
Flashback beberapa bulan lalu.
Waktu itu Emelda sangat terkejut ketika dokter mengatakan bahwa dirinya hamil. Ternyata rasa tidak nyaman yang dirasakannya pada saat itu adalah karena dirinya sedang berbadan dua. Ia bingung harus bagaimana. Apakah dia harus menggugurkan kandungannya? Tapi dia tak tega melakukan itu.
Akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi Darius. Darius pun cukup terkejut mendengar kabar dari Emelda. Tapi dia juga senang karna itu tandanya ia tidak akan kehilangan Emelda. Setelah itu mereka memutuskan untuk bertemu di apartemen Darius untuk membicarakan masalah itu.
“Bagaimana kalau aku gugurkan saja kandunganku ini? Dengan begitu Adam tidak akan tau apa-apa tentang hubungan kita,” usul Emelda yang saat ini sudah duduk di ruang tamu di apartemen Darius.
“Apa kau sudah gila? Kau tega melakukan itu hanya demi Adam? Come on Emelda, aku tidak akan membiarkanmu melakukan itu. Bagaimanapun juga itu anakku!” bantah Darius. Ia tidak habis pikir Emelda punya pemikiran senekat itu.
“Jadi aku harus bagaimana? Adam akan tau ini bukan anaknya karna kami sama sekali tidak pernah tidur bersama,” tanya Emelda dengan panik.
“Kalau begitu kita ceritakan semuanya ke Adam dengan jujur. Ceritakan dari awal semuanya bahwa kau memang punya hubungan denganku sebelum dengan Adam.”
“Tidak. Aku tidak setuju. Aku sudah bertunangan dengannya. Dan aku ingin tetap bersamanya.”
“Tapi kau sedang mengandung anakku, Emelda.”
“Tapi aku tidak mau kehilangan, Adam. Aku mencintainya.”
“Cih, cinta katamu? Kau mencintainya atau hartanya?”
“Aku benar-benar mencintainya, Darius. Dan soal kehamilan ini, aku rasa sebaiknya aku gugurkan saja.”
“Tidak! Kau jangan gila, Emelda. Kalau kau berani menggugurkannya aku akan mengatakan semuanya pada Adam. Itu anakku! Kau jangan bertindak bodoh hanya karna tergila-gila dengan Adam.”
“Lalu aku harus bagaimana? Kau tau akan semarah apa Adam saat tau aku hamil anakmu? Kau tau dia tidak suka dikhianati kan?”
“Akan aku pikirkan nanti. Yang jelas, jangan sekali-kali kau menggugurkan bayi itu. Aku tidak akan segan untuk memberitahu Adam semuanya.”
Perdebatan di antara mereka tidak membuahkan hasil. Emelda masih bersikeras ingin menggugurkan kandungannya. Sementara Darius jelas tidak rela anaknya harus digugurkan begitu saja. Akhirnya Emelda pun memutuskan untuk kembali ke apartemennya.
Sejak hari itu Emelda mulai menjaga jarak dengan Adam. Dia takut Adam akan tau bahwa dirinya sedang hamil. Sebenarnya ia tidak ingin kehilangan Adam begitu saja. Adam adalah sosok pria yang sempurna di matanya. Wajah tampan, punya perusahaan dimana-mana, serta sangat setia dengan kekasihnya. Wanita mana yang tidak menggilainya. Sekarang saat dia sudah bertunangan dengan Adam, tidak mungkin dia melepaskannya begitu saja. Adam begitu berharga baginya.
Sampai suatu hari Adam menelepon Emelda untuk mengajaknya keluar makan siang. Waktu itu Emelda menolaknya. Ia beralasan kalau dirinya sedang sibuk dengan pesanan pakaian pelanggan butiknya. Setelah itu dia merasa sangat bingung harus bagaimana. Ia tau Adam akan terus memaksa untuk bertemu. Akhirnya ia memutuskan untuk menemui Darius lagi.
