kening Emilia sebentar. Ia melihat pipi Emilia sudah seperti tomat saja merahnya. Ia tidak sadar, wajahnya juga sudah ikut memerah.


Kemudian Adam mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Ia mengambil kalung yang dulu ia berikan kepada Emilia tapi dikembalikan saat Emilia pergi darinya dulu. Ia pun segera memasangkan kembali kalung itu di leher Emilia.


“Kali ini, aku harap kau tidak melepasnya lagi. Tolong jangan lepaskan kalung ini dalam keadaan apapun,” pinta Adam.


Jawaban Emilia berhasil membuat Adam tersindir. Ia merasa sangat bersalah sudah melakukan hal bodoh itu dulu.


“Aku janji. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Untuk itu aku ingin kita segera menikah. Jadi, tidak ada alasan untuk kita berpisah lagi.”


Emilia mengangguki perkataan Adam.


“Kalau begitu aku akan segera mengajakmu bertemu ibuku. Kau harus kenalan dulu sama ibuku. Sekalian kita bicarakan hubungan kita pada ibu,” kata Adam.


“Hmmmm apa tidak terlalu cepat?” tanya Emilia.


“Aku rasa tidak. Lebih cepat lebih baik.”


“Bagaimana kalau kita menikahnya setelah Emelda melahirkan saja?”


Adam mengerutkan keningnya. Ia mulai tidak suka saat Emilia mendahulukan kepentingan saudara kembarnya itu.


“Kenapa harus menunggunya? Kenapa kau selalu memikirkan dirinya?” tanya Adam yang mulai gusar.


“Bukan begitu. Aku justru memikirkan dirimu. Aku mau saat kita sudah menikah nanti, aku hanya fokus melayanimu dan mengurusi kebutuhanmu, jadi kita tidak terganggu lagi dengan urusan Emelda. Setelah lahiran dia bisa menentukan sendiri mau tinggal dimana. Jadi kita sudah fokus pada kehidupan masing-masing. Kalau sekarang, kau lihat sendiri bagaimana tadi. Makan malam kita jadi batal karena membawanya ke rumah sakit. Aku tidak mau seperti ini lagi nanti. Setelah menikah, aku akan fokus pada dirimu saja.”


Emilia menjelaskan dengan sangat hati-hati agar Tuan besar di depannya ini tidak salah sangka.


Benar juga. Kalau urusan Emelda sudah selesai, tidak ada lagi yang menggangguku dan Emilia. Jadi Emilia bisa lebih fokus melayaniku saja. Eh sebentar, melayani? Melayani seperti apa maksudnya? Hahaha. Emilia, kau membuat otakku travelling saja.


“Bagaimana? Kenapa kau malah diam saja?” tanya Emilia yang melihat perubahan raut wajah Adam.


Tadi cemberut, kenapa sekarang senyum-senyum sendiri? Tanya Emilia dalam hati.


“Baiklah. Sebenarnya aku agak berat menyetujuinya. Tapi aku tidak ada pilihan. Kita menikah setelah dia melahirkan,” jawab Adam.


Emilia mengangguk lalu kembali masuk ke dalam pelukan Adam. Tidak masalah jika Adam melamarnya di dalam mobil seperti ini. Yang penting Adam sudah menunjukkan bahwa Adam serius mencintainya.