
Selama kepergian Adam dan Emilia ke Italy untuk berbulan madu, Ian tampak sangat sibuk mengerjakan urusan perusahaan. Ia sendiri memang sengaja menyibukkan dirinya agar tak lagi mengingat tentang wanita yang tak bisa ia miliki, yaitu Alyssa.
Ian setiap hari selalu bekerja dari pagi hingga malam. Sesekali ia akan mengunjungi kediaman Adam untuk menjenguk Anita dan melaporkan hasil pekerjaannya pada Nyonya besarnya itu. Seperti sekarang, ia tengah berada di rumah Adam dan menunjukkan beberapa laporan terkait proyek baru yang akan segera dikerjakan.
Anita yang telah selesai membaca semua laporan hanya mengangguk. Ian memang selalu dapat diandalkan.
“Semuanya bagus. Saya harap proyek baru nanti dapat berjalan dengan lancar. Jadi, Adam pun bisa tenang berbulan madu disana. Biar cepat memberi saya cucu juga,” kata Anita lalu meneguk teh yang ada di depannya.
“Saya harap begitu, Nyonya. Saya akan urus semua urusan disini dengan baik,” sahut Ian dengan antusias.
“Oke, saya percaya padamu. Kalau begitu...”
Tok tok tok.
“Masuk.”
Kepala pelayan masuk ke dalam ruang kerja Adam tempat dimana Anita dan Ian tengah berdiskusi.
“Permisi, Nyonya. Makan malam sudah siap. Dokter Alyssa juga sudah datang barusan. Beliau ada di ruang tamu, Nyonya.”
Alyssa? Kenapa dia ada disini? Apa Nyonya Anita mau memeriksakan kesehatannya lagi? Batin Ian.
“Baiklah, Bi. Sebentar lagi kami akan turun kesana.”
“Baik, Nyonya. Permisi.”
Kepala pelayan itupun keluar untuk menjalankan perintah Anita.
“Maaf Nyonya, kalau begitu saya pamit dulu. Nanti jika ada perkembangan lain, saya akan memberitahu Nyonya,” ucap Ian yang buru-buru ingin pergi dari sana.
“Maaf Nyonya, sayangnya saya sudah ada janji makan malam dengan client menggantikan Tuan Adam,” tolak Ian secara halus.
Anita tampak kesal dan berdecak. “Ck, kau sudah seperti Adam saja. Kerja, kerja, kerja terus. Cancel saja. Ganti makan siang saja dengan client itu.”
“Sekali lagi saya minta maaf, Nyonya. Tapi makan malam kali ini sangat penting sekali. Lain kali saja ya, saya makan malam disini.” Ian masih berusaha mempertahankan diri agar tidak makan malam disana sebab ia tak mau bertemu Alyssa dulu.
“Baiklah, terserah kau saja.”
Mereka pun meninggalkan ruang kerja Adam bersama-sama. Saat melewati ruang tamu, Ian dapat melihat dengan jelas Alyssa yang berdiri dari duduknya dan memberikan senyuman terbaiknya pada Ian sehingga membuat hati pria itu bergetar.
Sayangnya Ian tidak membalas senyuman itu, ia tetap memasang wajah datarnya meskipun getaran di dada semakin terasa kencang.
“Tuan,” sapa Alyssa yang masih mencoba menarik perhatian dari Ian.
Ian membalas dengan sebuah anggukan tanpa suara lalu pergi berlalu begitu saja.
Kenapa dengan dia? Kenapa dia seperti menghindar dariku? Bahkan menjawab sapaanku pun tidak. Gumam Alyssa dalam hati.
Senyuman yang tadi merekah di wajahnya perlahan mulai memudar berganti raut kekecewaan. Sudah berhari-hari ia berharap dapat bertemu Ian lagi. Saat Anita memintanya makan malam bersama ia sangat gembira dan bersemangat menerima undangan itu, tapi kini harapannya untuk melihat Ian lebih lama telah gagal, karena pria itu memilih untuk pergi agar dapat menghindarinya.
“Dokter Alyssa,” panggil Anita yang melihat Alyssa terus memandangi pintu keluar.
“I-iya, Nyonya. Maaf saya tidak sadar anda sudah disini.”
“Tidak masalah. Ayo, kita ke ruang makan sekarang.”
“Baik, Nyonya.”