My Name Is Emilia

My Name Is Emilia
97. Bunga Pengantin



Acara berlangsung dengan sangat baik sesuai dengan yang direncanakan. Kini tibalah saatnya acara puncak pernikahan, yaitu melempar bunga pengantin ke arah para tamu yang hadir. Dari atas pelamin, Emilia dan Adam sudah bersiap-siap menunggu aba-aba dari MC untuk melempar bunga ke arah para tamu yang sudah mengantri untuk memperebutkan bunga pengantin.


Tampak lebih dari sepuluh orang yang kebanyakannya adalah tamu wanita yang sudah menantikan bunga itu dengan tidak sabar. Diantara mereka ada Serra dan juga Sekretaris Clara.


“Emilia, lempar bunganya padaku, ya,” teriak Serra.


“Tuan Adam, bunganya untuk saya saja,” kata Sekretaris Clara pula.


Dari kursi barisan paling depan ada Ian yang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah para wanita itu. Menurutnya itu hanya sesuatu yang konyol.


Bisa-bisanya mereka percaya siapa yang dapat bunga itu akan menikah cepat setelah pengantin. Batin Ian.


“Kau tidak ikut disana?” tanya Anita yang baru saja duduk di sebelah Ian setelah menyapa para tamu.


Ian menggeleng. “Tidak penting, Nyonya.”


“Ih, kau ini. Siapa tau setelah dapat bunganya kau bisa cepat menyusul Adam. Kalau hal itu terjadi, saya akan memberimu rumah sebagai hadiah pernikahan,” kata Anita dengan semangat.


“Terimakasih atas niat baik, Nyonya. Tapi saya tetap tidak mau rebutan bunga seperti itu,” sahut Ian sambil menunjuk para wanita dengan dagunya.


“Hahhh, terserah kau sajalah.”


Kemudian terdengar suara MC mulai menghitung mundur. “Siap-siap ya semua. Kita hitung bersama.  3.....2.....1.....lempar......”


Dan haaaapppp!


Bunga itu mendarat dengan mulus di pangkuan seorang pria yang tengah asik memainkan handphone-nya.


“Selamaat! Ternyata yang berhasil mendapat bunganya adalah Tuan Ian, asisten Tuan Adam sendiri,” kata MC di atas panggung.


Para undangan yang datang pun bersorak bertepuk tangan melihat ke arah Ian. Sementara para wanita yang sudah berebut tadi terlihat kecewa. Ian sendiri cukup terkejut karena tak menyangka akan mendapatkan bunga itu tanpa perlu usaha apapun.


“Wahhh, ternyata kau yang dapat. Selamat ya, sebentar lagi kau akan menyusul Adam. Cepatlah cari pasangan kalau begitu,” ucap Anita dengan antusias.


Ternyata yang mendapat bunga itu adalah Ian. Adam sengaja mengarahkan bunga itu ke arahnya agar asistennya yang mendapat bunga tersebut.


“Apa-apaan ini? Kenapa aku yang dapat?” gerutu Ian sambil membolak balikan bunga di tangannya.


“Hei, bagaimana kau bisa mendapatkannya, Tuan? Padahal kan kau diam saja disini,” ucap Sekretaris Clara yang datang menghampirinya.


“Mana aku tau. Nih, ambil kalau kau mau,” kata Ian sambil menyodorkan bunga itu.


“Tidak, tidak. Kau yang dapat. Bunga itu untukmu saja,” ucap Sekretaris Clara lalu pergi meninggalkan Ian.


Datang lagi Serra dan Doni menghampiri Ian.


“Tuan, selamat, ya. Aku susah payah memperebutkannya, eh ternyata Tuan yang dapat,” ucap Serra dengan mengerucutkan bibirnya.


“Kalau kau mau ambil saja, aku tidak butuh ini,” jawab Ian sambil menyodorkan lagi bunga itu.


“Mana bisa begitu, Tuan. Itu milikmu sekarang. Saranku, segeralah mencari calon mempelai wanitanya Tuan. Disini ku lihat tamunya banyak yang cantik,” kata Serra sambil terkekeh lalu pergi bersama Doni dari hadapan Ian.


Ian merasa jadi pusat perhatian saat itu. Akhirnya ia pun memutuskan untuk pergi meletakkan bunga itu ke tempat lain.


“Tuan Ian,” panggil seseorang yang berada di pesta itu.


Ian menoleh ke sumber suara. Ternyata ada dokter Alyssa juga disana.


“Wah, selamat ya Tuan, anda berhasil mendapat bunganya,” ucap dokter Alyssa yang sudah berada dekat dengan Ian.


“Bunga ini nyasar sendiri di pangkuanku. Aku tidak memperebutkannya. Kalau kau mau, ambillah,” kata Ian yang lagi-lagi menyodorkan bunga yang didapatnya.


Kali ini bunga itu diterima dengan senang hati oleh dokter Alyssa.


“Tuan serius ini untuk saya?”


Ian mengangguk sebagai jawaban.


“Terimakasih, Tuan. Tapi kata orang, siapa yang mendapat bunga ini dia akan segera menyusul untuk menikah.”


“Baguslah, kalau begitu setelah ini kau yang akan segera menikah.”


“Apa Tuan tidak mau menikah sehingga memberi bunga ini pada saya?”


“Aku akan menikah kalau sudah waktunya, bukan karena bunga itu.”


“Tapi yang dapat bunga ini kan Tuan duluan tadi. Bisa jadi Tuan duluan yang menikah baru saya.”


“Bisa jadi juga kita menikah bersama.”


Blusshhhh.


Alyssa jadi tersipu mendengar ucapan Ian. Pipinya seketika merona merah. Ia berpikir apakah itu salah satu signal baik dari Ian padanya?


Sedangkan Ian sendiri berkata seperti itu maksudnya bisa jadi dia dan Alyssa bisa jadi menikah dalam waktu yang bersamaan tapi tidak tau siapa pasangan mereka kelak. Ian melihat tingkah aneh dari Alyssa yang mendadak malu-malu. Sepertinya Alyssa sudah salah menafsirkan perkataannya.


“Maksudku, bisa saja saat kau menikah, aku juga menikah di hari yang sama,” koreksi Ian.


Mendadak raut wajah Alyssa berubah muram.


“Oh, begitu,” gumamnya pelan sambil menunduk.


Ian mendekat ke arah Alyssa. Mengangkat dagu Alyssa dengan tangannya sehingga pandangan mereka bertemu.


“Kenapa selalu menunduk begitu? Tadi kau semangat sekali waktu mendengar aku bilang bisa jadi kita menikah bersama.”


“Emmm..i-itu...itu...” Alyssa nampak salah tingkah.


“Itu apa? Hm?”


Alyssa jadi semakin salah tingkah. Ia menggigit bibirnya bawahnya karena menahan malu.


“Tidak, bukan apa-apa,” jawab Alyssa dengan sangat pelan.


Ian menarik ujung bibirnya melihat tingkah wanita di depannya.


“Aku rasa aku tidak keberatan kalau memang kita harus menikah bersama,” ucap Ian, setelah itu ia pergi begitu saja meninggalkan Alyssa yang melongo mendengar ucapannya itu.


Apa maksudnya bicara seperti itu? Apa itu kode darinya? Ihhh, kenapa harus pakai kode segala sih? Tuan, katakan dengan jelas, katakan kalau kau mulai menyukai, jadi aku tidak menebak-nebak sendiri. Gerutu Alyssa dalam hati.


Alyssa melihat lagi bunga yang ada di tangannya. Lalu sebuah senyuman mengembang di wajahnya.