Di tengah perjalanan Emelda begitu kalut. Kenangan saat ia bersama Adam muncul di kepalanya. Ia teringat saat Adam mengajaknya makan malam lalu melamarnya, saat mereka bertunangan, dan kenangan indah lainnya. Tapi ia juga teringat akan perkataan dokter yang mengatakan bahwa dia sedang hamil. Hal itu membuatnya frustasi sampai tidak sadar ada mobil melintas di depannya.
Ciiitttttttttt braaakkkkkkk!
Tiba-tiba ia melihat sesosok yang ia kenal keluar dari mobil yang ditabraknya. Rupanya yang ia tabrak adalah Darius. Darius mengetuk pintu mobil dan Emelda langsung membukanya.
“Emelda? Kau?” tanya Darius terkejut. Ia juga tidak menyangka yang ditabraknya barusan adalah Emelda.
“Iya, ini aku,” jawab Emelda sambil memegang kepalanya yang pusing.
“Kau tidak apa-apa? Ayo ikut ke mobilku. Ada yang mau aku bicarakan padamu.”
Darius pun membantu Emelda keluar dari mobil dan masuk ke mobilnya. Darius terlihat baik-baik saja. Dia juga tidak tampak terluka sama sekali.
“Aku baru saja ingin bertemu denganmu. Aku sudah punya ide bagaimana caranya agar Adam tidak tau soal kehamilanmu,” kata Darius.
“Katakan bagaimana? Aku sudah kehabisan akal membohongi Adam terus agar tidak menemuiku,” kata Emelda.
“Kau harus menghilang dari kehidupannya.”
“Maksudmu?” tanya Emelda tidak mengerti.
“Sepertinya ini saat yang tepat. Kita palsukan kematianmu. Buat seolah-olah kau meninggal dalam kecelakaan. Lalu mayatmu wajahnya rusak karna kecelakaan sampai tak bisa dikenali. Setelah itu kau ikut tinggal bersamaku di apartemen. Kau bersembunyi disana. Setelah bisnisku disini selesai, aku janji akan membawamu keluar negeri. Kita tinggal bersama disana dengan anak kita. Kita mulai kehidupan baru kita disana.”
Emelda terkejut dengan ide yang Darius berikan. Apakah tidak ada cara lain untuk mengatasinya? Ia belum rela kehilangan Adam.
“Apa itu tidak berlebihan? Lalu bagaimana dengan Adam? Dia pasti shock mendengar aku tiba-tiba kecelakaan lalu meninggal?”
“Adam lagi, Adam lagi. Dia sudah dewasa. Kau tidak perlu memikirkannya. Dia akan baik-baik saja. Pikirkan dirimu dan anak kita. Kau mau Adam tau kau hamil anakku?”
Emelda bingung setengah mati. Di satu sisi ia tak mau pisah dari Adam. Tapi di sisi lain ia juga tak mau Adam tau tentang kehamilannya. Akhirnya mau tidak mau ia pun menyetujui ide Darius.
Tak mau buang-buang waktu, Darius dan Emelda langsung melakukan rencana mereka. Darius membayar mahal dokter gadungan untuk berakting di depan Adam. Hingga akhirnya kecelakaan Emelda diketahui oleh Adam dan ia langsung menyusul ke rumah sakit.
Saat dimana Adam sedang menangisi mayat yang ia pikir adalah Emelda, sebenarnya Emelda dan Darius ada disitu. Mereka melihat Adam yang sedang menangis memeluk mayat itu dari kejauhan. Emelda dan Darius juga ikut bersedih melihat Adam. Emelda sampai tak kuasa menahan airmatanya.
Maafkan aku, Adam. Maafkan aku membuatmu terluka. Tapi aku tidak ada pilihan lain. Aku juga tidak mau kita berpisah dengan cara seperti ini. Sungguh, aku tidak berniat menyakitimu seperti ini. Batin Emelda.
Maafkan aku, Adam. Aku tidak bermaksud merebut kebahagiaanmu. Ini demi kebaikanmu dan juga anak yang dikandung Emelda sekarang. Aku tidak mau kehilangan anakku. Aku juga tak ingin persahabatan kita hancur. Aku berharap kau akan baik-baik saja setelah ini. Semoga kau bertemu dengan wanita yang tepat untukmu. Wanita baik-baik yang akan membuatmu bahagia. Batin Darius.