
Pagi itu di gedung lantai dasar ERS-company, yaitu perusahaan Adam, beberapa karyawan terlihat hiruk pikuk mondar mandir menyiapkan kejutan untuk menyambut kedatangan bos besar mereka, Adam, dan sang istri, Emilia.
Mereka mendekor lantai dasar itu dengan bunga-bunga indah berwarna putih dan pink serta ucapan selamat pengantin baru yang menempel di dinding. Tak ketinggalan foto pernikahan Adam dan Emilia yang terpampang di sebuah standing banner, serta sebuah cake pengantin berwarna putih dengan hiasan berwarna gold bertengger cantik di atas meja.
Semua terlihat sangat antusias. Hanya satu orang yang dari tadi hanya duduk diam di atas sofa yang ada disana. Dia adalah Ian. Sejak kejadian siang kemarin, Ian lebih banyak diam. Bukan berarti dia tidak bahagia menyambut kedatangan Adam dan Emilia, dia bahagia, tapi ia hanya sedang patah hati saja setelah mengetahui Alyssa sudah memiliki kekasih.
Semua terlihat bahagia menyambut Tuan Adam dan Nona Emilia. Mereka memang orang-orang baik. Kisah cinta mereka juga cukup rumit sampai bisa ke tahap ini. Aku harap setelah ini mereka akan selalu bahagia dengan anak-anak mereka nantinya.
Semoga suatu hari nanti aku juga bisa menemukan wanita yang tepat untukku. Wanita yang juga mencintaiku seperti Nona Emilia yang mencintai Tuan Adam tanpa ada pria lain di antara mereka.
Ian kembali mengingat kejadian dimana ia begitu bersemangat datang ke rumah sakit untuk mengajak Alyssa makan siang, tapi yang ia lihat malah Alyssa sedang bermesraan dengan pria lain. Masih jelas di ingatannya bagaimana Alyssa tertawa begitu lepas dengan pria itu. Sangat berbeda jika Alyssa berada di dekatnya. Alyssa lebih banyak diam dan selalu menunduk.
“Tuan, mobil Tuan Adam sudah sampai,” kata salah satu karyawan membuyarkan lamunan Ian.
“Oh, baiklah.”
Ian pun beranjak dari duduknya dan menghampiri mobil Adam yang baru saja berhenti di depan pintu utama perusahaan. Ian segera membuka pintu belakang mobil. Setelah itu Adam keluar dari mobil disusul oleh Emilia yang langsung menyambut uluran tangan Adam.
“Selamat pengantin baruuu.........” seru para karyawan secara kompak saat Adam dan Emilia masuk melewati pintu.
Adam dan Emilia tak menyangka mereka akan disambut semeriah itu. Dekorasi yang indah berhasil membuat keduanya tertegun. Lalu cake pengantin di atas meja beroda didorong ke arah Adam dan Emilia.
“Selamat atas pernikahan Tuan dan Nyonya Adam, semoga berbahagia selalu,” ucap salah satu manajer disana yaitu Bertha.
“Terimakasih ya, Bu. Tapi panggil Emilia saja seperti biasa,” sahut Emilia.
“Sekarang kan statusnya sudah resmi menjadi istri Tuan Adam, secara otomatis kami akan memanggil dengan panggilan Nyonya Adam.”
Emilia melirik sang suami yang berdiri tepat di sebelahnya. Adam pun mengangguk tanda menyetujui. Adam lalu berbisik, "Selamat datang di ERS-Company, Nyonya Adam Smith."
Emilia pun membalas suaminya dengan sebuah senyuman bahagia.
“Baiklah. Ibu bisa memanggil saya dengan panggilan itu. Sekali lagi terimakasih atas doa dan ucapannya.”
Bertha pun mengangguk dan memberi kesempatan yang lain untuk memberikan ucapan selamat.
Dari sekian banyak karyawan disana, mata Adam tertuju pada asistennya, yaitu Ian. Adam merasa ada yang lain dari raut wajah asistennya itu. Apakah Ian terharu atas pernikahannya sampai raut wajahnya seperti itu? Ah, tapi sepertinya tidak. Kemarin saat acara pernikahan Ian tampak sangat bahagia atas pernikahannya.
Sekarang Ian terlihat lebih diam dan wajahnya tampak mendung. Bahkan Adam sempat melihat Ian menyeka airmata yang hampir menetes dari ujung mata pria yang selalu setia bersamanya itu.
Adam tidak tau saja bahwa asistennya itu baru saja patah hati sebelum sempat menyatakan perasaannya pada dokter Alyssa. Melihat Adam dan Emilia yang tengah berbahagia membuat Ian menginginkan hal yang sama. Tapi apalah daya, cintanya kandas sebelum sempat berlabuh di dermaga.