
Besoknya Adam dan Emilia langsung bertolak ke Italy tepatnya di Venesia dengan menggunakan jet pribadi milik Adam. Dari awal masuk ke dalam pesawat, Emilia tidak berhenti berdecak kagum. Makin kesini ia makin sadar bahwa ternyata suaminya itu adalah orang yang sangat kaya.
“Ini benar-benar punyamu?” tanya Emilia yang sudah duduk bersandar di samping Adam.
Adam tersenyum, lalu mengecup kening Emilia sekilas. “Bukan, ini punya kita,” jawab Adam dengan menekankan kata “kita".
Emilia pun tersenyum lalu menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. Ia sangat bahagia Adam begitu mencintainya dan dengan rela membagi semua miliknya pada Emilia.
***
Setelah menghabiskan waktu berjam-jam di udara, akhirnya tibalah mereka di Venesia, kota yang sangat terkenal dengan wisata airnya. Jika ingin menikmati wisata air, maka gondola adalah pilihan yang tepat untuk bersafari melalui jalur air disana.
Mereka tiba disana sekitar jam 2 siang. Setelah itu Adam mengajak Emilia menuju hotel yang terletak di pinggiran kanal besar disana. Dari balkon kamar, mereka dapat melihat dengan jelas transportasi air berlalu lalang membawa penumpang yang tak lain adalah turis maupun warga lokal.
Ah, Adam memang paling bisa membuat istrinya senang. Emilia berdiri di balkon memegang pagar pembatas yang terbuat dari besi untuk melihat keindahan kota Venesia dari tempat itu. Semilir angin yang menerpa rambutnya, membuatnya nyaman berada disana.
Padahal tadi kepalanya terasa agak pusing karena mungkin masih jetlag. Ia bahkan berencana untuk langsung tidur saat tiba di hotel. Tapi setelah melihat indahnya pemandangan kota Venesia dari balkon kamarnya, membuatnya lupa akan segala rasa lelahnya.
Adam melihat dari dalam kamar istrinya tengah berdiri di pinggiran balkon. Ia pun datang menyusul lalu memeluk pinggang ramping itu dari belakang. Emilia pun ikut memegang tangan Adam yang melingkar di perutnya.
“Kau suka?” bisik Adam tepat di belakang telinga Emilia.
Emilia menoleh ke belakang, membuat jarak yang sangat dekat antara wajahnya dan Adam.
“Terimakasih, Sayang. Aku sangat menyukainya,” jawab Emilia dengan lembut.
Jika biasanya Adam lah yang memulai lebih dulu, kali ini Emilia yang berinisiatif mengecup suaminya dengan sangat lembut. Adam pun tak tinggal diam. Satu tangannya bergerak ke belakang tengkuk Emilia agar lebih leluasa memperdalam ciumannya.
“Aku mencintaimu, Emilia. Terserah kalau kau harus bosan mendengarnya setiap saat. Tapi aku benar-benar mencintaimu. Dan aku akan selalu berusaha membuatmu bahagia, Sayangku,” ucap Adam dengan lirih tapi penuh kesungguhan.
“Aku juga mencintaimu, Adam. Sangat mencintaimu. Mana mungkin aku bosan mendengar kata cinta darimu sementara itulah yang selalu aku nantikan setiap waktu,” jawab Emilia dengan tulus.
Adam mengecup kening istrinya cukup lama lalu mendekap Emilia dengan sangat erat. Cahaya kebahagiaan terpancar dari wajah keduanya. Tak peduli sebanyak apa gondola yang berlalu lalang disana, bagi mereka hanya ada mereka berdua yang tengah merasakan indahnya dunia.
"Mau tidur sekarang? Kau pasti lelahkan?" tanya Adam yang masih mendekap istrinya. Sesekali tangannya mengusap-usap punggung Emilia.
"Sebentar lagi. Aku masih betah berada disini," jawab Emilia.
"Betah dimana? Di balkon ini atau di pelukanku?"
"Dua-duanya. Kalau berada di balkon ini tanpa pelukan darimu rasanya masih kurang."
"Ohhh, kau mulai menggodaku, ya?"
Emilia terkekeh. "Tidak, aku mengatakan yang sebenarnya."
Adam mencium gemas puncak kepala istrinya.
"Makin hari kau makin menggemaskan saja."
Emilia tak menjawab lagi. Ia makin mengeratkan pelukannya pada Adam.