
Adam masih berada di kamar Emilia. Saat ini mereka sedang duduk saling berhadapan dengan kening yang saling menyatu. Adam meletakkan tangannya di sisi kanan dan kiri pinggang Emilia, sementara Emilia menaruh tangannya di pundak Adam.
“Emilia,” panggil Adam dengan lembut. Jarak sedekat itu membuat Emilia bisa menghirup aroma mint yang menggoda dari nafas Adam.
“Hmm. Kenapa?” tanya Emilia yang malu menatap wajah Adam.
"Maafkan aku sempat membuatmu salah paham tadi," jawab Adam.
"Tidak apa-apa. Aku juga minta maaf sudah menuduhmu macam-macam," kata Emilia.
“Emilia, kau tau, rasanya aku ingin menikahimu malam ini juga.”
“Kenapa? Malam-malam begini kantor urusan pernikahan tidak ada yang buka.”
“Aku akan memaksa mereka buka kalau memang kau menyetujuinya.”
Emilia menjauhkan keningnya. Ia kebingungan menatap Adam.
“Kenapa kau tiba-tiba ingin menikahiku?”
“Kau masih tanya? Kau sudah menggodaku, jadi kau harus tanggung jawab.”
“Memangnya kapan aku menggodamu?”
Adam menarik Emilia agar semakin dekat dengannya.
“Jadi yang tadi tiba-tiba menciumku duluan siapa? Hmmm? Masih bilang itu tidak menggodaku? Kau membuatku ingin memilikimu sekarang juga.”
Emilia jadi canggung. Kenapa tiba-tiba bulu kuduknya merinding ya mendengar ucapan Adam barusan?
“A-aku tidak tau kau jadi tergoda,” ucap Emilia terbata.
“Ya sudah, karena kau menggodaku jadi kau harus tanggung jawab,” kata Adam sambil meletakkan kepalanya di pundak Emilia.
Emilia merasa risih lalu mendorong kepala Adam dengan pelan agar menjauh dari pundaknya.
“Adam, aku rasa kau harus segera kembali ke kamarmu sebelum kau makin bertindak aneh.”
“Tapi aku mau bertindak aneh sekarang. Gimana dong?” kata Adam dengan suara manjanya.
“Kau jangan macam-macam, ya! Ingat, tidak boleh melewati batas. Kita kan belum menikah,” ketus Emilia sambil memasang wajah sangarnya.
“Memangnya aku mau macam-macam seperti apa?” goda Adam.
“Ya....seperti itu,” jawab Emilia salah tingkah.
“Seperti apa?” tanya Adam lagi sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Emilia.
“Itu...seperti...” Wajah Emilia sudah memerah menahan malu. Ia begitu berat melanjutkan perkataannya.
“Seperti ini bukan?” tanya Adam lalu ia kembali mencium bibir Emilia dengan sangat lembut sebentar.
Emilia hanya mematung dibuatnya. Jantungnya berdetak tak karuan. Padahal ini bukan yang pertama kali, tapi tetap saja ia tak bisa mengendalikan perasaannya untuk tidak gugup saat melakukannya.
“Seperti itukah maksudmu?” tanya Adam lagi setelah melepaskan ciumannya.
Emilia masih belum bereaksi apa-apa. Hal itu membuat Adam tidak tahan untuk melakukannya lagi.
Adam kembali meraih bibir Emilia yang sangat membuatnya tergila-gila. Emilia ikut terbawa suasana dan membalas ciuman itu hingga tangannya sudah melingkar di leher Adam.
Adam yang mendapat signal baik dari Emilia tentu saja sangat senang dan terus memperdalamnya. Nafas keduanya kian memburu. Adam benar-benar tak kuasa menahan diri lagi. Ia secara spontan menjatuhkan Emilia hingga terbaring tanpa melepaskan ciumannya.
Mendapat perlakuan seperti itu membuat Emilia terkejut dan mengembalikan akal sehatnya. Ia mendorong Adam sekuat tenaga dan keduanya duduk kembali seperti semula.
“Adam, please jangan dulu,” pinta Emilia dengan nafas yang tersengal.
