
Besoknya Adam terbangun lebih dulu. Ia merasa haus sedangkan air minum di kamarnya sudah habis. Ia berjalan ke dapur untuk minum. Waktu itu masih menunjukkan pukul 6.30 pagi.
Adam mengambil gelas dari atas meja lalu mengisinya dengan air di dispenser. Adam pun meneguk segelas air sampai habis.
Saat ia ingin meletakkan gelas di wastafel, entah dari kapan ternyata Emelda sudah muncul disana.
“Adam,” sapa Emelda.
Adam tidak menjawab. Dia hanya melihat Emelda saja.
“Aku mau berterimakasih atas pertolongan semalam. Untung kau cepat membawaku ke rumah sakit, kalau tidak mungkin bayiku dalam keadaan bahaya,” ucap Emelda seraya mengelus-elus perutnya.
“Berterimakasihlah pada Emilia. Dia yang menolongmu, bukan aku,” sahut Adam.
Emilia lagi, Emilia lagi. Bisakah kau berhenti mengingatnya?
“Ah iya, tentu saja. Aku juga sudah berterimakasih padanya semalam. Aku... aku senang setidaknya kau tidak lagi marah padaku. Terimakasih karena masih peduli padaku meskipun aku pernah berbuat salah padamu. Kalau boleh jujur, aku sangat menyesal telah melakukan itu, aku minta maaf. Kalau boleh waktu diulang kembali, aku tentu tidak akan melakukan kesalahan bodohku.” Emelda kini sudah memasang wajah memelasnya untuk menarik perhatian Adam.
“Sudahlah jangan ingatkan aku pada masa lalu. Yang terjadi tidak akan bisa diubah. Aku sudah move on darimu, dari masa laluku, aku harap kau juga begitu. Setelah anakmu lahir, hiduplah bersamanya dengan bahagia.” Adam sudah malas membahas masa lalunya yang bikin dia sakit hati.
Sial*n! Bisa-bisanya dia katakan itu di depanku. Move on? Tidak, tidak semudah itu, Adam. Aku akan kembali mengingatkanmu pada kenangan saat kita bersama dulu. Dengan begitu kau tidak akan bisa melupakanku.
Emelda hanya tertunduk sedih. Ia tak lagi membalas perkataan Adam. Kalau dia membalasnya, bisa-bisa mereka malah bertengkar. Dia tau betul sifat Adam bagaimana.
Tiba-tiba saja Adam kembali bersuara.
“Sayang,” panggil Adam.
Deg. Jantung Emelda berdebar. Ia mengangkat kepalanya menatap Adam. Biasa kalau dia sedang ngambek dulu, Adam akan membujuknya dan memanggilnya dengan sebutan sayang. Apakah Adam sedang ingin membujuknya saat itu karena melihat wajahnya yang memelas?
“Sayang, kau sudah bangun sepagi ini?” Muncul suara lain dari arah belakang Emelda. Ternyata itu adalah Emilia yang baru masuk ke dapur.
Jadi, panggilan sayang itu bukan untukku? Tanya Emelda dalam hati. Jangan ditanya seberapa sakit rasa hatinya saat itu karena ia sempat berpikir yang Adam panggil sayang tadi adalah dirinya.
“Minuman di kamar habis, jadi aku bangun untuk minum,” jawab Adam.
“Oh, lain kali aku akan memeriksa stock minuman di kamarmu. Kalau habis akan aku isi lagi,” kata Emilia yang saat ini sudah berdiri di samping Emelda.
“Terimakasih, Sayang,” ucap Adam pada Emilia yang membuat hati Emelda semakin terbakar rasa cemburu.
“Kau juga sudah bangun Emelda?” tanya Emilia pada saudara kembarnya itu.
“Sudah. Aku tiba-tiba lapar, jadi aku ke dapur untuk melihat ada makanan apa yang bisa aku makan,” jawabnya berbohong.
“Kalau kau mau buah, banyak di kulkas. Aku baru mau buat sarapan. Enaknya sarapan apa, ya? Kalau sarapan nasi goreng bagaimana?” Emilia bergantian melihat Emelda dan Adam menunggu tanggapan mereka.
“Hmmmm terserah kau saja, asalkan tidak merepotkan,” jawab Adam.
