My Name Is Emilia

My Name Is Emilia
74. Menunggunya Pulang



Malam itu setelah selesai bekerja di kantor, Adam tidak pulang ke apartemen. Anita meneleponnya dan memintanya pulang ke rumah karena ingin membicarakan sesuatu yang penting.


Setelah makan malam selesai, Anita menyusul Adam yang tengah berada di ruang kerja di rumahnya bersama Ian.


“Boleh ibu masuk?” tanya Anita dari depan pintu.


“Tentu, Bu. Masuklah. Pekerjaanku sudah selesai. Ian, kau boleh pulang. Besok pagi jemput aku disini,” kata Adam.


“Baik, Tuan.”


“Jangan pulang dulu. Kau disini saja. Ibu mau bicara pada kalian berdua,” kata Anita yang sudah duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


Adam dan Ian saling pandang, lalu Ian mengangkat bahunya seolah mengatakan kalau ia tidak tau apa yang akan Anita bicarakan. Adam beranjak dari kursi kerjanya pindah ke sofa di sebelah Anita. Sementara Ian duduk di kursi di depan meja kerja Adam.


“Sepertinya yang mau ibu bicarakan ini hal penting. Apa ini menyangkut perusahaan?” tebak Adam.


“Apa hal penting di matamu hanya soal perusahaan saja? Kau tidak memikirkan kehidupan pribadimu?” kata Anita balik bertanya.


“Maksud ibu?” tanya Adam keheranan.


“Kau masih saja menyembunyikan kehidupan pribadimu dari ibu?”


Adam melihat lagi ke arah Ian. Ian kembali mengangkat bahunya.


“Ibu mau bicara tentang apa sebenarnya?” tanya Adam.


“Tentang Emilia.”


Deg. Adam dan Ian sama-sama terkejut mendengar jawaban Anita. Adam menoleh lagi ke arah Ian. Kali ini Ian menggelengkan kepalanya dengan maksud memberitahu bahwa ia tidak tau apa-apa soal itu.


“Kenapa wajah kalian begitu? Kaget karena ibu tau tentang calon menantu ibu? Ibu bahkan tau kalau mantan tunanganmu masih hidup dan sekarang kalian tinggal bersama di apartemenmu,” kata Anita lagi.


Kali ini Adam dan Ian benar-benar terkejut. Apa selama ini ibunya memata-matainya, pikir Adam.


“Darimana ibu tau?”


“Emilia. Dia yang memberitahu ibu. Ibu sudah dua kali bertemu dengannya, tapi dia tidak tau bahwa ibu adalah orang tuamu. Kau keterlaluan Adam, bisa-bisanya kau satu apartemen lagi dengan mantanmu. Dan hubunganmu dengan Emilia kau gantung begitu saja, tidak kau perjelas statusnya apa.”


Adam dan Ian terkejut lalu saling pandang. Mereka tak menyangka Anita akan tau semuanya.


“Tapi bu, yang minta Emelda tinggal disana itu Emilia sendiri. Dia kasian dengan Emelda yang sedang hamil besar dan tinggal sendiri. Soal status, aku sudah melamar Emilia meskipun tidak secara resmi. Tapi aku sudah mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya di mobil malam itu.”


“Apa? Di mobil? Kau melamarnya di mobil? Seorang Adam Smith pengusaha terkaya melamar kekasihnya di mobil? Huh, tidak modal!” ketus Anita.


Adam hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat dikatai ibunya seperti itu. Sementara Ian berusaha menahan tawanya agar tidak meledak.


“Ibu mau kau segera melamarnya secara resmi. Ibu ingin cepat-cepat menjadikannya sebagai menantu. Ibu khawatir kalau kalian tinggal bertiga bersama, nantinya bisa menimbulkan masalah,” kata Anita lagi.


“Bahkan sekarang pun masalah itu sudah timbul, Nyonya,” kata Ian membuka suara.


“Tuh kan. Lagian ada-ada saja pake tinggal bersama segala. Apa kau mau beristri dua?” tanya Anita.


“Tidak. Aku hanya ingin Emilia saja menjadi istriku, Bu. Sekarang saja aku sudah pusing menghadapi mereka berdua,” jawab Adam cepat.


“Makanya nikahi Emilia secepatnya,” usul Anita.


