
Setelah mengantar Adam ke apartemen untuk beristirahat, Ian segera pergi ke rumah sakit untuk bertemu Darius. Hari ini Emelda dan anaknya sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, jadi Ian akan menjemput mereka sembari memberikan beberapa berkas penting kepada Darius terkait kontrak kerjasama yang dulu pernah dibatalkan oleh Adam.
Tring. Pintu lift rumah sakit terbuka. Ian yang baru saja keluar dari lift tidak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita yang terburu-buru akan masuk ke dalam lift. Karena wanita itu menubruk badan Ian yang kekar dengan sangat keras, ia malah kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh.
Untungnya dengan sigap Ian meraih pinggang ramping dari wanita yang mengenakan jas dokter berwarna putih. Wanita itu pun refleks memegang bahu Ian dengan sangat kuat agar tidak terjatuh.
Deg.
Jantung wanita itu berpacu sangat cepat saat melihat wajah pria di depannya. Pria itu adalah pria yang sama saat menolongnya di minimarket beberapa hari lalu. Pria yang sejak hari itu selalu memenuhi pikirannya dan selalu membuatnya ingin kembali bertemu.
Ian mengamati wajah wanita yang ada di pelukannya itu dengan seksama. Sepertinya wajah ini dan kejadian seperti ini pernah terjadi beberapa hari lalu. Tak lama ia pun ingat kalau wanita ini memang wanita yang pernah ia jumpai beberapa hari lalu di depan minimarket.
Apa dia selalu ceroboh seperti ini? Kenapa setiap bertemu denganku dia selalu terjatuh dan berada di pelukanku? Eh, tunggu. Kenapa jantungku malah berdebar-debar seperti ini? Gumam Ian dalam hati.
Ian yang lebih dulu tersadar segera membantu wanita itu agar bisa berdiri dengan benar. Ia juga menarik tangannya dari pinggang wanita itu agar tidak terjadi salah paham.
“Ma-maaf, Tuan. Saya buru-buru, jadi tidak sengaja menabrak anda, Tuan,” ucap wanita itu sambil menunduk.
“Apa kau memang selalu terburu-buru dan suka menabrak orang lain?” tanya Ian sambil menatap wajah wanita yang ada di depannya.
Wanita itu mendongak. “Apa Tuan mengingat saya?”
Ian menarik sudut bibirnya. “Aku mengingat kecerobohanmu, dokter Alyssa.”
“Ha? Darimana anda tau nama saya, Tuan?” tanya wanita itu dengan tersipu.
Ian melirik badge nama yang ada di jas wanita itu. Barulah wanita yang bernama Alyssa itu mengerti mengapa Ian bisa tau namanya.
“Lain kali berhati-hatilah kalau berjalan.”
Setelah mengatakan itu Ian langsung berlalu mengabaikan Alyssa yang memanggilnya.
Kenapa dia meninggalkanku begitu saja? Aku bahkan belum tau siapa namanya. Keluh Alyssa dalam hati.
Ian segera pergi ke kamar tempat Emelda dirawat. Ternyata Emelda dan bayinya sudah bersiap untuk segera pulang.
“Kau? Kenapa kesini? Kami baru saja akan pulang ke apartemen,” tanya Darius saat melihat Ian masuk.
“Tuan Adam meminta saya memberikan beberapa dokumen kerjasama. Jadi sekalian saja saya kesini menjemput kalian,” jawab Ian.
“Tidak perlu repot-repot. Kau pasti banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Apalagi sebentar lagi aku dengar Adam dan Emilia akan segera menikah. Kau pasti sibuk meng-handle perusahaan.”
“Tidak apa-apa. Saya senang melakukannya. Mari saya antar.”
Ian pun mengantarkan Darius sekeluarga pulang ke apartemennya yang dulu sempat disegel polisi karena kasus penculikan Emilia. Tapi Adam sudah mengurus semuanya. Darius dan keluarganya bisa tinggal lagi di apartemen itu.
***
Malamnya Adam berbaring dengan gelisah di atas tempat tidurnya. Tiba-tiba dia rindu akan Emilia. Belum ada satu hari, tapi rasanya sudah rindu saja. Apalagi kalau harus menunggu sampai seminggu.
Adam mengusap wajahnya dengan kasar lalu ia bangun sebentar mengambil handphone-nya di atas nakas, kemudian berbaring lagi di tempat tidur. Ia berusaha untuk melakukan panggilan video call pada Emilia. Panggilan pertama tidak ada jawaban, panggilan kedua dan seterusnya pun tetap tidak ada jawaban.
“Kemana dia? Kenapa tidak menjawab panggilanku?”
Tiba-tiba ada pesan masuk ke handphone-nya.
✉ Maaf, kata ibu kau tidak boleh melihat wajahku dulu.
Ternyata pesan itu dari Emilia. Adam terkejut saat membaca isi pesan itu. Adam mendengus lalu membalasnya.
✉ Masa video call saja tidak boleh? Kan tidak bertemu langsung.
✉ Memang tidak boleh. Bahkan telfonan juga tidak boleh. Maaf, ya 🙏😊
✉ Aturan darimana itu? Apa kau tidak tau aku sangat merindukanmu? Kita video call diam-diam saja, jangan sampai ibu tau.
✉ Mana bisa begitu. Itu sama saja melanggar aturan ibu. Kalau ketahuan, kita bisa menikah tahun depan loh. Apa kau mau?
✉ Kau mengancamku?
✉ Bukan, aku sedang mengingatkanmu. Sudah ya, aku ngantuk mau tidur. Besok ibu mau mengajakku ke salon untuk perawatan. Hihihi 🤭
✉ Hei, kau malah menggodaku!
✉ Dih, aku cuma bilang mau ke salon. Menggoda darimana? Sudahlah, aku tidur dulu. Kau juga cepat tidur, ya. Mimpikan aku 😘❤
✉ Iya, selamat tidur, Sayang. Mimpikan aku juga ya 😘❤
“Huhhhh, bisa-bisanya ibu juga melarang untuk video call. Padahal aku kan kangen ingin bertemu. Emilia, kau berhasil membuatku terus memikirkanmu.”
Adam melihat wallpaper handphone-nya, ada foto Emilia tengah berjualan roti disana. Adam tertawa kecil. Ia baru sadar kalau ia belum punya foto berdua dengan Emilia.
“Setelah ini, aku akan memasang foto pernikahan kita sebagai wallpaper handphone ku. Hahhh, tidak sabar sekali rasanya,” ucap Adam dengan senyum yang tak pudar di wajahnya.