My Name Is Emilia

My Name Is Emilia
111. Kabar Gembira



Acara resepsi pernikahan sudah selesai. Malamnya Ian dan Alyssa menginap di hotel tersebut. Begitu juga dengan Adam dan Emilia, serta keluarga mereka berdua.


Tamu yang datang pada hari pernikahan Ian dan Alyssa sangatlah banyak, bahkan melebihi tamu yang datang di hari pernikahan Adam dan Emilia. Karena itu acara berlangsung sampai malam.


Tak ada aktivitas yang menarik di kamar pengantin baru itu. Mereka sama-sama sudah lelah dan memutuskan untuk tidur lebih awal.


Yang justru terlihat masih terjaga sampai tengah malam adalah penghuni kamar Adam. Entah apa yang mereka lakukan sampai selarut itu pun, hanya mereka berdua yang tau.


***


Paginya Alyssa terbangun lebih dulu dan melihat suaminya masih tertidur lelap.


“Selamat pagi, Suamiku. Kau tampan sekali meskipun belum mandi.”


Diam-diam ia mencium kening suaminya lalu bangun dari tempat tidur untuk mandi.


Ketika mendengar pintu kamar mandi tertutup,  bibir Ian tampak tersenyum meskipun matanya masih terpejam. Ternyata dia sudah sadar saat Alyssa bangun tadi.


Selang beberapa menit kemudian Alyssa sudah mandi dan berpakaian rapi serta sedikit memakai make-up. Dilihatnya suaminya itu masih terbaring di atas tempat tidur.


Alyssa pun mendekat hendak membangunkan suaminya.


“Kak, bangun, Kak. Sudah jam 7 lewat.”


Ian bergeming pun tidak. Ia masih memejamkan mata.


“Kak, ayo bangun. Kita sarapan dulu.”


Alyssa lebih mendekat lagi. Ia mengguncang bahu Ian dengan pelan.


“Kak, bangun cepat, Kak. Tuan Adam mencarimu, katanya ada rapat penting,” kata Alyssa sambil terkekeh. Siapa tau Ian akan bangun saat mendengar nama Tuannya itu disebut, pikirnya.


Sayangnya Ian masih pada posisi yang sama. Tak bergerak sama sekali. Alyssa hendak mengguncang bahu Ian lagi, tapi ia terkejut saat Ian tiba-tiba menarik tangannya lalu membalikkan tubuhnya sehingga berada di bawah tubuh besar Ian.


“Ahhhhh......Kakak......”


Alyssa dengan sigap meletakkan kedua tangannya di dada Ian agar tidak tertindih. Sementara kedua tangan Ian berada tepat di sisi kanan dan kiri tubuhnya.


“Kakak mengagetkanku saja. Kapan kakak bangun?”


“Dari tadi saat kau bilang aku tampan meskipun belum mandi.”


“Jadi kakak mendengarnya?” tanya Alyssa yang diangguki oleh Ian.


“Ya sudah, kalau begitu kakak cepatlah mandi. Setelah itu kita sarapan bersama yang lain,” kata Alyssa lagi, tapi kali ini Ian malah menggeleng.


“Kenapa?” tanya Alyssa keheranan.


“Karena aku mau sarapan kamu saja,” jawab Ian yang terdengar ambigu di telinga Alyssa.


“Apa maksud.......hmmmmpppptttt....”


Belum sempat Alyssa selesai berbicara, Ian sudah lebih dulu membungkam dengan bibirnya.


Alyssa terkejut. Jantungnya seolah berhenti mendadak. Tak pernah terlintas di pikirannya kalau Ian akan melakukan itu lebih dulu.


“Kau siap?” tanya Ian dengan nafas yang memburu saat menarik kembali bibirnya.


Alyssa yang masih gugup itu berusaha mengangguk dengan cepat.


Ian menarik sudut bibirnya, membuat senyuman yang paling manis bagi Alyssa. Tanpa membuang waktu, ia kembali meraih bibir ranum wanita di depannya, bahkan ia sudah tak segan lagi melu*mat dengan sangat lembut sehingga Alyssa tak mampu untuk tidak membalasnya.


Pagi itu, adalah pagi terindah yang pernah mereka berdua rasakan selama hidupnya. Dimana mereka pertama kali menikmati indahnya dunia berdua dengan penuh cinta.


***


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Kedua orang tua Ian dan Alyssa serta Anita sudah berada di restoran hotel untuk sarapan bersama. Tapi anak-anak mereka malah belum terlihat batang hidungnya.


“Kenapa mereka belum turun juga? Kalau Ian dan Alyssa sih, maklum saja, masih pengantin baru. Kalau Adam dan Emilia, masa mau jadi pengantin baru lagi?” tanya Anita sambil melihat jam tangannya.