Adam pun serasa baru kembali akal sehatnya. Ia menghela nafas dengan berat. Ia sadar ia sudah keterlaluan.
“Sayang, aku minta maaf. Aku hanya terbawa suasana. Maaf kalau aku menyakitimu,” ucap Adam dengan tulus.
“Tidak apa-apa. Aku juga salah. Sebaiknya kau kembali ke kamarmu sekarang.”
“Baiklah, aku akan kembali ke kamar sekarang. Tapi kalau memang kau mau lanjutkan, aku sih bersedia saja,” kata Adam sambil terkekeh. Lalu Emilia mencubit lengannya dengan kuat.
“Awww...sakit, Sayang. Ini KDRT namanya,” ringis Adam.
“Makanya kau jangan macam-macam! Sudah cepat sana pergi!” usir Emilia sambil mendorong Adam.
“Iya, iya, aku pergi. Selamat malam, Sayang. Cepat tidur dan jangan menangis lagi.”
“Iya, baiklah. Selamat malam.”
Adam melangkahkan kakinya menuju pintu, tapi ia berbalik lagi saat Emilia memanggilnya.
“Adam.”
“Iya. Kenapa? Kau berubah pikiran?” tanya Adam penuh harap.
“Tidak, aku mau bilang jangan lupa tutup kembali pintunya,” jawab Emilia sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Wahhh, kau sepertinya memang ingin menguji imanku, ya. Tunggu pembalasanku nanti di malam pertama kita.”
Emilia hanya terkekeh mendengar ancaman Adam. Kemudian Adam segera keluar dari kamar Emilia, menutup pintu kamar, lalu bersandar di pintu.
“Hahhh, bisa-bisanya dia membuatku gila! Awas kau nanti, Emilia.” Adam menggeleng-gelengkan kepala lalu pergi masuk ke kamarnya.
Sementara itu Emilia di kamar tidak berhenti tersenyum sendiri. Ia berbaring menyamping dan memeluk gulingnya erat-erat seolah yang dipeluk adalah Adam.
“Kau lelaki pertama yang berhasil mengaduk-aduk perasaanku, Adam. Kau bisa membuatku menangis, tapi setelah itu kau juga yang bisa membuatku senyum-senyum sendiri seperti ini. Aku rasa hatiku sudah sepenuhnya milikmu, karena aku benar-benar mencintaimu.”
***
Lain halnya dengan Adam dan Emilia yang tengah berbahagia, di kamar lain ada seorang wanita yang sedang menangis sesenggukan di atas ranjangnya. Wanita itu adalah Emelda. Dia belum berhenti menangis dari tadi setelah mendapat penolakan secara terang-terangan dari Adam.
"Kenapa kau menolakku, Adam? Kenapa Emilia bisa menggantikan posisiku di hatimu? Sekarang aku harus bagaimana lagi? Aku sedang hamil dan tak ada satupun yang mengasihaniku. Bahkan Darius pun entah kapan akan keluar dari penjara. Anak ini butuh ayah. Dan aku ingin kau yang menjadi ayah dari anakku, Adam," gumam Emelda sendirian. Terlihat ada keseriusan di matanya saat mengucapkan itu.
Seolah ada ikatan batin, Darius yang tengah berbaring sambil menatap langit-langit kamar penjara itu tiba-tiba teringat akan Emelda. Entah kenapa dia merasa rindu sekali pada Emelda dan calon bayi yang ada di kandungannya.
Emelda, bagaimana kabarmu di luar sana bersama anakku? Aku yakin kau pasti kerepotan menjalani kehamilanmu sendirian. Maafkan aku, Emelda. Aku telah bertindak bodoh sehingga kau juga ikut menanggung akibatnya...
Saat ini aku sangat merindukanmu, Emelda. Aku ingin sekali mengusap-usap punggungmu agar kau bisa tidur dengan nyenyak malam ini.
Tes. Setetes airmata mengalir begitu saja dari sudut matanya saat mengingat Emelda. Dia sangat rindu pada wanitanya itu saat ini.