“Tapi Emilia tidak mau nikah sekarang, Bu. Dia mau menunggu Emelda selesai melahirkan. Ibu sih tidak tau bagaimana baiknya dia pada saudara kembarnya itu. Dia itu juga keras kepala sekali. Dari awal aku sudah tidak setuju Emelda tinggal bersama, tapi dia tetap memaksa, lalu sekarang dia sendiri yang cemburu melihatku dekat dengan Emelda. Aku tidak mengerti jalan pikirannya. Aku juga tidak tau lagi harus bagaimana,” keluh Adam.


“Tapi kalau menunggu Emelda melahirkan bisa-bisa kalian bertengkar setiap hari. Apalagi kalau Emelda ternyata masih ada rasa padamu. Tidak menutup kemungkinan kau akan kembali juga padanya,” kata Anita.


Huuuhhhhh! Adam bersandar pada sofa dan memijit keningnya yang terasa pusing lagi. Ia merasa permasalahan ini begitu rumit dan tidak ada titik temunya.


“Jadi menurut ibu, aku harus bagaimana?” tanya Adam dengan nada putus asa.


Anita tampak berpikir keras mencari solusi terbaik untuk anaknya itu.


“Sepertinya saya tau jalan keluar dari permasalahan ini,” kata Ian tiba-tiba.


Adam dan Anita serentak menoleh ke arah Ian. Mereka menunggu apa jalan keluar yang akan Ian berikan.


***


Sementara itu di apartemen Adam, dari tadi Emilia sudah gelisah mondar mandir di depan pintu apartemen menunggu Adam pulang. Tidak biasanya Adam pulang terlambat tanpa memberi kabar padanya. Mau menelepon Adam, tapi dia ragu karena tadi pagi mereka baru habis bertengkar.


Bukan hanya Emilia ternyata yang menunggu Adam. Emelda juga ikut menunggu kepulangan Adam ke apartemen.


Kalau Adam tidak pulang, sepertinya mereka sedang ada masalah. Apalagi tadi pagi Adam keluar dari apartemen ini sambil membanting pintu. Syukurlah kalau Adam tidak pulang. Dan semoga saja dia memang tidak pulang malam ini. Gumam Emelda dalam hati.


Lalu ia pun kembali masuk ke kamarnya karena ia yakin Adam tidak akan pulang ke apartemen.


Emilia masih setia menunggu Adam. Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Ia memutuskan untuk duduk di sofa depan, tapi matanya tak lepas memandang ke arah pintu masuk. Ia masih berharap Adam akan segera pulang.


Berdiri duduk, berdiri duduk, tak sadar sejam sudah berlalu. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam tapi yang ditunggu belum juga pulang.


Mungkin dia memang tidak pulang malam ini karena masih marah denganku. Batin Emilia.


Dengan putus asa Emilia masuk ke dalam kamarnya dan berbaring menyamping di tempat tidurnya. Ia meletakkan handphone-nya tepat di sebelahnya. Ia terus memandangi handphone itu berharap Adam akan menghubunginya lebih dulu.


Di tempat lain di kediaman keluarga Smith, ternyata Adam juga sama halnya dengan Emilia. Ia berbaring di tempat tidurnya sambil menatap handphone-nya yang ia letakkan di sebelahnya.


Emilia, apa kau tidak mencariku? Kenapa kau tidak bertanya kenapa aku tidak pulang ke apartemen malam ini? Aku ingin sekali mendengar suaramu. Tapi aku masih kesal juga padamu. Batin Adam.


Akhirnya Adam dan Emilia yang tidak kuat menahan rindu secara bersamaan mengambil handphone mereka masing-masing dan saling menelepon.


📞Nomor yang anda tuju sedang sibuk. Silahkan hubungi beberapa saat lagi.


Karena mereka menelepon pada waktu yang bersamaan maka jaringannya tidak terhubung dan membuat nomor mereka sama-sama sibuk.


“Dia menelepon siapa malam-malam begini?” tanya Adam dan Emilia bersamaan di tempat yang berbeda sambil memandangi handphone masing-masing.


“Hufffttt!” keluh mereka secara bersamaan.


“Aku merindukanmu, Adam,” kata Emilia di apartemen.


“Aku merindukanmu, Emilia,” kata Adam di rumahnya.


Lalu akhirnya mereka meletakkan handphone masing-masing di meja nakas. Mematikan lampu tidur, menarik selimut lalu mulai memejamkan mata untuk tidur.


***


Judulnya rindu tapi gengsi sih ini 🤭


Hari ini double up, jangan lupa like dan vote ya 🤗 Happy reading 😊