“Mungkin saja. Kalau begitu, kita sarapan saja duluan. Biar nanti mereka menyusul saja,” ucap Anita lalu diangguki oleh yang lain.


“Nah, itu dia Tuan Adam dan istrinya. Tapi istrinya kenapa terlihat pucat sekali?” kata Meta yang melihat Adam dan Emilia menuju ke meja mereka.


Adam dan Emilia ikut duduk di meja yang sama dengan orang tua mereka.


“Maaf, kami terlambat. Sebenarnya kami sudah bangun dari tadi. Tapi tiba-tiba Emilia merasa agak pusing dan mual. Aku suruh di kamar saja tapi dia memaksa mau ikut sarapan disini juga,” kata Adam menjelaskan.


“Pusing dan mual?” ulang Anita yang diangguki oleh Adam.


Kedua orang tua Alyssa saling pandang. Lalu ibu Alyssa kemudian bertanya, ”Apa Nona Emilia selalu mual di pagi hari? Kalau boleh tau, kapan terakhir Nona datang bulan?”


Emilia tampak berpikir sejenak. Ia sendiri lupa kapan terakhir datang bulan.


“Sepertinya terakhir kali datang bulan itu sebelum menikah dulu. Aku agak lupa,” jawab Emilia ragu-ragu.


Kedua orang tua Alyssa pun tersenyum bersamaan.


“Sebaiknya setelah ini Nona Emilia periksa ke dokter kandungan. Semoga setelah diperiksa, kita semua dapat kabar bahagianya,” kata ibu Alyssa lagi.


“Maksudnya menantu saya sedang mengandung?” tanya Anita.


“Dari gejala yang disebutkan tadi, sepertinya benar begitu. Untuk lebih jelas, sebaiknya setelah ini Nona Emilia diperiksakan ke dokter kandungan,” jawab Ayah Alyssa pula.


Adam langsung menatap istrinya dengan pandangan yang sulit diartikan. Rasa deg-degan dan haru bercampur jadi satu. Adam meraih tangan Emilia dan mengecupnya.


“Setelah ini kita langsung periksa ke dokter kandungan, ya,” kata Adam yang diangguki oleh Emilia.  


***


Setelah menyelesaikan sarapan, Adam langsung membawa istrinya ke dokter kandungan. Anita juga ikut serta menemani mereka.


Dokter pun melakukan pemeriksaan USG, lalu dokter kandungan itu pun tersenyum dan menjelaskan apa yang tertera di layar monitor.


“Selamat Tuan dan Nyonya, kalian akan segera menjadi ayah dan ibu. Nyonya Emilia tengah mengandung. Bahkan usia kehamilannya sudah masuk minggu ke delapan.”


Adam langsung menghampiri istrinya lalu mencium kening Emilia dengan cukup lama. Ia tak bisa melukiskan dengan kata-kata seberapa bahagianya ia saat itu. Emilia juga sangat bahagia hingga tak sadar meneteskan airmata. Anita pun ikut bahagia dan memeluk Emilia sebentar.


“Selamat, ya. Kalian akan menjadi orang tua sebentar lagi. Ibu ikut bahagia,” ucap Anita dengan mata yang berkaca-kaca.


“Terimakasih, Ibu. Ibu juga sebentar lagi akan punya cucu,” sahut Emilia dengan bahagia.


“Dokter, jadi apa bisa dilihat sekarang apa jenis kelamin anak kami?” tanya Adam kemudian.


“Sekarang belum bisa dilihat apa jenis kelaminnya. Biasanya baru terlihat di usia kandungan empat bulan. Tapi kemungkinan besar bayi Nyonya Emilia ini kembar. Untuk bisa lebih yakin, silahkan datang kembali untuk di USG bulan depan,” kata sang dokter yang membuat Adam dan Emilia terkejut bahagia.


“Sayang, bayi kita kembar. Keinginanku jadi kenyataan,” ucap Adam dengan wajah berbinar.


“Bagaimana kalau dua-duanya perempuan?” tanya Emilia.


“Aku tidak peduli apapun jenis kelaminnya. Yang penting ibu dan bayinya sehat selalu, Sayang.”


Emilia tersenyum. Ia lega mendengar jawaban suaminya.


“Terimakasih, Sayang,” ucap Emilia.


“Aku yang berterimakasih kau sudah mengandung anak-anak kita, Sayang. Aku akan menjaga kalian dengan sangat baik. Aku janji. Apapun yang kau inginkan, katakan saja, aku akan memberikannya,” kata Adam lalu mencium kening sang istri.


“Hmmm...Sayang, boleh aku minta sesuatu?” tanya Emilia tiba-tiba.


Adam mengangguk. “Anything for you and our babies.”


 


Bersambung...