“Nasi goreng? Sejak kapan kau suka sarapan nasi goreng? Waktu bersamaku dulu, kau pernah bilang tidak suka sarapan terlalu berat pagi hari, apalagi sarapan nasi. Kalau omelette saja bagaimana? Omelette dengan isian wortel, kacang polong dan keju. Kau suka itu kan Adam?” Emelda sengaja mulai memancing suasana. Ia sudah mulai menunjukkan pada Emilia kalau ia lebih mengenal Adam dari pada Emilia.
Emilia merasa tidak enak hati. Apalagi saat Emelda bilang waktu bersamanya dulu, seolah-olah dia belum move on dari Adam.
“Aku bisa makan apa saja sekarang,” jawab Adam. Dia tidak ingin mengecewakan Emilia lagi.
“Kau suka omelette dengan sayur dan keju?” tanya Emilia pula.
Pertanyaan jebakan. Aku harus hati-hati menjawabnya. Batin Adam.
“Aku...”
“Iya, dia sangat suka itu, Emilia. Tapi telurnya tidak terlalu matang. Dia suka yang teksturnya lembut dan tidak terlalu garing.” Emelda sengaja memotong pembicaraan Adam untuk memanasi Emilia.
Hati Emilia terasa berdenyut. Kenapa dia yang seolah jadi orang ketiga di antara mereka? Ia juga kesal kenapa dia tidak bertanya banyak tentang Adam. Emelda tau segalanya tentang Adam. Tapi dia, bahkan urusan sarapan saja dia sudah kalah dari Emelda.
“Baiklah sayang, hari ini aku akan membuatkan omelette untukmu. Kau sebaiknya mandi dan bersiap-siap untuk ke kantor. Setelah itu kita sarapan bersama.”
Emilia berusaha tenang meskipun hatinya sedang kesal. Adam tau apa yang dirasakan Emilia. Ia mengusap pipi Emilia sekilas lalu berbisik di telinganya,” Apapun yang kau masak akan aku makan. Yang penting pastikan tanganmu sendiri yang membuat makanan itu untukku.”
Barulah terlihat senyum mengembang di bibir Emilia. Adam cukup pandai membuat suasana hatinya baik kembali. Setelah itu Adam meninggalkan dapur dan masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap.
“Apa kau mau aku bantu? Aku tau omelette seperti apa yang Adam suka.” Emelda berusaha menawarkan bantuan. Padahal ia terus mencari celah agar bisa mengambil kesempatan mendekati Adam.
“Tidak perlu. Kalau sekedar omelette aku bisa membuatnya. Lagipula sejak kapan kau jadi suka memasak? Setauku dulu kau paling tidak suka ke dapur.” Emilia ingin tau apa reaksi Emelda ditanya seperti itu.
“Oh, begitu. Ya sudah aku mau masak dulu. Tadi kau bilang lapar, makanlah buah dulu. Aku masak sebentar, nanti kita makan sama-sama.”
Emilia tak menunggu jawaban Emelda lagi. Ia harus segera menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga. Kali ini ia tidak mau dibantu lagi. Sesuai permintaan Adam, ia yang akan membuat makanan untuk Adam dengan tangannya sendiri.
Setengah jam kemudian, sarapan pun sudah tertata di meja dan Adam sudah selesai berpakaian. Mereka mulai makan sarapan yang dibuat Emilia.
“Sayang, hari ini aku ijin keluar, ya. Mau ketemu sama Kak Serra,” kata Emilia disela-sela makannya.
“Serra yang datang ke rumah sakit waktu itu?” tanya Adam yang diangguki Emilia.
“Baiklah, nanti aku antar. Jam berapa mau ketemuannya?” tanya Adam.
“Tidak usah repot-repot mengantarku. Aku naik taksi saja. Kau kan harus kerja, Adam. Aku bisa sendiri. Aku mau bertemu dengannya nanti siang,” jawab Emilia.
“Kau yakin? Hari ini aku tidak ada meeting penting. Aku antar saja, ya?”
“Tidak usah. Aku bisa sendiri. Kau fokus bekerja saja. Cari uang yang banyak. Hihihi,” Emilia terkekeh sendiri dengan jawabannya.
Adam mengambil dompetnya dari saku celananaya lalu mengeluarkan sebuah kartu dan memberikannya kepada Emilia. Emelda melirik sekilas. Ia tak menyangka Adam akan seroyal itu pada Emilia sampai memberinya kartu ATM tanpa limit.
“Ini apa?” tanya Emilia sambil memegang kartu pemberian Adam.
“Kau tidak tau itu? Jangan bilang kau tidak punya rekening di Bank.”
“Aku tau ini kartu ATM mu. Tapi kenapa kau memberinya padaku?”
“Gunakan itu untuk keperluanmu. Mana tau nanti kau mau shopping sama Serra, pakailah kartu itu.”
“Aku rasa aku belum bisa menerimanya. Kita kan belum menikah, aku tidak punya hak menghamburkan uangmu. Lagipula aku masih punya uang simpananku sendiri.”
Emilia menggeser kartu ATM itu kembali ke arah Adam. Adam langsung menggenggam tangan Emilia yang sedang menggeser kartu ATM itu.
“Sayang, apa kau sudah tidak sabar ingin menikah denganku?” Adam mengedipkan matanya menatap Emilia.
“Haah? Bukan, bukan begitu maksudku. Aku tidak mau menghamburkan uangmu. Itu saja. Aku masih punya uang sendiri kok.” Ah, Adam senang sekali melihat wajah Emilia yang sedang memerah karena menahan malu.
“Simpanlah kartu ini, pakailah kalau memerlukannya. Tidak apa tidak dipakai sekarang, sebentar lagi juga kau akan menjadi istriku. Uangku akan jadi uangmu juga.”
Emilia tidak membantah lagi. Ia mengangguk lalu menarik tangannya beserta kartu ATM itu.
Istrimu? Tidak, aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Uangmu tidak akan jadi uangnya, tapi uangku. Kau dan semua yang kau miliki adalah milikku. Batin Emelda.
“Hmmmm Emilia, apa aku boleh ikut kau keluar? Aku agak bosan disini terus,” tanya Emelda tiba-tiba.
“Sebaiknya jangan dulu. Kau kan harus banyak istirahat kata dokter,” tolak Emilia.
“Emilia benar, daripada nanti kandunganmu kenapa-napa, lebih baik kau di sini saja. Kau bisa keluar jalan-jalan kalau kondisimu sudah lebih baik,” tambah Adam.
Emelda senang Adam perhatian juga ternyata kepadanya.
“Baiklah. Kalau sudah merasa baikan, aku ingin sekali jalan-jalan di taman tempat kita pacaran dulu. Sudah lama aku tidak kesana.” Lagi-lagi Emelda sengaja mengungkit kenangannya dengan Adam.
Adam terkejut mendengar perkataan Emelda. Ia spontan menoleh ke arah Emilia yang terlihat cemburu. Emilia sendiri mulai merasa aneh dengan sikap Emelda. Perasaan dari tadi dia terus mengungkit masa lalunya dengan Adam.
“Ah, maaf aku tidak bermaksud apa-apa, Emilia. Maaf kalau membuatmu salah paham,” ucap Emelda yang sedang berakting. Ia melihat perubahan raut wajah Emilia yang mulai terbakar cemburu.
“Aku tidak apa-apa. Itu cuma masa lalu,” sahut Emilia.
Adam menghela nafas lega mendengarnya. Tak lama Adam pun berpamitan pada Emilia untuk pergi ke kantornya.
“Nanti jangan pulang terlambat, ya. Usahakan pulang lebih dulu sebelum aku,” kata Adam.
“Baiklah, kerja yang rajin ya calon suamiku.”
“Pagi-pagi begini sudah menggodaku. Baiklah, aku pergi dulu.”
Adam mencium kening Emilia sebentar. Kali ini Emilia tidak menolaknya lagi. Setelah itu barulah Adam pergi ke kantornya.
Makin hari rasanya makin gerah saja Emelda melihat kemesraan Adam dan Emilia. Emelda bertekad untuk lebih gencar lagi mendekati Adam sampai Adam kembali ke pelukannya.
Aku tidak boleh buang-buang waktu. Aku akan terus mendekati Adam setiap hari bahkan setiap waktu sampai dia jatuh dalam pelukanku.